Antara Langit Takdir dan Bumi Usaha: Tafsir Spiritual QS.11: 6
Muh Ikhsan AR
Selasa, 23 Juni 2026 - 05:40 WIB
Dr H Muh Ikhsan AR M Ag, Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam IAIN Kendari. Foto: Istimewa
Oleh: Dr H Muh Ikhsan AR M Ag.
(Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam IAIN Kendari)
Di tengah dunia yang makin cepat, rezeki sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar tanpa henti. Orang bekerja siang malam, mengejar peluang, bersaing di pasar kerja, bahkan berlomba di ruang digital. Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang sama: Apakah rezeki saya cukup?
Pertanyaan ini ternyata sudah dijawab sejak lama dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Hūd ayat 6:
Tidak ada satu makhluk pun di bumi melainkan Allah telah menjamin rezekinya.
Ayat ini terdengar menenangkan, tetapi juga sering disalahpahami. Apakah ini berarti manusia cukup diam dan menunggu rezeki datang?
Justru di sinilah letak keseimbangannya: Islam tidak pernah memisahkan langit takdir dari bumi usaha.
(Dosen Sejarah Peradaban dan Pemikiran Islam IAIN Kendari)
Di tengah dunia yang makin cepat, rezeki sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar tanpa henti. Orang bekerja siang malam, mengejar peluang, bersaing di pasar kerja, bahkan berlomba di ruang digital. Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang sama: Apakah rezeki saya cukup?
Pertanyaan ini ternyata sudah dijawab sejak lama dalam Al-Qur’an, salah satunya melalui Surah Hūd ayat 6:
Tidak ada satu makhluk pun di bumi melainkan Allah telah menjamin rezekinya.
Ayat ini terdengar menenangkan, tetapi juga sering disalahpahami. Apakah ini berarti manusia cukup diam dan menunggu rezeki datang?
Justru di sinilah letak keseimbangannya: Islam tidak pernah memisahkan langit takdir dari bumi usaha.