Walk Out IKAFE Warnai Mubes IKA Unhas yang Penuh Dinamika
Tim SINDOmakassar
Minggu, 03 Mei 2026 - 13:31 WIB
Sebanyak 27 utusan penuh dan 3 peserta peninjau dari IKAFE, memutuskan walk out dari sidang pleno pertama saat Mubes IKA Unhas. Foto/Istimewa
Musyawarah Besar (Mubes) IKA Unhas yang digelar pada 1–3 Mei 2026 di Hotel Four Points Makassar berlangsung dinamis. Dalam forum empat tahunan yang dihadiri ratusan alumni tersebut, Andi Amran Sulaiman terpilih secara aklamasi. Namun, jalannya sidang juga diwarnai dinamika tajam, terutama dari delegasi IKAFE Unhas yang dipimpin Ketua Umum Hendra Noor Saleh.
Sebanyak 27 utusan penuh dan 3 peserta peninjau dari IKAFE, yang mayoritas berlatar belakang aktivis kampus, memutuskan walk out dari sidang pleno pertama. Langkah ini diambil sebagai respons atas jalannya forum yang dinilai kurang memberi ruang partisipasi.
Sejak awal, IKAFE menilai agenda Mubes terkesan hanya bersifat formalitas. Waktu pelaksanaan yang singkat memicu perdebatan sengit pada sesi perdana. Bagi IKAFE, keputusan meninggalkan forum merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan organisasi serta upaya mendorong praktik demokrasi alumni yang lebih elegan dan bermanfaat.
Ketegangan memuncak saat Steering Committee mengajukan sembilan nama pimpinan sidang tanpa membuka ruang usulan dari perwakilan fakultas, wilayah, maupun kelompok peserta. Nama-nama tersebut langsung diperkenalkan ketika agenda dibahas, sehingga memunculkan keberatan dari sejumlah delegasi.
Upaya peserta untuk mengusulkan alternatif demi memperkuat regenerasi dan keterwakilan dinilai tidak diakomodasi. Bahkan, opsi pemungutan suara sebagai mekanisme demokratis juga tidak diambil.
IKAFE sempat mengajukan satu nama kadernya, namun hanya ditampilkan di layar sebelum akhirnya dihapus. Hal serupa juga terjadi pada usulan dari delegasi Kedokteran, Pascasarjana, dan Fakultas Hukum, masing-masing dengan argumentasi yang disampaikan.
Perdebatan panjang berujung pada kekecewaan ketika susunan pimpinan sidang yang dibacakan sekretaris Steering Committee ternyata kembali merujuk pada draft awal. Kondisi ini memicu kegaduhan di ruang sidang. Delegasi IKAFE kemudian memutuskan keluar dari arena karena menilai aspirasi peserta tidak didengarkan.
Sebanyak 27 utusan penuh dan 3 peserta peninjau dari IKAFE, yang mayoritas berlatar belakang aktivis kampus, memutuskan walk out dari sidang pleno pertama. Langkah ini diambil sebagai respons atas jalannya forum yang dinilai kurang memberi ruang partisipasi.
Sejak awal, IKAFE menilai agenda Mubes terkesan hanya bersifat formalitas. Waktu pelaksanaan yang singkat memicu perdebatan sengit pada sesi perdana. Bagi IKAFE, keputusan meninggalkan forum merupakan bentuk kepedulian terhadap masa depan organisasi serta upaya mendorong praktik demokrasi alumni yang lebih elegan dan bermanfaat.
Ketegangan memuncak saat Steering Committee mengajukan sembilan nama pimpinan sidang tanpa membuka ruang usulan dari perwakilan fakultas, wilayah, maupun kelompok peserta. Nama-nama tersebut langsung diperkenalkan ketika agenda dibahas, sehingga memunculkan keberatan dari sejumlah delegasi.
Upaya peserta untuk mengusulkan alternatif demi memperkuat regenerasi dan keterwakilan dinilai tidak diakomodasi. Bahkan, opsi pemungutan suara sebagai mekanisme demokratis juga tidak diambil.
IKAFE sempat mengajukan satu nama kadernya, namun hanya ditampilkan di layar sebelum akhirnya dihapus. Hal serupa juga terjadi pada usulan dari delegasi Kedokteran, Pascasarjana, dan Fakultas Hukum, masing-masing dengan argumentasi yang disampaikan.
Perdebatan panjang berujung pada kekecewaan ketika susunan pimpinan sidang yang dibacakan sekretaris Steering Committee ternyata kembali merujuk pada draft awal. Kondisi ini memicu kegaduhan di ruang sidang. Delegasi IKAFE kemudian memutuskan keluar dari arena karena menilai aspirasi peserta tidak didengarkan.