home news

Kolaborasi Jadi Penggerak Hilirisasi Berkelanjutan ala PT Vale

Jum'at, 27 Maret 2026 - 14:32 WIB
PT Vale terus berupaya membangun kemitraan yang erat dengan pemerintah daerah dan seluruh pemangku kepentingan untuk menjadi motor penggerak hilirisasi. Foto/IST
Keberhasilan investasi berskala besar tidak hanya ditentukan oleh kekuatan modal dan teknologi, tetapi juga oleh kualitas kolaborasi antara perusahaan, pemerintah, aparat, serta masyarakat. Prinsip tersebut terus menjadi pijakan PT Vale Indonesia Tbk dalam mengembangkan Indonesia Growth Project (IGP) Morowali sebagai salah satu proyek strategis yang mendukung percepatan hilirisasi mineral nasional.

Melalui pengembangan IGP Morowali, PT Vale berupaya membangun kemitraan yang erat dengan Pemerintah Kabupaten Morowali dan seluruh pemangku kepentingan guna memastikan investasi berjalan selaras dengan pembangunan daerah, sekaligus menghadirkan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan secara berkelanjutan.

Komitmen tersebut kembali ditegaskan dalam pertemuan antara jajaran manajemen PT Vale dengan Pemerintah Kabupaten Morowali dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) yang berlangsung di Port Facilities Bahomotefe, Bungku Timur, Morowali. Pertemuan ini menjadi ruang dialog untuk memperkuat komunikasi, menyamakan persepsi, dan menjaga stabilitas investasi di daerah.

Hadir dalam kesempatan tersebut Bupati Morowali Iksan Baharudin Abd Rauf, Ketua DPRD Morowali Herdiyanto Marzuki, Dandim 1311 Morowali Letkol Inf. Abraham Sada Panjaitan, Wakapolres Morowali Kompol I. Nyoman Arka Wiyasa, serta jajaran manajemen PT Vale yang dipimpin Presiden Direktur dan CEO Bernardus Irmanto, Chief Project Officer Muhammad Asril, serta Chief Sustainability and Corporate Affairs Officer Budiawansyah.

Presiden Direktur dan CEO PT Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan, IGP Morowali merupakan investasi strategis senilai sekitar US$2 miliar yang dirancang untuk memperkuat rantai hilirisasi nikel nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi Indonesia.

Proyek tersebut meliputi pengembangan area tambang dan pembangunan fasilitas pengolahan berbasis High Pressure Acid Leach (HPAL) yang ditargetkan mulai beroperasi secara bertahap pada periode 2026–2027.

Menurut Bernardus, capaian pembangunan proyek hingga saat ini tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah dan Forkopimda yang terus menjaga iklim investasi tetap kondusif.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya