Di Balik Kemudahan AI, Ada Krisis Daya Kritis
Ahmad Restani Syukron
Minggu, 24 Mei 2026 - 05:36 WIB
Dosen Universitas Negeri Makassar, Fakultas Ilmu Pendidikan, Ahmad Restani Syukron. Foto: Dok. Pribadi
Oleh: Ahmad Restani SyukronDosen Universitas Negeri Makassar, Fakultas Ilmu Pendidikan
Hari ini, semakin banyak pelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit. Cukup mengetik beberapa kalimat perintah pada aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), jawaban lengkap langsung muncul. Mulai dari rangkuman materi, esai, presentasi, hingga kode pemrograman dapat dihasilkan secara instan.
Teknologi yang awalnya hadir sebagai alat bantu kini perlahan menjadi “mesin berpikir” baru bagi manusia. Praktis, cepat, dan efisien. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah kemajuan AI sedang membantu manusia berpikir lebih baik, atau justru membuat manusia semakin jarang berpikir?
Fenomena penggunaan AI dalam dunia pendidikan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran platform seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai teknologi generatif lainnya telah mengubah cara peserta didik mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan akademik. Bahkan, pemerintah Indonesia mulai mengintegrasikan AI dalam sistem pendidikan melalui kebijakan pembelajaran digital dan penguatan literasi teknologi di sekolah.
Langkah tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. AI memang memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Teknologi ini mampu membantu siswa memahami materi lebih cepat, menyediakan akses informasi tanpa batas, serta mendukung personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing individu. Dalam banyak situasi, AI bahkan mampu menjadi “asisten belajar” yang sangat membantu.
Namun, persoalannya muncul ketika kemudahan itu berubah menjadi ketergantungan.
Tanpa disadari, banyak peserta didik kini mulai terbiasa menerima jawaban secara instan tanpa melalui proses berpikir yang mendalam. Tugas yang seharusnya melatih kemampuan menganalisis justru diselesaikan dengan menyalin hasil dari AI. Diskusi yang mestinya memancing argumentasi berubah menjadi sekadar mencari prompt terbaik agar mesin menghasilkan jawaban yang diinginkan.
Hari ini, semakin banyak pelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit. Cukup mengetik beberapa kalimat perintah pada aplikasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), jawaban lengkap langsung muncul. Mulai dari rangkuman materi, esai, presentasi, hingga kode pemrograman dapat dihasilkan secara instan.
Teknologi yang awalnya hadir sebagai alat bantu kini perlahan menjadi “mesin berpikir” baru bagi manusia. Praktis, cepat, dan efisien. Namun di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut direnungkan bersama: apakah kemajuan AI sedang membantu manusia berpikir lebih baik, atau justru membuat manusia semakin jarang berpikir?
Fenomena penggunaan AI dalam dunia pendidikan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Kehadiran platform seperti ChatGPT, Gemini, Copilot, dan berbagai teknologi generatif lainnya telah mengubah cara peserta didik mencari informasi dan menyelesaikan pekerjaan akademik. Bahkan, pemerintah Indonesia mulai mengintegrasikan AI dalam sistem pendidikan melalui kebijakan pembelajaran digital dan penguatan literasi teknologi di sekolah.
Langkah tersebut tentu tidak sepenuhnya keliru. AI memang memiliki potensi besar dalam meningkatkan efektivitas pembelajaran. Teknologi ini mampu membantu siswa memahami materi lebih cepat, menyediakan akses informasi tanpa batas, serta mendukung personalisasi pembelajaran sesuai kebutuhan masing-masing individu. Dalam banyak situasi, AI bahkan mampu menjadi “asisten belajar” yang sangat membantu.
Namun, persoalannya muncul ketika kemudahan itu berubah menjadi ketergantungan.
Tanpa disadari, banyak peserta didik kini mulai terbiasa menerima jawaban secara instan tanpa melalui proses berpikir yang mendalam. Tugas yang seharusnya melatih kemampuan menganalisis justru diselesaikan dengan menyalin hasil dari AI. Diskusi yang mestinya memancing argumentasi berubah menjadi sekadar mencari prompt terbaik agar mesin menghasilkan jawaban yang diinginkan.