1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama
Samsir Salam
Selasa, 16 Juni 2026 - 10:09 WIB
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkep. Foto: Istimewa
Oleh: Samsir Salam(Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkep)
SETIAP 1 Muharram, linimasa dipenuhi ucapan “Selamat Tahun Baru Islam.” Masjid ramai. Spanduk terbentang. Ceramah digelar. Doa dipanjatkan. Tetapi setelah itu, kita kembali menjadi pribadi yang sama. Yang berubah hanya angka di kalender, bukan karakter.
Mungkin inilah ironi terbesar umat hari ini: kita begitu antusias memperingati hijrah, tetapi enggan berhijrah.
Hijrah Nabi Muhammad SAW, bukanlah seremoni tahunan. Hijrah adalah revolusi kesadaran. Rasulullah tidak sekadar memindahkan umat dari Makkah ke Madinah, tetapi memindahkan manusia dari penyembahan kepentingan menuju penyembahan kepada Allah; dari budaya kekuasaan menuju budaya amanah; dari kebanggaan atas keturunan menuju kemuliaan karena ketakwaan.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana hijrah itu hidup dalam diri kita?
Kita masih marah ketika kepentingan pribadi terusik, tetapi diam ketika kepentingan publik dirampas. Kita lantang mengutuk kezaliman yang dilakukan orang lain, tetapi pandai mencari dalih ketika kezaliman itu menguntungkan kelompok sendiri. Kita ingin pemimpin yang bersih, tetapi sering kali masih memaklumi cara-cara yang kotor selama hasilnya menguntungkan.
Inilah penyakit yang paling sulit disembuhkan: kemunafikan moral yang dibungkus kesalehan simbolik.
SETIAP 1 Muharram, linimasa dipenuhi ucapan “Selamat Tahun Baru Islam.” Masjid ramai. Spanduk terbentang. Ceramah digelar. Doa dipanjatkan. Tetapi setelah itu, kita kembali menjadi pribadi yang sama. Yang berubah hanya angka di kalender, bukan karakter.
Mungkin inilah ironi terbesar umat hari ini: kita begitu antusias memperingati hijrah, tetapi enggan berhijrah.
Hijrah Nabi Muhammad SAW, bukanlah seremoni tahunan. Hijrah adalah revolusi kesadaran. Rasulullah tidak sekadar memindahkan umat dari Makkah ke Madinah, tetapi memindahkan manusia dari penyembahan kepentingan menuju penyembahan kepada Allah; dari budaya kekuasaan menuju budaya amanah; dari kebanggaan atas keturunan menuju kemuliaan karena ketakwaan.
Pertanyaannya, sudah sejauh mana hijrah itu hidup dalam diri kita?
Kita masih marah ketika kepentingan pribadi terusik, tetapi diam ketika kepentingan publik dirampas. Kita lantang mengutuk kezaliman yang dilakukan orang lain, tetapi pandai mencari dalih ketika kezaliman itu menguntungkan kelompok sendiri. Kita ingin pemimpin yang bersih, tetapi sering kali masih memaklumi cara-cara yang kotor selama hasilnya menguntungkan.
Inilah penyakit yang paling sulit disembuhkan: kemunafikan moral yang dibungkus kesalehan simbolik.