PDAM Jeneponto Tak Dilibatkan di Proyek Air Baku Karalloe Rp25 Miliar
Sulaiman Nai
Selasa, 20 Januari 2026 - 16:39 WIB
Junaedi, Direktur PDAM Jeneponto. Foto: Istimewa
Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Jeneponto tak dilibatkan dalam proyek pembangunan Jaringan Air Baku Bendungan Karalloe Tahap II di Desa Paitana, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan senilai Rp25 miliar.
Fakta itu dibeberkan Direktur PDAM Jeneponto, Junaedi. Dia bilang, pihaknya tidak dilibatkan sama sekali dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut.
Padahal menurut dia, PDAM merupakan instansi yang akan menerima dan mengelola langsung infrastruktur air baku itu untuk pelayanan air bersih masyarakat.
“Kami tidak dilibatkan dalam proyek itu. PDAM hanya penerima manfaat,” jelas Junaedi saat dihubung via WhatsApp, Selasa (20/01/2026).
Di sisi lain, proyek pembangunan Jaringan Air Baku Bendungan Karalloe Tahap II ini menjadi sorotan publik lantaran mengalami kebocoran, meski baru dibangun dan telah beberapa kali dilakukan perbaikan.
Proyek tersebut diketahui dikerjakan pada tahun 2024 oleh PT Cakra Gatra Utama. Berdasarkan informasi di lapangan, perbaikan terhadap jaringan air baku telah dilakukan sebanyak dua kali. Namun, rembesan air masih ditemukan di sejumlah titik konstruksi.
Fakta di lapangan menunjukkan adanya kebocoran pada beberapa bagian jaringan air baku yang tampak dibiarkan mengalir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait kualitas pengerjaan proyek.
Fakta itu dibeberkan Direktur PDAM Jeneponto, Junaedi. Dia bilang, pihaknya tidak dilibatkan sama sekali dalam perencanaan maupun pelaksanaan proyek tersebut.
Padahal menurut dia, PDAM merupakan instansi yang akan menerima dan mengelola langsung infrastruktur air baku itu untuk pelayanan air bersih masyarakat.
“Kami tidak dilibatkan dalam proyek itu. PDAM hanya penerima manfaat,” jelas Junaedi saat dihubung via WhatsApp, Selasa (20/01/2026).
Di sisi lain, proyek pembangunan Jaringan Air Baku Bendungan Karalloe Tahap II ini menjadi sorotan publik lantaran mengalami kebocoran, meski baru dibangun dan telah beberapa kali dilakukan perbaikan.
Proyek tersebut diketahui dikerjakan pada tahun 2024 oleh PT Cakra Gatra Utama. Berdasarkan informasi di lapangan, perbaikan terhadap jaringan air baku telah dilakukan sebanyak dua kali. Namun, rembesan air masih ditemukan di sejumlah titik konstruksi.
Fakta di lapangan menunjukkan adanya kebocoran pada beberapa bagian jaringan air baku yang tampak dibiarkan mengalir. Kondisi ini memunculkan pertanyaan dari masyarakat terkait kualitas pengerjaan proyek.