Bagian Tubuh Dua Jenazah Dievakuasi Gunakan Helikopter Caraccal Milik TNI AU
Najmi S Limonu
Jum'at, 23 Januari 2026 - 10:26 WIB
Korban pesawat ATR 42-500 yang dievakuasi menggunakan helikopter milik TNI Angkatan Udara dari Lereng Gunung Bulusaraung, Jumat, (23/01/2026). Evakuasi dilakukan saat kondisi cuaca baik. Foto: Istimew
Dua jenazah korban jatuhnya pesawat ATR 42-500 berhasil dievakuasi menggunakan helikopter jenis Caraccal milik TNI AU dari lereng Gunung Bulusaraung, Jumat (23/1/2026) pagi.
Helikopter lepas landas dari Baseops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 08.25 Wita dan tiba di titik lokasi evakuasi (TKP) sekitar pukul 08.38 Wita.
Kedua jenazah diangkat menggunakan jaring yang diikat dengan tali, kemudian ditarik ke dalam helikopter. Usai evakuasi, helikopter kembali dan mendarat di Baseops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 09.08 Wita.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan, evakuasi baru dilakukan terhadap dua dari total lima body pack yang berada di sekitar helipad lereng Gunung Bulusaraung.
"Saat ini kami berhasil mengevakuasi dua body part korban. Tiga lainnya masih berada di helipad sekitar lereng,” kata Arifaini.
Di menjelaskan, keputusan hanya mengevakuasi dua jenazah diambil karena kondisi lokasi penjemputan sangat berisiko.
"Limitasi tempatnya sangat rapat, berada di lereng mendekati tebing. Ini memerlukan skill dan profesionalitas penerbang yang sangat tinggi,” ujarnya.
Helikopter lepas landas dari Baseops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 08.25 Wita dan tiba di titik lokasi evakuasi (TKP) sekitar pukul 08.38 Wita.
Kedua jenazah diangkat menggunakan jaring yang diikat dengan tali, kemudian ditarik ke dalam helikopter. Usai evakuasi, helikopter kembali dan mendarat di Baseops Lanud Sultan Hasanuddin pada pukul 09.08 Wita.
Komandan Lanud Sultan Hasanuddin, Marsekal Pertama (Marsma) TNI Arifaini Nur Dwiyanto, mengatakan, evakuasi baru dilakukan terhadap dua dari total lima body pack yang berada di sekitar helipad lereng Gunung Bulusaraung.
"Saat ini kami berhasil mengevakuasi dua body part korban. Tiga lainnya masih berada di helipad sekitar lereng,” kata Arifaini.
Di menjelaskan, keputusan hanya mengevakuasi dua jenazah diambil karena kondisi lokasi penjemputan sangat berisiko.
"Limitasi tempatnya sangat rapat, berada di lereng mendekati tebing. Ini memerlukan skill dan profesionalitas penerbang yang sangat tinggi,” ujarnya.