PT Vale Tunjukkan Ketahanan Bisnis di Tengah Tantangan Operasional
Tri Yari Kurniawan
Sabtu, 02 Mei 2026 - 13:46 WIB
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, PT Vale membukukan laba bersih sebesar US$43,6 juta, meningkat signifikan dari US$23,6 juta pada triwulan IV 2025. Foto/Istimewa
PT Vale Indonesia Tbk berhasil membukukan pertumbuhan kinerja keuangan yang kuat pada triwulan pertama 2026. Di tengah penurunan produksi dan penjualan nikel matte akibat pemeliharaan terjadwal serta pembangunan kembali fasilitas produksi, perusahaan justru mencatat lonjakan laba bersih hingga 85 persen dibandingkan triwulan sebelumnya.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, PT Vale membukukan laba bersih sebesar US$43,6 juta, meningkat signifikan dari US$23,6 juta pada triwulan IV 2025. EBITDA perusahaan juga tumbuh 29 persen menjadi US$80,1 juta, sementara pendapatan tercatat mencapai US$252,7 juta.
Pencapaian tersebut diraih meski volume produksi nikel matte turun menjadi 13.620 metrik ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan produksi pada triwulan IV 2025 yang mencapai 17.052 ton maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17.027 ton. Penjualan nikel matte juga menurun menjadi 13.727 ton dari sebelumnya 18.418 ton.
Perseroan menjelaskan, penurunan produksi telah sesuai dengan rencana operasional perusahaan. Hal itu dipengaruhi oleh pelaksanaan pemeliharaan berkala, proyek pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester I 2026, serta proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Meski demikian, PT Vale memastikan target produksi sepanjang tahun sebesar 67.645 ton tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan.
Tahun 2026 juga menjadi tonggak penting bagi perusahaan dengan mulai beroperasinya tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Kontribusi dari pengembangan bisnis tersebut mulai terlihat. Blok Bahodopi mencatat penjualan bijih nikel saprolit sebesar 886.094 wet metric ton (wmt), sedangkan Blok Pomalaa membukukan penjualan bijih nikel limonit sebanyak 88.983 wmt. Penjualan perdana limonit dari Pomalaa pada awal tahun menjadi langkah strategis dalam memperluas sumber pendapatan perusahaan.
Sepanjang Januari hingga Maret 2026, PT Vale membukukan laba bersih sebesar US$43,6 juta, meningkat signifikan dari US$23,6 juta pada triwulan IV 2025. EBITDA perusahaan juga tumbuh 29 persen menjadi US$80,1 juta, sementara pendapatan tercatat mencapai US$252,7 juta.
Pencapaian tersebut diraih meski volume produksi nikel matte turun menjadi 13.620 metrik ton. Angka ini lebih rendah dibandingkan produksi pada triwulan IV 2025 yang mencapai 17.052 ton maupun periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 17.027 ton. Penjualan nikel matte juga menurun menjadi 13.727 ton dari sebelumnya 18.418 ton.
Perseroan menjelaskan, penurunan produksi telah sesuai dengan rencana operasional perusahaan. Hal itu dipengaruhi oleh pelaksanaan pemeliharaan berkala, proyek pembangunan kembali Furnace 3 yang ditargetkan rampung pada semester I 2026, serta proses persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) 2026.
Meski demikian, PT Vale memastikan target produksi sepanjang tahun sebesar 67.645 ton tetap berada pada jalur yang telah ditetapkan.
Tahun 2026 juga menjadi tonggak penting bagi perusahaan dengan mulai beroperasinya tiga blok tambang secara bersamaan, yakni Sorowako, Bahodopi, dan Pomalaa.
Kontribusi dari pengembangan bisnis tersebut mulai terlihat. Blok Bahodopi mencatat penjualan bijih nikel saprolit sebesar 886.094 wet metric ton (wmt), sedangkan Blok Pomalaa membukukan penjualan bijih nikel limonit sebanyak 88.983 wmt. Penjualan perdana limonit dari Pomalaa pada awal tahun menjadi langkah strategis dalam memperluas sumber pendapatan perusahaan.