Elektabilitas Golkar Terjaga, IAS Sebut Komunikasi Bahlil Jadi Faktor Penting
Tri Yari Kurniawan
Kamis, 24 September 2026 - 11:02 WIB
Gaya komunikasi Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang lebih cair dan terbuka dinilai menjadi salah satu faktor penting terjaganya elektabilitas Partai Golkar. Foto/Dok SINDO Makassar
Partai Golkar tercatat memiliki elektabilitas 10,4 persen dalam survei nasional Poltracking Indonesia yang dilakukan pada Agustus 2026. Ketua DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan Ilham Arief Sirajuddin (IAS) menilai kemampuan komunikasi politik dan konsolidasi organisasi menjadi bagian penting dalam menjaga dukungan terhadap partai.
Dalam survei yang dirilis Poltracking pada 23 September 2026, Golkar berada di posisi ketiga dalam simulasi surat suara 18 partai politik, setelah Partai Gerindra dengan 23,2 persen dan PDI Perjuangan 11,6 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Poltracking menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Data Poltracking juga menunjukkan elektabilitas Golkar bergerak dari 9,5 persen pada Oktober 2025 menjadi 9 persen pada Maret 2026, 9,2 persen pada Mei, kemudian meningkat menjadi 11,4 persen pada Juli dan berada di 10,4 persen pada Agustus 2026.
Menurut IAS, dinamika tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap pemilih nasional, terutama semakin besarnya peran kelompok pemilih muda.
Ia menilai gaya komunikasi Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang lebih cair dan terbuka dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menjangkau kelompok pemilih tersebut.
“Gaya Pak Ketum Bahlil yang lugas, fleksibel, dan merakyat ini sangat efektif mencairkan kesan formalis yang selama ini melekat pada birokrasi politik,” ujar IAS kepada wartawan di Makassar, Rabu (23/9/2026).
Dalam survei yang dirilis Poltracking pada 23 September 2026, Golkar berada di posisi ketiga dalam simulasi surat suara 18 partai politik, setelah Partai Gerindra dengan 23,2 persen dan PDI Perjuangan 11,6 persen.
Survei tersebut dilakukan pada 14–20 Agustus 2026 dengan melibatkan 1.220 responden di 38 provinsi. Poltracking menggunakan metode stratified multistage random sampling, dengan margin of error sekitar 2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.
Data Poltracking juga menunjukkan elektabilitas Golkar bergerak dari 9,5 persen pada Oktober 2025 menjadi 9 persen pada Maret 2026, 9,2 persen pada Mei, kemudian meningkat menjadi 11,4 persen pada Juli dan berada di 10,4 persen pada Agustus 2026.
Menurut IAS, dinamika tersebut perlu dibaca sebagai bagian dari perubahan lanskap pemilih nasional, terutama semakin besarnya peran kelompok pemilih muda.
Ia menilai gaya komunikasi Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia yang lebih cair dan terbuka dapat menjadi salah satu pendekatan dalam menjangkau kelompok pemilih tersebut.
“Gaya Pak Ketum Bahlil yang lugas, fleksibel, dan merakyat ini sangat efektif mencairkan kesan formalis yang selama ini melekat pada birokrasi politik,” ujar IAS kepada wartawan di Makassar, Rabu (23/9/2026).