Di Seminar Nasional HMA Nobel, Peserta ASC ke-14 Diperingatkan Tak Andalkan AI
Tim SINDOmakassar
Kamis, 09 April 2026 - 19:28 WIB
Peserta Seminar Nasional yang digelar HM Nobel Indonesia jelang pelaksanaan ASC ke-14. Foto: Istimewa
Menjelang pelaksanaan Accounting Smart Challenge (ASC) musim ke-14, Himpunan Mahasiswa Akuntansi (HMA) Institut Teknologi dan Bisnis Nobel Indonesia menggelar Seminar Nasional, Kamis (9/4). Kegiatan ini berlangsung di Nobel Convention Center, Jalan Sultan Alauddin.
Seminar menghadirkan Laode Arahman Nasir, S.E., M.Ak., sebagai pembicara dengan tema “Mengembangkan Jiwa Akuntansi Muda yang Berintegritas di Era Transformasi Digital.”
Dalam pemaparannya, Laode menekankan pentingnya kesiapan calon akuntan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menyebut digitalisasi dalam bidang akuntansi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
"Perubahan ini menuntut kita untuk lebih adaptif. Peningkatan kompetensi dan upgrade pengetahuan menjadi kunci utama agar kita tetap relevan dan mampu bersaing di tengah ekosistem akuntansi yang semakin dinamis," ujar Laode.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan digital membawa tantangan baru. Salah satunya adalah risiko kebocoran data serta munculnya berbagai fitur yang dapat memicu kesenjangan kompetensi.
"Di era ini, risiko kebocoran data adalah tantangan yang nyaris mustahil dihindari sepenuhnya, sekuat apa pun pertahanan yang kita bangun. Ini sudah menjadi siklus dalam ekosistem digital. Karena kita tidak memiliki kuasa penuh untuk menahannya, maka yang bisa kita kendalikan adalah kesiapan dan respons kita terhadap risiko tersebut," tegasnya.
Selain aspek teknologi, Laode turut menyoroti pentingnya integritas dalam profesi akuntansi. Menurutnya, integritas merupakan hal mendasar, meskipun tidak mudah untuk dijaga.
Seminar menghadirkan Laode Arahman Nasir, S.E., M.Ak., sebagai pembicara dengan tema “Mengembangkan Jiwa Akuntansi Muda yang Berintegritas di Era Transformasi Digital.”
Dalam pemaparannya, Laode menekankan pentingnya kesiapan calon akuntan dalam menghadapi perkembangan teknologi. Ia menyebut digitalisasi dalam bidang akuntansi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak dapat dihindari.
"Perubahan ini menuntut kita untuk lebih adaptif. Peningkatan kompetensi dan upgrade pengetahuan menjadi kunci utama agar kita tetap relevan dan mampu bersaing di tengah ekosistem akuntansi yang semakin dinamis," ujar Laode.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan digital membawa tantangan baru. Salah satunya adalah risiko kebocoran data serta munculnya berbagai fitur yang dapat memicu kesenjangan kompetensi.
"Di era ini, risiko kebocoran data adalah tantangan yang nyaris mustahil dihindari sepenuhnya, sekuat apa pun pertahanan yang kita bangun. Ini sudah menjadi siklus dalam ekosistem digital. Karena kita tidak memiliki kuasa penuh untuk menahannya, maka yang bisa kita kendalikan adalah kesiapan dan respons kita terhadap risiko tersebut," tegasnya.
Selain aspek teknologi, Laode turut menyoroti pentingnya integritas dalam profesi akuntansi. Menurutnya, integritas merupakan hal mendasar, meskipun tidak mudah untuk dijaga.