home ekbis

Menjaga Nadi Ekonomi Sulawesi Selatan di Tengah Gejolak Global

Selasa, 01 September 2026 - 19:47 WIB
Kepala Perwakilan BI Sulsel, Rizki Ernadi Wimanda, memaparkan pertumbuhan ekonomi dan perkembangan inflasi Sulsel pada acara media engagement pada akhir Agustus 2026. Foto/Istimewa
Jarak ribuan kilometer tidak selalu mampu memisahkan Sulawesi Selatan (Sulsel) dari gejolak ekonomi dunia. Perang di belahan dunia lain dapat mendorong harga energi. Gangguan jalur perdagangan bisa menghambat pasokan pangan. Dinamika pasar keuangan global pun berpotensi merembes ke investasi dan aktivitas usaha di daerah.

Dampaknya mungkin bermula dari pusat-pusat ekonomi dunia. Namun, pada akhirnya, riaknya dapat terasa hingga ke pasar tradisional, pelaku usaha, bahkan meja makan rumah tangga.

Di tengah ketidakpastian tersebut, ekonomi Sulsel mampu bertahan dan terus tumbuh. Kuncinya adalah kolaborasi lintas sektor. Bank Indonesia (BI) Sulsel bersama pemerintah daerah menjaga inflasi, memastikan pasokan pangan, memetakan risiko, sekaligus memperkuat berbagai sumber pertumbuhan ekonomi.

Kolaborasi itu juga melibatkan pelaku usaha, perbankan, dan masyarakat. Masing-masing memiliki peran untuk memastikan guncangan dari luar tidak berkembang menjadi tekanan yang lebih besar di dalam daerah.

Toh, ketangguhan ekonomi bukan berarti daerah terbebas dari tekanan. Sebaliknya, ketangguhan terlihat dari kemampuan menyerap guncangan, beradaptasi, dan menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan.

Kinerja ekonomi Sulsel menunjukkan hal tersebut. Secara kumulatif, ekonomi Bumi Anging Mammiri tumbuh 6,22 persen dan tetap berada di atas pertumbuhan ekonomi nasional. Posisi ini menegaskan peran Sulsel sebagai salah satu mesin utama perekonomian di kawasan Sulawesi.

Pertumbuhan tersebut merupakan hasil dari proses pemulihan yang panjang. Pada 2020, ekonomi Sulsel terkontraksi 0,71 persen akibat pandemi. Setahun kemudian, ekonomi kembali tumbuh 4,64 persen, lalu meningkat menjadi 5,10 persen pada 2022. Pertumbuhan sempat melambat menjadi 4,51 persen pada 2023 sebelum kembali menguat menjadi 5,02 persen pada 2024 dan 5,43 persen pada 2025.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya