home ekbis

Investor Pasar Modal di Sulsel Tumbuh Double Digit, Partisipasi Daerah Meluas

Minggu, 08 November 2026 - 14:56 WIB
Pengrajin rotan mengakses informasi mengenai pasar modal di Indonesia lewat aplikasi IDX Mobile dari PT Bursa Efek Indonesia (BEI) di Kabupaten Pangkep, Sulsel. Foto/Maman Sukirman
Investasi pasar modal tak lagi didominasi masyarakat perkotaan. Di Sulawesi Selatan (Sulsel), jumlah investor terus bertambah hingga menjangkau berbagai kabupaten. Hingga September 2026, jumlah investor pasar modal di provinsi ini mencapai 857.702 Single Investor Identification (SID) atau tumbuh 63 persen sepanjang tahun. Bahkan, 72 persen investor tercatat berasal dari luar Kota Makassar.

Kepala Wilayah Sulsel dan Sulbar Kantor Perwakilan Bursa Efek Indonesia (BEI) Sulsel, Alberto Fasaamuri Dachi, mengatakan pertumbuhan tersebut mencerminkan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap investasi. Transformasi pasar modal melalui digitalisasi layanan, pengembangan infrastruktur perdagangan, peningkatan transparansi, dan perluasan edukasi turut mendorong partisipasi masyarakat.

Ia mengatakan pilihan instrumen investasi juga semakin beragam. Hingga Oktober 2026, BEI mencatat 962 efek saham, 495 waran terstruktur, 48 exchange traded fund (ETF), 17 produk futures, dan tujuh ETF Emas yang dapat diperdagangkan. Ragam instrumen itu memungkinkan masyarakat memilih produk sesuai profil risiko dan tujuan keuangan.

Pertumbuhan investor juga mulai merata di sejumlah daerah. Makassar mencatat penambahan 70.429 investor baru, disusul Kabupaten Gowa sebanyak 33.734 investor, Bone 23.635 investor, dan Bulukumba 15.117 investor. Secara nasional, jumlah investor pasar modal per September 2026 mencapai 31.974.459 orang, meningkat 57 persen sepanjang tahun.

"Pertumbuhan jumlah investor merupakan indikator positif meningkatnya inklusi keuangan masyarakat. Di Sulawesi Selatan, perkembangan ini terlihat dari semakin luasnya jangkauan investor yang tidak hanya terkonsentrasi di Kota Makassar, tetapi juga tumbuh di berbagai kabupaten dan kota lainnya," kata dia, kepada SINDO Makassar, awal November 2026.

Menurut Alberto, perkembangan ini menjadi peluang sekaligus tantangan bagi BEI untuk memperluas literasi dan inklusi keuangan hingga ke tingkat kabupaten dan kota. Meski akses investasi semakin terbuka, pertumbuhan jumlah investor harus diimbangi pemahaman terhadap produk dan risikonya. Kepemilikan rekening belum tentu mencerminkan kemampuan seseorang mengambil keputusan investasi secara tepat.

Karena itu, BEI terus mengintensifkan edukasi agar masyarakat tidak sekadar menjadi investor, tetapi juga mampu berinvestasi secara cerdas, memahami risiko, dan berorientasi jangka panjang. Upaya tersebut diharapkan mendorong peningkatan jumlah investor aktif sekaligus membangun pasar modal yang inklusif dan berkelanjutan.
(tri)
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya