home news

PLN Siapkan Modifikasi Cuaca untuk Jaga Debit Air PLTA di Musim Kemarau

Rabu, 23 September 2026 - 15:37 WIB
Petugas melakukan pemeriksaan dan persiapan drone sebelum pelaksanaan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) untuk mendukung keandalan pasokan listrik di PLTA. Foto/Istimewa
Menghadapi musim kemarau yang berpotensi menekan debit air pembangkit, PT PLN (Persero) memperkuat koordinasi lintas sektor untuk menjalankan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di sejumlah wilayah. Langkah ini dilakukan untuk menjaga ketersediaan air sekaligus memastikan keandalan pasokan listrik dari pembangkit listrik tenaga air (PLTA).

PLN berkoordinasi dengan pemerintah daerah, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam pelaksanaan TMC. Sejumlah pembangkit yang menjadi perhatian antara lain PLTA Bakaru, PLTA Malea, dan PLTA Poso.

Kepala BPBD Sulawesi Tengah Darma Metusela mengatakan, pemerintah daerah terlibat sejak tahap persiapan hingga pelaksanaan operasi modifikasi cuaca. Keterlibatan tersebut mencakup survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pemantauan pelaksanaan di lapangan.

“Proses koordinasi yang kami lakukan sangat komprehensif. Dari pihak Pemda, kami terus mendampingi dan terlibat langsung sejak tahapan survei, pengkajian lokasi sasaran, hingga pelaksanaan eksekusi di lapangan agar operasi TMC dapat berjalan optimal,” ujar Darma.

Di Sulawesi Tengah, operasi penyemaian awan telah direalisasikan di sejumlah titik, antara lain Meko dan Tokilo pada 20 September 2026. Pelaksanaan penyemaian disesuaikan dengan hasil observasi atmosfer untuk memaksimalkan potensi terbentuknya hujan.

Sementara di Sulawesi Selatan, koordinasi pengamanan ketersediaan air dilakukan untuk mendukung operasional PLTA Malea yang memiliki kapasitas 90 MW. Gubernur Sulawesi Selatan telah meminta dukungan BMKG untuk pelaksanaan TMC guna menjaga keandalan pasokan listrik dari pembangkit tersebut.

PLTA Malea bergantung pada debit Sungai Saddang. Karena itu, pelaksanaan TMC diarahkan ke daerah tangkapan air (catchment area) sungai tersebut selama periode Agustus hingga September 2026 untuk membantu mempertahankan ketersediaan air selama musim kemarau.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya