Kisah Polisi Hafiz 30 Juz Tampil di MTQ Sulsel 2026
Tim SINDOmakassar
Sabtu, 18 April 2026 - 17:01 WIB
Bripda Ahmad Kabir Mulki saat tampil di MTQ Sulsel. Foto: Kemenag Sulsel
Kisah inspiratif datang dari ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) XXXIV tingkat Provinsi Sulawesi Selatan. Seorang polisi muda, Bripda Ahmad Kabir Mulki, dipercaya mewakili Kabupaten Bulukumba pada kategori hafidz Al-Qur’an 30 juz, Rabu (15/4/2026).
Mulki yang bertugas di Polres Barru bukan pendatang baru di dunia tahfidz. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Kemampuannya kemudian diasah saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Babul Khaer, Bulukumba, serta memperdalam hafalan di salah satu rumah tahfidz di Makassar.
Keberhasilan Mulki menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia melalui jalur tahfidz menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat membuka peluang meraih cita-cita. Capaian tersebut juga tidak lepas dari peran orang tuanya.
Ibunya, Hj. Nuraeni, merupakan penyuluh agama Islam di KUA Ujung Bulu. Sementara ayahnya, H. Mustamin Gau, dikenal sebagai Imam Besar Masjid Islamic Centre Datu Tiro.
Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Mulki tetap menjaga hafalannya dengan disiplin. Ia memiliki cara tersendiri dalam membagi waktu untuk murajaah.
“Saya selalu murajaah setiap selesai waktu salat. Jadi dalam sehari bisa sampai 5 juz. Selalu menyempatkan membaca Al-Qur’an setiap hari. Sewaktu-waktu saya sibuk, saya tetap menyempatkan waktu untuk mengaji walaupun satu juz atau setengah juz dalam sehari,” ungkap Ahkam, dikutip dari laman Kemenag.
Kisah Mulki menjadi bukti bahwa pengabdian kepada negara dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap Al-Qur’an. Semangatnya diharapkan dapat memotivasi generasi muda, khususnya di Bulukumba, untuk mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
Mulki yang bertugas di Polres Barru bukan pendatang baru di dunia tahfidz. Ia mulai menghafal Al-Qur’an sejak duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Kemampuannya kemudian diasah saat menempuh pendidikan di Pondok Pesantren Babul Khaer, Bulukumba, serta memperdalam hafalan di salah satu rumah tahfidz di Makassar.
Keberhasilan Mulki menjadi anggota Kepolisian Republik Indonesia melalui jalur tahfidz menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap Al-Qur’an dapat membuka peluang meraih cita-cita. Capaian tersebut juga tidak lepas dari peran orang tuanya.
Ibunya, Hj. Nuraeni, merupakan penyuluh agama Islam di KUA Ujung Bulu. Sementara ayahnya, H. Mustamin Gau, dikenal sebagai Imam Besar Masjid Islamic Centre Datu Tiro.
Di tengah kesibukannya sebagai anggota Polri, Mulki tetap menjaga hafalannya dengan disiplin. Ia memiliki cara tersendiri dalam membagi waktu untuk murajaah.
“Saya selalu murajaah setiap selesai waktu salat. Jadi dalam sehari bisa sampai 5 juz. Selalu menyempatkan membaca Al-Qur’an setiap hari. Sewaktu-waktu saya sibuk, saya tetap menyempatkan waktu untuk mengaji walaupun satu juz atau setengah juz dalam sehari,” ungkap Ahkam, dikutip dari laman Kemenag.
Kisah Mulki menjadi bukti bahwa pengabdian kepada negara dapat berjalan seiring dengan komitmen terhadap Al-Qur’an. Semangatnya diharapkan dapat memotivasi generasi muda, khususnya di Bulukumba, untuk mencintai dan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.
(man)