Opini
Sabar sebagai Kesadaran Ilahiah
Muh Ikhsan AR
Kamis, 05 Maret 2026 - 04:54 WIB
Dr Muh Ikhsan AR, M Ag (Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari). Foto: Istimewa
Oleh: Dr Muh Ikhsan AR, M Ag
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari)
DI TENGAH dunia yang bergerak cepat dan sering kehilangan jeda, sabar kerap dipahami secara dangkal—sekadar menahan diri atau bersikap pasif terhadap keadaan. Padahal dalam khazanah spiritual Islam, sabar adalah kesadaran Ilahiah: kesadaran mendalam bahwa setiap peristiwa berada dalam lingkup ilmu, hikmah, dan iradah Allah. Sabar bukan sekadar ketahanan psikologis, melainkan tauhid yang hidup dalam respons manusia terhadap realitas.
Secara bahasa, ṣabr berarti menahan dan mengikat. Dalam pengertian syar‘i, sabar adalah kemampuan meneguhkan jiwa dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi ujian. Namun lebih dari itu, sabar adalah cara seorang mukmin membaca hidup. Ia tidak melihat peristiwa sebagai kejadian acak, melainkan sebagai bagian dari skenario Ilahi yang penuh makna.
Al-Qur’an menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
_Yā ayyuhā alladzīna āmanū ista‘īnū bi al-ṣabri wa al-ṣalāh, innallāha ma‘a al-ṣābirīn_(QS. al-Baqarah: 153)
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam dan Direktur PUNCAK IAIN Kendari)
DI TENGAH dunia yang bergerak cepat dan sering kehilangan jeda, sabar kerap dipahami secara dangkal—sekadar menahan diri atau bersikap pasif terhadap keadaan. Padahal dalam khazanah spiritual Islam, sabar adalah kesadaran Ilahiah: kesadaran mendalam bahwa setiap peristiwa berada dalam lingkup ilmu, hikmah, dan iradah Allah. Sabar bukan sekadar ketahanan psikologis, melainkan tauhid yang hidup dalam respons manusia terhadap realitas.
Secara bahasa, ṣabr berarti menahan dan mengikat. Dalam pengertian syar‘i, sabar adalah kemampuan meneguhkan jiwa dalam ketaatan, menjauhi maksiat, dan menghadapi ujian. Namun lebih dari itu, sabar adalah cara seorang mukmin membaca hidup. Ia tidak melihat peristiwa sebagai kejadian acak, melainkan sebagai bagian dari skenario Ilahi yang penuh makna.
Al-Qur’an menegaskan:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
_Yā ayyuhā alladzīna āmanū ista‘īnū bi al-ṣabri wa al-ṣalāh, innallāha ma‘a al-ṣābirīn_(QS. al-Baqarah: 153)