Telkom Rampungkan Streamlining 10 Anak Usaha, Kebut Transformasi ke Strategic Holding
Tri Yari Kurniawan
Selasa, 07 Juli 2026 - 10:45 WIB
Penyelesaian streamlining 10 entitas jadi tonggak penting transformasi Telkom menuju Strategic Holding guna memperkuat sinergi, tata kelola, & penciptaan nilai di seluruh bisnis TelkomGroup. Foto/IST
PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (Telkom) menuntaskan penyederhanaan (streamlining) terhadap 10 entitas anak usaha pada semester pertama 2026. Langkah ini menjadi bagian dari strategi transformasi TLKM 30 sekaligus mendukung agenda penyederhanaan BUMN yang diamanatkan Danantara Asset Management (DAM) dan Badan Pengaturan (BP) BUMN.
Program streamlining merupakan satu dari empat pilar transformasi TLKM 30 yang berfokus pada penataan portofolio bisnis melalui optimalisasi entitas usaha, harmonisasi bisnis yang tumpang tindih, serta divestasi bisnis non-inti. Melalui langkah ini, Telkom ingin membangun struktur organisasi yang lebih ramping, efisien, dan mampu menciptakan nilai yang lebih tinggi.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, penataan portofolio juga diharapkan memperkuat fokus investasi perusahaan pada pengembangan bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital. Streamlining dilakukan melalui tiga skema, yakni divestasi, merger, dan likuidasi.
Transformasi tersebut menjadi fondasi bagi perubahan Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo). Dalam model ini, Telkom sebagai HoldCo akan berfokus pada pengelolaan portofolio, penguatan tata kelola, penciptaan sinergi, dan optimalisasi nilai antarsegmen bisnis. Sementara itu, operasional bisnis dijalankan oleh masing-masing OpCo yang berfokus pada segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International Business.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan penyederhanaan portofolio merupakan langkah strategis untuk membangun organisasi yang lebih lincah menghadapi dinamika industri digital.
"Transformasi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan kapabilitas bisnis, tetapi juga keberanian menata kembali organisasi agar semakin fokus pada bisnis inti yang menjadi kekuatan utama. Dengan struktur yang lebih ramping, Telkom memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak lebih agile, mengalokasikan investasi secara lebih optimal, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas," ujar Seno.
Hingga akhir Juni 2026, Telkom telah menyelesaikan streamlining terhadap 10 entitas melalui sejumlah aksi korporasi. Dari jumlah tersebut, dua entitas didivestasikan yang ditandai dengan penandatanganan Sale and Purchase Agreement (SPA) bersama mitra strategis pada 3 Juni 2026.
Program streamlining merupakan satu dari empat pilar transformasi TLKM 30 yang berfokus pada penataan portofolio bisnis melalui optimalisasi entitas usaha, harmonisasi bisnis yang tumpang tindih, serta divestasi bisnis non-inti. Melalui langkah ini, Telkom ingin membangun struktur organisasi yang lebih ramping, efisien, dan mampu menciptakan nilai yang lebih tinggi.
Selain meningkatkan efisiensi operasional, penataan portofolio juga diharapkan memperkuat fokus investasi perusahaan pada pengembangan bisnis inti di sektor telekomunikasi dan digital. Streamlining dilakukan melalui tiga skema, yakni divestasi, merger, dan likuidasi.
Transformasi tersebut menjadi fondasi bagi perubahan Telkom dari Operating Holding menuju Strategic Holding dengan model Holding Company-Operating Company (HoldCo-OpCo). Dalam model ini, Telkom sebagai HoldCo akan berfokus pada pengelolaan portofolio, penguatan tata kelola, penciptaan sinergi, dan optimalisasi nilai antarsegmen bisnis. Sementara itu, operasional bisnis dijalankan oleh masing-masing OpCo yang berfokus pada segmen B2C, B2B Infrastructure, B2B ICT, dan International Business.
Direktur Strategic Business Development & Portfolio Telkom, Seno Soemadji, mengatakan penyederhanaan portofolio merupakan langkah strategis untuk membangun organisasi yang lebih lincah menghadapi dinamika industri digital.
"Transformasi tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan kapabilitas bisnis, tetapi juga keberanian menata kembali organisasi agar semakin fokus pada bisnis inti yang menjadi kekuatan utama. Dengan struktur yang lebih ramping, Telkom memiliki fondasi yang lebih kuat untuk bergerak lebih agile, mengalokasikan investasi secara lebih optimal, serta menciptakan pertumbuhan yang lebih berkualitas," ujar Seno.
Hingga akhir Juni 2026, Telkom telah menyelesaikan streamlining terhadap 10 entitas melalui sejumlah aksi korporasi. Dari jumlah tersebut, dua entitas didivestasikan yang ditandai dengan penandatanganan Sale and Purchase Agreement (SPA) bersama mitra strategis pada 3 Juni 2026.