Didukung Ekosistem Digital, Gula Aren Lokal Menapaki Pasar Global
Tri Yari Kurniawan
Rabu, 15 April 2026 - 16:41 WIB
Pendiri Dainichi Muhammad Ridwan alias Wawan memperlihatkan ragam produk gula aren serta kanal Dainichi di platform e-commerce Shopee saat ditemui SINDO Makassar, belum lama ini. Foto/Tri Yari Kurniaw
Setiap hari, puluhan hingga ratusan paket gula aren meninggalkan rumah produksi Dainichi di Makassar. Sebagiannya menuju kedai kopi, bakery, toko ritel, dan rumah tangga di berbagai daerah. Sebagian lain menemukan pembelinya melalui layar ponsel.
Di balik kemasan gula aren cair, bubuk, hingga gula aren berbentuk kubus itu, tersimpan perjalanan sebuah usaha kecil yang berawal dari persoalan sederhana. Bermula dari keresahan melihat gula merah petani di pelosok Bone yang tak terserap pasar.
Kini, Dainichi bukan lagi sekadar pengolah gula aren. Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu telah menjadi salah satu pemasok utama gula aren untuk pelaku usaha minuman dan makanan di Makassar serta kawasan Indonesia Timur. Berdasarkan data perusahaan, produknya telah digunakan sekitar 2.500 kedai kopi, 90 bakery, dan 60 toko ritel.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya dibangun melalui jaringan distribusi konvensional. Media sosial, marketplace, promosi digital, program afiliasi, hingga fitur interaktif menjadi bagian dari strategi Dainichi mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih jauh.
Founder Dainichi, M Ridwan alias Wawan, memulai perjalanan itu pada 2019. Ketika itu, ia masih bekerja sebagai pengawas proyek pada perusahaan kontraktor. Dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Bone, ia melihat persoalan yang berulang di sentra produksi aren Kecamatan Bontocani.
Petani menghasilkan gula merah, tetapi tidak selalu menemukan pembeli. Sebagian produksi bahkan berakhir rusak karena terlalu lama tersimpan.
Bagi Wawan, persoalannya bukan semata-mata kualitas bahan baku. Produk yang dihasilkan petani belum memiliki nilai tambah dan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang sedang tumbuh.
Di balik kemasan gula aren cair, bubuk, hingga gula aren berbentuk kubus itu, tersimpan perjalanan sebuah usaha kecil yang berawal dari persoalan sederhana. Bermula dari keresahan melihat gula merah petani di pelosok Bone yang tak terserap pasar.
Kini, Dainichi bukan lagi sekadar pengolah gula aren. Produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) itu telah menjadi salah satu pemasok utama gula aren untuk pelaku usaha minuman dan makanan di Makassar serta kawasan Indonesia Timur. Berdasarkan data perusahaan, produknya telah digunakan sekitar 2.500 kedai kopi, 90 bakery, dan 60 toko ritel.
Pertumbuhan tersebut tidak hanya dibangun melalui jaringan distribusi konvensional. Media sosial, marketplace, promosi digital, program afiliasi, hingga fitur interaktif menjadi bagian dari strategi Dainichi mempertemukan produk lokal dengan konsumen yang lebih jauh.
Founder Dainichi, M Ridwan alias Wawan, memulai perjalanan itu pada 2019. Ketika itu, ia masih bekerja sebagai pengawas proyek pada perusahaan kontraktor. Dalam perjalanan pulang ke kampung halamannya di Kabupaten Bone, ia melihat persoalan yang berulang di sentra produksi aren Kecamatan Bontocani.
Petani menghasilkan gula merah, tetapi tidak selalu menemukan pembeli. Sebagian produksi bahkan berakhir rusak karena terlalu lama tersimpan.
Bagi Wawan, persoalannya bukan semata-mata kualitas bahan baku. Produk yang dihasilkan petani belum memiliki nilai tambah dan bentuk yang sesuai dengan kebutuhan pasar yang sedang tumbuh.