IRT Diajak Lebih Bijak Kelola Uang di Tengah Risiko Ekonomi dan Digital
Tri Yari Kurniawan
Rabu, 20 Mei 2026 - 17:43 WIB
Tiga Warna Media Network menggelar forum edukasi bertajuk “Bincang Ekonomi: Mengelola Uang di Tengah Dinamika Global, Seberapa Aman Tabungan Kita?” di Makassar Creative Hub. Foto/IST
Di tengah ketidakpastian ekonomi global, Tiga Warna Media Network menggelar forum edukasi bertajuk “Bincang Ekonomi: Mengelola Uang di Tengah Dinamika Global, Seberapa Aman Tabungan Kita?” di Makassar Creative Hub, kawasan Pantai Losari, Makassar, Rabu (20/5/2026). Kegiatan ini dihadiri sekitar seratusan peserta, mayoritas ibu rumah tangga (IRT), yang antusias mengikuti diskusi literasi keuangan.
Forum ini menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Makassar. Diskusi dipandu oleh moderator A Widya Syadzwina dan menjadi ruang dialog terbuka terkait keamanan tabungan serta pengelolaan keuangan keluarga.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Makassar, Muhammad Roem, yang menyoroti meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan dana di tengah derasnya arus informasi. “Hari ini kita berbicara tentang seberapa aman tabungan kita. Pertanyaan ini sekarang paling sering muncul di masyarakat karena banyak informasi yang membuat orang khawatir terhadap keamanan dana mereka di tabungan," ujar dia.
Roem juga menekankan pentingnya literasi keuangan di tingkat keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga. “Kalau bicara pengelolaan ekonomi keluarga, ibu-ibu memang paling handal. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting,” ujarnya, sekaligus mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, media, dan lembaga keuangan dalam meningkatkan pemahaman publik.
Dari sisi ekonomi, Ekonom Senior Bank Indonesia Sulsel, Arief Noor Rachman, menjelaskan bahwa ekonomi global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan tekanan pasar internasional. Ia menyebut salah satu dampaknya adalah penguatan dolar AS karena kecenderungan masyarakat global menyimpan aset dalam mata uang tersebut.
“Ketidakpastian global membuat masyarakat cenderung menyimpan aset dalam bentuk dolar Amerika, yang menjadi salah satu penyebab penguatan kurs dolar terhadap rupiah,” jelas Arief. Meski demikian, ia menegaskan ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama.
Arief juga memastikan bahwa sistem keuangan nasional masih dalam kondisi sehat. “Bank Indonesia bertugas memastikan agar sektor perbankan tetap sehat dan stabil sehingga tabungan masyarakat terjaga,” katanya, seraya menekankan pentingnya kepercayaan publik terhadap sistem perbankan formal.
Forum ini menghadirkan narasumber dari Bank Indonesia Sulawesi Selatan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulselbar, dan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Makassar. Diskusi dipandu oleh moderator A Widya Syadzwina dan menjadi ruang dialog terbuka terkait keamanan tabungan serta pengelolaan keuangan keluarga.
Kegiatan dibuka oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Pemerintah Kota Makassar, Muhammad Roem, yang menyoroti meningkatnya kekhawatiran masyarakat terhadap keamanan dana di tengah derasnya arus informasi. “Hari ini kita berbicara tentang seberapa aman tabungan kita. Pertanyaan ini sekarang paling sering muncul di masyarakat karena banyak informasi yang membuat orang khawatir terhadap keamanan dana mereka di tabungan," ujar dia.
Roem juga menekankan pentingnya literasi keuangan di tingkat keluarga, terutama bagi ibu rumah tangga. “Kalau bicara pengelolaan ekonomi keluarga, ibu-ibu memang paling handal. Karena itu edukasi seperti ini sangat penting,” ujarnya, sekaligus mengapresiasi kolaborasi antara pemerintah, media, dan lembaga keuangan dalam meningkatkan pemahaman publik.
Dari sisi ekonomi, Ekonom Senior Bank Indonesia Sulsel, Arief Noor Rachman, menjelaskan bahwa ekonomi global saat ini masih dipenuhi ketidakpastian akibat konflik geopolitik dan tekanan pasar internasional. Ia menyebut salah satu dampaknya adalah penguatan dolar AS karena kecenderungan masyarakat global menyimpan aset dalam mata uang tersebut.
“Ketidakpastian global membuat masyarakat cenderung menyimpan aset dalam bentuk dolar Amerika, yang menjadi salah satu penyebab penguatan kurs dolar terhadap rupiah,” jelas Arief. Meski demikian, ia menegaskan ekonomi Indonesia tetap tumbuh stabil dengan konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama.
Arief juga memastikan bahwa sistem keuangan nasional masih dalam kondisi sehat. “Bank Indonesia bertugas memastikan agar sektor perbankan tetap sehat dan stabil sehingga tabungan masyarakat terjaga,” katanya, seraya menekankan pentingnya kepercayaan publik terhadap sistem perbankan formal.