Dukung Pencarian Korban ATR 42-500, BMKG Kembali Lakukan Modifikasi Cuaca
Najmi S Limonu
Rabu, 21 Januari 2026 - 16:36 WIB
Rapat koordinasi Tim SAR tragedi ATR 42-500. Foto: SINDO Makassar/Najmi S Limonu
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) berencana melanjutkan modifikasi cuaca selama beberapa hari ke depan untuk mendukung Tim SAR dalam proses pencarian dan evakuasi korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 di kawasan Gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkep.
Rencana tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin Makassar, Kukuh Ribudiyanto, usai mengikuti pertemuan dengan Basarnas dan Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana di Kantor Basarnas Makassar, Rabu (21/1/2026).
Kukuh mengatakan, perpanjangan modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan arahan Wamenhub, meski durasi pelaksanaannya belum ditentukan.
“Dari arahan pak Wamen memang ada bahasa untuk diperpanjang. Cuma sampai kapan kami tidak tahu. Kalau yang lalu itu memang dilakukan sampai hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan cuaca, potensi hujan ringan hingga sedang masih terjadi di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 dan berpotensi mengganggu proses evakuasi.
BMKG, kata Kukuh, mengikuti kebijakan dan koordinasi dengan Indonesia Air Transport (IAT) dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Operasi yang telah berjalan beberapa hari terakhir kemungkinan akan diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
“Dalam beberapa hari kedepan memang masih terjadi hujan ringan sudah pasti, dan beberapa kali hujan lebat. Ini yang mengganggu evakuasi. Sehingga modifikasi cuaca masih diperlukan dalam proses evakuasi korban,” ujarnya.
Rencana tersebut disampaikan Kepala Stasiun Meteorologi Kelas I Sultan Hasanuddin Makassar, Kukuh Ribudiyanto, usai mengikuti pertemuan dengan Basarnas dan Wakil Menteri Perhubungan (Wamenhub) Suntana di Kantor Basarnas Makassar, Rabu (21/1/2026).
Kukuh mengatakan, perpanjangan modifikasi cuaca dilakukan berdasarkan arahan Wamenhub, meski durasi pelaksanaannya belum ditentukan.
“Dari arahan pak Wamen memang ada bahasa untuk diperpanjang. Cuma sampai kapan kami tidak tahu. Kalau yang lalu itu memang dilakukan sampai hari ini,” ujarnya.
Ia menjelaskan, berdasarkan prakiraan cuaca, potensi hujan ringan hingga sedang masih terjadi di lokasi jatuhnya pesawat ATR 42-500 dan berpotensi mengganggu proses evakuasi.
BMKG, kata Kukuh, mengikuti kebijakan dan koordinasi dengan Indonesia Air Transport (IAT) dalam pelaksanaan modifikasi cuaca. Operasi yang telah berjalan beberapa hari terakhir kemungkinan akan diperpanjang sesuai kebutuhan di lapangan.
“Dalam beberapa hari kedepan memang masih terjadi hujan ringan sudah pasti, dan beberapa kali hujan lebat. Ini yang mengganggu evakuasi. Sehingga modifikasi cuaca masih diperlukan dalam proses evakuasi korban,” ujarnya.