Akhir Ramadan: Service Rutin Tahunan bagi Tubuh hingga Hati kita
Rachmat Faisal Syamsu
Sabtu, 14 Maret 2026 - 11:10 WIB
Dr dr Rachmat Faisal Syamsu M Kes FISPH FISCM, Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar. Foto: Istimewa
Oleh: Dr dr Rachmat Faisal Syamsu M Kes FISPH FISCM
(Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar)RAMADAN hampir selesai. Sebulan penuh kita menjalani rutinitas yang tidak biasa: bangun lebih pagi, menahan lapar dan haus sepanjang hari, serta mengurangi banyak kebiasaan yang selama ini terasa wajar.
Bagi sebagian orang, Ramadan mungkin terasa melelahkan. Namun jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, tubuh manusia sebenarnya sedang menjalani sebuah proses yang luar biasa: Suatu “service rutin” biologis yang memperbaiki berbagai sistem dalam tubuh.
Bayangkan tubuh manusia seperti sebuah mesin yang bekerja tanpa henti selama sebelas bulan. Mesin itu terus menerima bahan bakar, terus bekerja, dan jarang benar-benar beristirahat. Ramadan datang seperti sebuah bengkel tahunan. Ia menghentikan mesin itu sejenak, membuka komponen-komponennya, membersihkan bagian yang kotor, dan memperbaiki sistem yang mulai melemah.
Selama sekitar 12 jam setiap hari, tubuh tidak menerima asupan makanan. Pada kondisi ini tubuh memasuki fase yang oleh para ilmuwan disebut metabolic switching. Tubuh tidak lagi bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, tetapi mulai menggunakan cadangan lemak.
Perubahan ini memicu berbagai proses biologis yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine oleh Mark Mattson (2019) menunjukkan bahwa pola puasa berkala dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki kesehatan kardiovaskular, dan merangsang mekanisme perlindungan sel dalam tubuh.
Dengan kata lain, saat kita menahan lapar, tubuh sebenarnya sedang melakukan perawatan internal yang kompleks.
(Wakil Dekan IV, Fakultas Kedokteran UMI, Makassar)RAMADAN hampir selesai. Sebulan penuh kita menjalani rutinitas yang tidak biasa: bangun lebih pagi, menahan lapar dan haus sepanjang hari, serta mengurangi banyak kebiasaan yang selama ini terasa wajar.
Bagi sebagian orang, Ramadan mungkin terasa melelahkan. Namun jika dilihat dari sudut pandang ilmiah, tubuh manusia sebenarnya sedang menjalani sebuah proses yang luar biasa: Suatu “service rutin” biologis yang memperbaiki berbagai sistem dalam tubuh.
Bayangkan tubuh manusia seperti sebuah mesin yang bekerja tanpa henti selama sebelas bulan. Mesin itu terus menerima bahan bakar, terus bekerja, dan jarang benar-benar beristirahat. Ramadan datang seperti sebuah bengkel tahunan. Ia menghentikan mesin itu sejenak, membuka komponen-komponennya, membersihkan bagian yang kotor, dan memperbaiki sistem yang mulai melemah.
Selama sekitar 12 jam setiap hari, tubuh tidak menerima asupan makanan. Pada kondisi ini tubuh memasuki fase yang oleh para ilmuwan disebut metabolic switching. Tubuh tidak lagi bergantung pada glukosa sebagai sumber energi utama, tetapi mulai menggunakan cadangan lemak.
Perubahan ini memicu berbagai proses biologis yang bermanfaat bagi kesehatan. Penelitian yang dipublikasikan dalam New England Journal of Medicine oleh Mark Mattson (2019) menunjukkan bahwa pola puasa berkala dapat meningkatkan sensitivitas insulin, memperbaiki kesehatan kardiovaskular, dan merangsang mekanisme perlindungan sel dalam tubuh.
Dengan kata lain, saat kita menahan lapar, tubuh sebenarnya sedang melakukan perawatan internal yang kompleks.