Film SOLATA Raih Penghargaan di Bulgaria, Selesaikan Tur 5 Kota di 4 Negara Eropa Timur
Tim SINDOmakassar
Rabu, 29 Juli 2026 - 17:03 WIB
Penghargaan diterima langsung oleh Ichwan Persada bersama produser pelaksana Irfan Syam, didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara. Foto: Istimewa
Film independen Indonesia SOLATA (Teman Adalah Keluarga yang Kita Pilih) kembali mengukir prestasi di kancah internasional setelah meraih penghargaan pada ajang Golden FEMI Film Festival di Sofia, Bulgaria.
Kesuksesan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tur promosi film ke lima kota di empat negara Eropa Timur sekaligus membuka peluang kerja sama produksi film lintas negara.
Film garapan sutradara sekaligus produser Ichwan Persada menerima Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism, sebuah penghargaan yang diberikan atas kontribusi budaya dan nilai-nilai kemanusiaan yang diangkat dalam film tersebut. Penghargaan diterima langsung oleh Ichwan Persada bersama produser pelaksana Irfan Syam, didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta, di Sofia pada 6 Juni lalu.
Film SOLATA, yang telah tayang di bioskop sejak November 2025, mengisahkan seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di wilayah Ollon, Toraja, melalui program Kelas Jauh. Di sana, ia bertemu enam murid yang memiliki nama depan mirip dengan para presiden Indonesia, menghadirkan kisah persahabatan, pendidikan, dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Usai menerima penghargaan, tim film melanjutkan tur ke lima kota di empat negara, yakni Sofia (Bulgaria), Bratislava (Slovakia), Budapest (Hungaria), serta Ankara dan Istanbul (Turki). Selama di Bratislava dan Budapest, film SOLATA juga diputar dalam pemutaran khusus yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat. Antusiasme masyarakat, baik warga lokal maupun diaspora Indonesia, disebut melebihi ekspektasi.
Ichwan Persada mengaku terharu melihat sambutan hangat penonton. Menurutnya, apresiasi yang diberikan membuktikan bahwa sinema mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas budaya dan bahasa. Bahkan, seorang sutradara sekaligus sinematografer di Bratislava menyatakan ketertarikannya untuk berkolaborasi memproduksi film di Indonesia. Sementara di Budapest, salah seorang penonton dari UNESCO Artist for Peace mengaku tersentuh oleh kisah yang dihadirkan dalam film tersebut.
Selain memperkenalkan budaya Indonesia melalui layar lebar, tur Eropa Timur ini juga dimanfaatkan untuk menjajaki kerja sama produksi film internasional. Tim SOLATA telah melakukan pertemuan dengan Bulgaria Film Center, Slovakia Film Commission, dan Ankara Bilim University guna membuka peluang produksi bersama yang ditargetkan dapat terealisasi paling lambat tahun depan.
Kesuksesan tersebut menjadi bagian dari rangkaian tur promosi film ke lima kota di empat negara Eropa Timur sekaligus membuka peluang kerja sama produksi film lintas negara.
Film garapan sutradara sekaligus produser Ichwan Persada menerima Special Award for Cinema from the Emerald of the Equator: Cultural Contribution and Humanism, sebuah penghargaan yang diberikan atas kontribusi budaya dan nilai-nilai kemanusiaan yang diangkat dalam film tersebut. Penghargaan diterima langsung oleh Ichwan Persada bersama produser pelaksana Irfan Syam, didampingi Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria, Albania, dan Makedonia Utara, Listiana Operananta, di Sofia pada 6 Juni lalu.
Film SOLATA, yang telah tayang di bioskop sejak November 2025, mengisahkan seorang relawan guru asal Jakarta yang mengajar di wilayah Ollon, Toraja, melalui program Kelas Jauh. Di sana, ia bertemu enam murid yang memiliki nama depan mirip dengan para presiden Indonesia, menghadirkan kisah persahabatan, pendidikan, dan nilai kemanusiaan yang kuat.
Usai menerima penghargaan, tim film melanjutkan tur ke lima kota di empat negara, yakni Sofia (Bulgaria), Bratislava (Slovakia), Budapest (Hungaria), serta Ankara dan Istanbul (Turki). Selama di Bratislava dan Budapest, film SOLATA juga diputar dalam pemutaran khusus yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia setempat. Antusiasme masyarakat, baik warga lokal maupun diaspora Indonesia, disebut melebihi ekspektasi.
Ichwan Persada mengaku terharu melihat sambutan hangat penonton. Menurutnya, apresiasi yang diberikan membuktikan bahwa sinema mampu menjadi bahasa universal yang melampaui batas budaya dan bahasa. Bahkan, seorang sutradara sekaligus sinematografer di Bratislava menyatakan ketertarikannya untuk berkolaborasi memproduksi film di Indonesia. Sementara di Budapest, salah seorang penonton dari UNESCO Artist for Peace mengaku tersentuh oleh kisah yang dihadirkan dalam film tersebut.
Selain memperkenalkan budaya Indonesia melalui layar lebar, tur Eropa Timur ini juga dimanfaatkan untuk menjajaki kerja sama produksi film internasional. Tim SOLATA telah melakukan pertemuan dengan Bulgaria Film Center, Slovakia Film Commission, dan Ankara Bilim University guna membuka peluang produksi bersama yang ditargetkan dapat terealisasi paling lambat tahun depan.