Dari Bertahan Menjadi Siaga: Transformasi Katimbang Hadapi Banjir Bersama PLN
Tim SINDOmakassar
Rabu, 29 April 2026 - 22:32 WIB
Penanaman pohon sebagai bagian dari mitigasi banjir berbasis lingkungan oleh Pemerintah Daerah, Srikandi, Pegawai PLN UIP Sulawesi, dan anggota KSB. Foto/Istimewa
Bagi warga Kelurahan Katimbang, Kecamatan Biringkanaya, Kota Makassar, langit mendung bukan sekadar tanda hujan akan turun. Ia adalah pengingat akan siklus tahunan: banjir yang datang dua hingga tiga kali dalam setahun, membawa genangan, kekhawatiran, dan kerugian.
Air yang naik hingga setinggi pinggang orang dewasa kerap melumpuhkan aktivitas warga. Jalan terputus, usaha terganggu, dan barang-barang elektronik rusak. Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk mengungsi pun bukan hal yang mudah.
“Dulu, mengungsi itu perjuangan batin,” kenang Ruslan, Ketua Kelompok Katimbang Siaga Bencana (KSB). Bukan hanya karena air, tetapi karena keterbatasan fasilitas. Minimnya MCK di lokasi pengungsian, terbatasnya peralatan evakuasi, serta kondisi yang kurang nyaman membuat sebagian warga memilih bertahan di rumah, meski risiko semakin besar.
Titik Balik: Hadirnya Katimbang Siaga Bencana
Perubahan mulai terjadi sejak akhir tahun 2025 melalui program Katimbang Siaga Bencana yang diinisiasi oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi.
Program ini tidak hanya menghadirkan bantuan fisik, tetapi juga membangun sistem dan kesadaran. Mulai dari: Penyusunan SOP tanggap darurat, Pembentukan dan penguatan KSB, Penyediaan peralatan evakuasi seperti perahu karet dan APD, Pembangunan fasilitas MCK dan air bersih, Edukasi keselamatan ketenagalistrikan saat bencana, Program Go to School bagi generasi muda, Hingga pelatihan trauma healing untuk penguatan psikososial masyarakat.
PLN juga mendorong upaya mitigasi berbasis lingkungan melalui pembersihan drainase secara berkala dan penanaman 400 pohon di sepanjang ±350 meter area rawan, guna meningkatkan daya serap air dan mengurangi limpasan banjir.
Air yang naik hingga setinggi pinggang orang dewasa kerap melumpuhkan aktivitas warga. Jalan terputus, usaha terganggu, dan barang-barang elektronik rusak. Dalam situasi seperti itu, keputusan untuk mengungsi pun bukan hal yang mudah.
“Dulu, mengungsi itu perjuangan batin,” kenang Ruslan, Ketua Kelompok Katimbang Siaga Bencana (KSB). Bukan hanya karena air, tetapi karena keterbatasan fasilitas. Minimnya MCK di lokasi pengungsian, terbatasnya peralatan evakuasi, serta kondisi yang kurang nyaman membuat sebagian warga memilih bertahan di rumah, meski risiko semakin besar.
Titik Balik: Hadirnya Katimbang Siaga Bencana
Perubahan mulai terjadi sejak akhir tahun 2025 melalui program Katimbang Siaga Bencana yang diinisiasi oleh PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan (UIP) Sulawesi.
Program ini tidak hanya menghadirkan bantuan fisik, tetapi juga membangun sistem dan kesadaran. Mulai dari: Penyusunan SOP tanggap darurat, Pembentukan dan penguatan KSB, Penyediaan peralatan evakuasi seperti perahu karet dan APD, Pembangunan fasilitas MCK dan air bersih, Edukasi keselamatan ketenagalistrikan saat bencana, Program Go to School bagi generasi muda, Hingga pelatihan trauma healing untuk penguatan psikososial masyarakat.
PLN juga mendorong upaya mitigasi berbasis lingkungan melalui pembersihan drainase secara berkala dan penanaman 400 pohon di sepanjang ±350 meter area rawan, guna meningkatkan daya serap air dan mengurangi limpasan banjir.