Ribuan Rumah Ibadah Siap Layani Para Pemudik 24 Jam
Tim SINDOmakassar
Rabu, 11 Maret 2026 - 10:45 WIB
Rapat internal rutin Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama jajaran pimpinan eselon Kementerian Agama. Pada rapat kali ini membahas ribuan rumah ibadah yang siap melayani 24 jam selama fase arus mudik.
Kementerian Agama mengimbau masyarakat untuk tidak memaksakan diri saat dalam perjalanan mudik ke kampung halaman pada momen Idulfitri 1447 H. Jika lelah dalam perjalanan, Kemenag telah siapkan ribuan rumah ibadah yang siap melayani 24 jam selama fase arus mudik dan arus balik lebaran 2026.
Kementerian Agama mencatat ada 6.859 masjid di seluruh Indonesia yang telah terdaftar dan menyatakan siap berpartisipasi dalam program tersebut. Selain itu, ada 44 rumah ibadah umat Buddha ramah pemudik di 11 provinsi (Sumatera, Jawa, hingga Kepulauan Nusa Tenggara) dan 32 kabupaten/kota yang juga siap melayani.
Rumah ibadah yang tersebar di sepanjang jalur mudik nasional dan siap menjadi tempat istirahat sementara bagi para pemudik yang melakukan perjalanan jarak jauh. Kehadiran rumah ibadah lintas agama ini diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial dalam melayani masyarakat selama musim mudik.
Kesiapan akhir Rumah Ibadah Ramah Pemudik ini dibahas bersama dalam rapat internal rutin Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama jajaran pimpinan eselon Kementerian Agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Menag menegaskan bahwa rumah-rumah ibadah yang berada di jalur mudik harus benar-benar siap melayani para pemudik selama periode perjalanan Lebaran.
“Kita ingin agar rumah-rumah ibadah lintas agama yang berada di jalur mudik benar-benar siap melayani para pemudik. Rumah ibadah tersebut diharapkan dapat dibuka selama 24 jam selama masa mudik, karena para pemudik datang silih berganti sepanjang waktu,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, kesiapan layanan juga harus disertai dengan pengaturan petugas yang berjaga agar keamanan dan kenyamanan pemudik tetap terjaga. “Perlu ada petugas yang berjaga agar keamanan tetap terjamin. Jangan sampai jamaah yang beristirahat justru mengalami kehilangan barang atau hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Menag juga mendorong pengelola rumah ibadah menyediakan fasilitas dasar bagi pemudik, terutama karena perjalanan mudik tahun ini berlangsung dalam suasana Ramadan. “Jika memungkinkan, disediakan takjil atau makanan berbuka bagi para pemudik, serta minuman atau makanan sederhana untuk sahur. Ini bagian dari pelayanan kemanusiaan dan kepedulian sosial,” kata Menag.
Kementerian Agama mencatat ada 6.859 masjid di seluruh Indonesia yang telah terdaftar dan menyatakan siap berpartisipasi dalam program tersebut. Selain itu, ada 44 rumah ibadah umat Buddha ramah pemudik di 11 provinsi (Sumatera, Jawa, hingga Kepulauan Nusa Tenggara) dan 32 kabupaten/kota yang juga siap melayani.
Rumah ibadah yang tersebar di sepanjang jalur mudik nasional dan siap menjadi tempat istirahat sementara bagi para pemudik yang melakukan perjalanan jarak jauh. Kehadiran rumah ibadah lintas agama ini diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong dan kepedulian sosial dalam melayani masyarakat selama musim mudik.
Kesiapan akhir Rumah Ibadah Ramah Pemudik ini dibahas bersama dalam rapat internal rutin Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama jajaran pimpinan eselon Kementerian Agama di Kantor Kementerian Agama, Jakarta, Selasa (10/3/2026). Menag menegaskan bahwa rumah-rumah ibadah yang berada di jalur mudik harus benar-benar siap melayani para pemudik selama periode perjalanan Lebaran.
“Kita ingin agar rumah-rumah ibadah lintas agama yang berada di jalur mudik benar-benar siap melayani para pemudik. Rumah ibadah tersebut diharapkan dapat dibuka selama 24 jam selama masa mudik, karena para pemudik datang silih berganti sepanjang waktu,” ujar Nasaruddin.
Menurutnya, kesiapan layanan juga harus disertai dengan pengaturan petugas yang berjaga agar keamanan dan kenyamanan pemudik tetap terjaga. “Perlu ada petugas yang berjaga agar keamanan tetap terjamin. Jangan sampai jamaah yang beristirahat justru mengalami kehilangan barang atau hal-hal yang tidak diinginkan,” tegasnya.
Menag juga mendorong pengelola rumah ibadah menyediakan fasilitas dasar bagi pemudik, terutama karena perjalanan mudik tahun ini berlangsung dalam suasana Ramadan. “Jika memungkinkan, disediakan takjil atau makanan berbuka bagi para pemudik, serta minuman atau makanan sederhana untuk sahur. Ini bagian dari pelayanan kemanusiaan dan kepedulian sosial,” kata Menag.