Mengenang Keteladanan & Perjuangan Ajoeba Wartabone Lewat Bedah Buku
Tri Yari Kurniawan
Selasa, 23 Juni 2026 - 20:18 WIB
Suasana pelaksanaan bedah buku tokoh pejuang dan tokoh bangsa asal Indonesia Timur Ajoeba Wartabone di Kota Makassar. Foto/Istimewa
Kisah perjuangan dan pemikiran Ajoeba Wartabone kembali diangkat melalui kegiatan bedah buku yang digelar di Makassar. Kegiatan ini menjadi momentum untuk mengenalkan kembali sosok pejuang dan tokoh bangsa asal Indonesia Timur yang telah memberikan kontribusi besar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia.
Dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, pegiat literasi, serta kalangan muda, forum tersebut tidak hanya membahas perjalanan hidup Ajoeba Wartabone, tetapi juga menyoroti nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian yang diwariskannya. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan saat ini.
Penyelenggara kegiatan yang juga cucu tertua Ajoeba Wartabone, Roeland Niode, mengatakan bedah buku tersebut merupakan upaya untuk menjaga dan meneruskan memori sejarah kepada generasi penerus.
“Sebagai cucu, saya tumbuh dengan cerita tentang pengabdian dan perjuangan Kakek Ajoeba Wartabone. Namun yang lebih penting bukanlah hubungan keluarga kami, melainkan bagaimana nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan pengabdiannya dapat terus dikenal oleh generasi muda. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut merawat dan menyampaikan warisan pemikiran beliau kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Menurut Roeland, sosok Ajoeba Wartabone tidak hanya menjadi bagian dari sejarah keluarga, tetapi juga merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang patut terus dikenang dan dipelajari.
“Beliau adalah kakek saya secara biologis, tetapi warisan perjuangan dan pengabdiannya adalah milik bangsa Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad, menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap tokoh-tokoh bangsa yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan Indonesia.
Dihadiri tokoh masyarakat, akademisi, pegiat literasi, serta kalangan muda, forum tersebut tidak hanya membahas perjalanan hidup Ajoeba Wartabone, tetapi juga menyoroti nilai-nilai kepemimpinan, keberanian, dan pengabdian yang diwariskannya. Nilai-nilai tersebut dinilai tetap relevan dalam menghadapi berbagai tantangan kebangsaan saat ini.
Penyelenggara kegiatan yang juga cucu tertua Ajoeba Wartabone, Roeland Niode, mengatakan bedah buku tersebut merupakan upaya untuk menjaga dan meneruskan memori sejarah kepada generasi penerus.
“Sebagai cucu, saya tumbuh dengan cerita tentang pengabdian dan perjuangan Kakek Ajoeba Wartabone. Namun yang lebih penting bukanlah hubungan keluarga kami, melainkan bagaimana nilai-nilai perjuangan, keberanian, dan pengabdiannya dapat terus dikenal oleh generasi muda. Saya merasa memiliki tanggung jawab moral untuk ikut merawat dan menyampaikan warisan pemikiran beliau kepada masyarakat luas,” ujarnya.
Menurut Roeland, sosok Ajoeba Wartabone tidak hanya menjadi bagian dari sejarah keluarga, tetapi juga merupakan bagian penting dari sejarah bangsa yang patut terus dikenang dan dipelajari.
“Beliau adalah kakek saya secara biologis, tetapi warisan perjuangan dan pengabdiannya adalah milik bangsa Indonesia,” katanya.
Sementara itu, Ketua Umum Lamahu, Fadel Muhammad, menegaskan pentingnya menjaga ingatan kolektif terhadap tokoh-tokoh bangsa yang telah memberikan sumbangsih besar bagi perjalanan Indonesia.