Spirit Jogja Harus Lahir Kembali, IKAJO Sulsel Formulasikan Kekuatan Alumni
Tim SINDOmakassar
Minggu, 05 April 2026 - 17:03 WIB
Dewan Presidium Nasional Ikatan Alumni Jogjakarta (IKAJO) Sulawesi Selatan dalam acara Halal Bihalal yang digelar di Makassar, diawali dengan dialog lintas generasi yang menghidupkan ruang diskusi.
Sebuah pertanyaan menggantung di ruang pertemuan. Mampukah ikatan alumni menjadi lebih dari sekadar temaram kenangan? Mampukah ia menjelma menjadi kekuatan nyata?
Pertanyaan itulah yang coba dijawab Dewan Presidium Nasional Ikatan Alumni Jogjakarta (IKAJO) Sulawesi Selatan dalam acara Halal Bihalal yang digelar di Makassar, diawali dengan dialog lintas generasi yang menghidupkan ruang diskusi.
Bukan sekadar temu kangen. Acara ini sengaja dirancang sebagai ruang refleksi kolektif. Tiga pemantik hadir, Am Iqbal Parewangi, sosok yang menggagas lahirnya IKAJO, Tadjuddin Rachman, pengacara senior, dan Mustakim, Ketua Presidium IKAJO Sulsel.
Mereka berbicara tidak hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana masa lalu dirajut menjadi peta jalan ke depan.
Mustakim, dengan tegas memaparkan latar belakang kelahiran organisasi ini. IKAJO, jelasnya, lahir dari semangat kebersamaan mahasiswa perantau asal Sulawesi Selatan yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Mereka aktif dalam komunitas kampus dan kegiatan sosial, namun merasakan kebutuhan akan wadah alumni yang lebih terorganisir. "IKAJO hadir sebagai wadah bagi alumni Sulawesi Selatan di Yogyakarta untuk saling terhubung, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa," ujar Mustakim.
Didirikan tepat pada 29 September 2001 di Makassar, IKAJO genap berusia seperempat abad lebih. Tujuannya jelas, memberdayakan seluruh potensi anggota untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan bangsa, khususnya Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, komunikasi, solidaritas, dan persaudaraan.
Pertanyaan itulah yang coba dijawab Dewan Presidium Nasional Ikatan Alumni Jogjakarta (IKAJO) Sulawesi Selatan dalam acara Halal Bihalal yang digelar di Makassar, diawali dengan dialog lintas generasi yang menghidupkan ruang diskusi.
Bukan sekadar temu kangen. Acara ini sengaja dirancang sebagai ruang refleksi kolektif. Tiga pemantik hadir, Am Iqbal Parewangi, sosok yang menggagas lahirnya IKAJO, Tadjuddin Rachman, pengacara senior, dan Mustakim, Ketua Presidium IKAJO Sulsel.
Mereka berbicara tidak hanya tentang masa lalu, tetapi tentang bagaimana masa lalu dirajut menjadi peta jalan ke depan.
Mustakim, dengan tegas memaparkan latar belakang kelahiran organisasi ini. IKAJO, jelasnya, lahir dari semangat kebersamaan mahasiswa perantau asal Sulawesi Selatan yang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
Mereka aktif dalam komunitas kampus dan kegiatan sosial, namun merasakan kebutuhan akan wadah alumni yang lebih terorganisir. "IKAJO hadir sebagai wadah bagi alumni Sulawesi Selatan di Yogyakarta untuk saling terhubung, berkembang, dan berkontribusi bagi bangsa," ujar Mustakim.
Didirikan tepat pada 29 September 2001 di Makassar, IKAJO genap berusia seperempat abad lebih. Tujuannya jelas, memberdayakan seluruh potensi anggota untuk terlibat aktif dalam proses pembangunan bangsa, khususnya Sulawesi Selatan, sekaligus menjadi ruang silaturahmi, komunikasi, solidaritas, dan persaudaraan.