Unhas Anugerahkan Gelar Doktor Honoris Causa kepada PM Timor-Leste
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Sabtu, 05 September 2026 - 19:39 WIB
Suasana konferensi pers Perdana Menteri Timor-Leste, H.E. Kay Rala Xanana Gusmão bersama pimpinan Unhas, di Kampus Unhas Tamalanrea, Sabtu (5/9/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Universitas Hasanuddin (Unhas) resmi menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa kepada Perdana Menteri Timor-Leste, H.E. Kay Rala Xanana Gusmão, yang berlangsung di Baruga A.P. Pettarani, Kampus Unhas Tamalanrea, Kota Makassar, Sabtu (5/9/2026).
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam pidatonya menyampaikan bahwa penganugerahan ini bukan sekadar memberikan sebuah gelar, melainkan menegaskan keyakinan akademik bahwa pengalaman kepemimpinan dapat menjadi sumber pengetahuan.
"Gelar Doctor Honoris Causa merupakan salah satu penghargaan akademik tertinggi sebuah universitas. Karena itu, gelar ini tidak diberikan semata-mata karena jabatan, popularitas, ataupun kedudukan politik. Pertanyaan akademik yang harus kita jawab adalah pengetahuan apakah yang lahir dari perjalanan dan pengorbanan seorang tokoh, dan mengapa pengetahuan itu penting bagi masyarakat, kawasan, dan generasi yang akan datang? Universitas Hasanuddin menemukan jawaban itu dalam kepemimpinan pascakonflik Yang Mulia Xanana Gusmão," sebutnya.
Menurutnya, kepemimpinan pascakonflik yang ditunjukkan oleh Xanana Gusmão memperlihatkan transformasi luar biasa yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
"Rekonsiliasi dapat dipelajari sebagai jalan transformasi konflik dan perdamaian bukanlah keadaan yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari keberanian moral, kekuatan politik, penguatan tata kelola dan institusi, serta kesediaan untuk membangun masa depan bersama. Kepemimpinan beliau memperlihatkan transformasi yang jarang dan sangat menentukan. Sehingga penganugerahan gelar Honoris Causa ini dapat kita pertanggungjawabkan secara akademik. Ini adalah suatu kebanggaan bagi kami atas kesediaan Bapak Xanana untuk datang ke Makassar," sambungnya.
Prof. JJ juga menyoroti peran Xanana dalam membangun fondasi kenegaraan serta membuka ruang dialog dan kerja sama strategis, khususnya dalam merajut hubungan bertetangga yang bersahabat antara Indonesia dan Timor-Leste.
"Dalam banyak pengalaman sejarah, memimpin perjuangan dan memimpin setelah konflik merupakan dua tugas yang sangat berbeda. Namun, setelah konflik berakhir, medan kepemimpinan berubah sepenuhnya. Masyarakat tidak lagi membutuhkan simbol keberanian, mereka membutuhkan institusi, hukum, pelayanan publik, rasa aman, kesempatan ekonomi, dan keyakinan bahwa perdamaian akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik," ujarnya.
Rektor Unhas, Prof. Jamaluddin Jompa, dalam pidatonya menyampaikan bahwa penganugerahan ini bukan sekadar memberikan sebuah gelar, melainkan menegaskan keyakinan akademik bahwa pengalaman kepemimpinan dapat menjadi sumber pengetahuan.
"Gelar Doctor Honoris Causa merupakan salah satu penghargaan akademik tertinggi sebuah universitas. Karena itu, gelar ini tidak diberikan semata-mata karena jabatan, popularitas, ataupun kedudukan politik. Pertanyaan akademik yang harus kita jawab adalah pengetahuan apakah yang lahir dari perjalanan dan pengorbanan seorang tokoh, dan mengapa pengetahuan itu penting bagi masyarakat, kawasan, dan generasi yang akan datang? Universitas Hasanuddin menemukan jawaban itu dalam kepemimpinan pascakonflik Yang Mulia Xanana Gusmão," sebutnya.
Menurutnya, kepemimpinan pascakonflik yang ditunjukkan oleh Xanana Gusmão memperlihatkan transformasi luar biasa yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
"Rekonsiliasi dapat dipelajari sebagai jalan transformasi konflik dan perdamaian bukanlah keadaan yang datang dengan sendirinya, melainkan hasil dari keberanian moral, kekuatan politik, penguatan tata kelola dan institusi, serta kesediaan untuk membangun masa depan bersama. Kepemimpinan beliau memperlihatkan transformasi yang jarang dan sangat menentukan. Sehingga penganugerahan gelar Honoris Causa ini dapat kita pertanggungjawabkan secara akademik. Ini adalah suatu kebanggaan bagi kami atas kesediaan Bapak Xanana untuk datang ke Makassar," sambungnya.
Prof. JJ juga menyoroti peran Xanana dalam membangun fondasi kenegaraan serta membuka ruang dialog dan kerja sama strategis, khususnya dalam merajut hubungan bertetangga yang bersahabat antara Indonesia dan Timor-Leste.
"Dalam banyak pengalaman sejarah, memimpin perjuangan dan memimpin setelah konflik merupakan dua tugas yang sangat berbeda. Namun, setelah konflik berakhir, medan kepemimpinan berubah sepenuhnya. Masyarakat tidak lagi membutuhkan simbol keberanian, mereka membutuhkan institusi, hukum, pelayanan publik, rasa aman, kesempatan ekonomi, dan keyakinan bahwa perdamaian akan menghasilkan kehidupan yang lebih baik," ujarnya.