UMI Perkuat Ketahanan Mental Orang Tua ABK melalui Edukasi, Skrining, dan Inovasi Digital
Tim SINDOmakassar
Jum'at, 24 Juli 2026 - 07:27 WIB
Tim pelaksana utama PkM bertajuk Penguatan Ketahanan Psikososial dan Literasi Kesehatan Mental Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus. Foto: Istimewa
Universitas Muslim Indonesia (UMI) kembali menunjukkan komitmennya dalam penguatan kesehatan mental masyarakat melalui kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk "Penguatan Ketahanan Psikososial dan Literasi Kesehatan Mental Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus" yang dilaksanakan pada 6–7 Juli 2026 di Sentra Wirajaya Makassar.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Makassar, dan didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program ini menyasar orang tua dan wali anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai kelompok yang selama ini sering luput dari perhatian, padahal memiliki risiko tinggi mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan pengasuhan yang berlangsung dalam jangka panjang. Melalui kegiatan ini, UMI berupaya meningkatkan literasi kesehatan mental, melakukan deteksi dini gangguan psikologis, serta menyediakan tindak lanjut berupa pendampingan psikososial bagi peserta yang membutuhkan.
Tim pelaksana PkM merupakan kolaborasi multidisiplin dari Fakultas Kedokteran dan Program Studi Teknik Informatika UMI yang diketuai oleh dr Rezky Putri Indarwati Abdullah, dengan anggota dr Muhammad Alim Jaya, MARS, Dr Ramdan Satra, Ahmad Syafii, Afifah Nasyrah, serta didukung oleh beberapa tenaga pendukung (supporting team) yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Pada hari pertama, peserta memperoleh edukasi mengenai parenting stress, tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental, pentingnya dukungan sosial, serta strategi koping yang adaptif. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan berbagi pengalaman antarsesama orang tua, sehingga menciptakan ruang saling menguatkan di antara para peserta.
Hari kedua difokuskan pada skrining kesehatan mental menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang telah tervalidasi. Sebanyak 30 orang tua ABK mengikuti skrining melalui aplikasi berbasis web "Sahabat Pena"(sahabatpenaforkesi.com), sebuah inovasi digital yang dikembangkan oleh tim pelaksana PkM UMI untuk mempermudah proses deteksi dini kesehatan mental secara mandiri dan efisien.
Hasil skrining menunjukkan bahwa 7 dari 30 peserta (23%) terindikasi mengalami masalah kesehatan mental yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi. Temuan ini menjadi bukti penting bahwa skrining berbasis komunitas mampu mengungkap persoalan psikologis yang selama ini tersembunyi dan belum mendapatkan penanganan.
Kegiatan ini bekerja sama dengan Forum Keluarga Spesial Indonesia (Forkesi) Makassar, dan didukung oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Program ini menyasar orang tua dan wali anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai kelompok yang selama ini sering luput dari perhatian, padahal memiliki risiko tinggi mengalami tekanan psikologis akibat tuntutan pengasuhan yang berlangsung dalam jangka panjang. Melalui kegiatan ini, UMI berupaya meningkatkan literasi kesehatan mental, melakukan deteksi dini gangguan psikologis, serta menyediakan tindak lanjut berupa pendampingan psikososial bagi peserta yang membutuhkan.
Tim pelaksana PkM merupakan kolaborasi multidisiplin dari Fakultas Kedokteran dan Program Studi Teknik Informatika UMI yang diketuai oleh dr Rezky Putri Indarwati Abdullah, dengan anggota dr Muhammad Alim Jaya, MARS, Dr Ramdan Satra, Ahmad Syafii, Afifah Nasyrah, serta didukung oleh beberapa tenaga pendukung (supporting team) yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan di lapangan.
Pada hari pertama, peserta memperoleh edukasi mengenai parenting stress, tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental, pentingnya dukungan sosial, serta strategi koping yang adaptif. Kegiatan berlangsung interaktif dengan sesi diskusi dan berbagi pengalaman antarsesama orang tua, sehingga menciptakan ruang saling menguatkan di antara para peserta.
Hari kedua difokuskan pada skrining kesehatan mental menggunakan instrumen Self-Reporting Questionnaire (SRQ-29) yang telah tervalidasi. Sebanyak 30 orang tua ABK mengikuti skrining melalui aplikasi berbasis web "Sahabat Pena"(sahabatpenaforkesi.com), sebuah inovasi digital yang dikembangkan oleh tim pelaksana PkM UMI untuk mempermudah proses deteksi dini kesehatan mental secara mandiri dan efisien.
Hasil skrining menunjukkan bahwa 7 dari 30 peserta (23%) terindikasi mengalami masalah kesehatan mental yang sebelumnya belum pernah teridentifikasi. Temuan ini menjadi bukti penting bahwa skrining berbasis komunitas mampu mengungkap persoalan psikologis yang selama ini tersembunyi dan belum mendapatkan penanganan.