Sutradara Film Solata Bawa Film Berlatar Sulawesi Selatan Keliling Eropa Tahun Depan
Tim SINDOmakassar
Minggu, 27 September 2026 - 13:07 WIB
Film SOLATA tayang perdana secara internasional di Sofia [Bulgaria] pada Januari 2026. Foto: Istimewa
Setelah tayang perdana di bioskop pada November 2025 lalu, film SOLATA tayang perdana secara internasional di Sofia [Bulgaria] pada Januari 2026. Film besutan sutradara Ichwan Persada tersebut tayang perdana di acara Sofia Menar Film Festival yang berlangsung meriah dan dihadiri 7 duta besar dan perwakilan dari 13 negara sahabat.
Setelahnya film SOLATA terus menjajal sejumlah festival dan juga tayang di sejumlah negara. Sejauh ini film yang dibintangi Rendy Kjaernett dan Rachel Natasya tersebut sudah tayang di festival di Bulgaria, Yordania dan Republik Ceko. Sementara itu film SOLATA juga tayang secara khusus di Slowakia, Hungaria, Bahrain dan Tanzania dan dijadwalkan akan tayang dalam waktu dekat di Maroko, Finlandia dan Filipina.
Melihat kesuksesan film SOLATA tersebut membuat Ichwan tergerak untuk membawa film berlatar Sulawesi Selatan lainnya bertemu penonton-penonton baru di Eropa tahun depan.
“Sewaktu hadir saat pemutaran khusus film SOLATA di Slowakia dan Hungaria, kami melihat kegairahan dari publik internasional untuk menyaksikan lebih banyak lagi film dari Indonesia. Karena saya berasal dari Sulawesi Selatan maka terbit keinginan saya untuk memperkenalkan lokasi ini ke dunia internasional melalui film," ujar pria asal Makassar tersebut.
Melalui program yang dilabelinya South Sulawesi International Film Festival tersebut, Ichwan menetapkan Eropa sebagai target awal. “Kebetulan memang kami memulainya dari Eropa Timur dan sudah menjalin hubungan baik dengan sejumlah Kedutaan Besar/Konsulat Jenderal di beberapa negara. Mereka sudah percaya dan bekerjasama baik dengan kami sebelumnya. Jadinya kami ingin memulainya dari sini sembari membawa beberapa film kami diantaranya SILARIANG: Cinta [Yang] Tak Direstui [2018] dan sebuah proyek film dokumenter panjang tentang masyarakat adat di Sulawesi Selatan yang sedang kami lakukan risetnya, “ tambahnya.
Ichwan menegaskan tak mudah mencari film berlatar Sulawesi Selatan dengan kualitas mumpuni yang sekaligus bisa menyodorkan lansekap budaya/wisata dengan isu penting dan relevan.
“Film sejenis SOLATA memang sudah tak banyak diproduksi di Indonesia. Karenanya semoga melalui kegiatan ini semakin menggerakkan para sineas asal Sulawesi Selatan untuk mengeksplorasi cerita-cerita menarik dan berbeda dan tak takut menggarap cerita dengan isu-isu penting, “ jelasnya.
Setelahnya film SOLATA terus menjajal sejumlah festival dan juga tayang di sejumlah negara. Sejauh ini film yang dibintangi Rendy Kjaernett dan Rachel Natasya tersebut sudah tayang di festival di Bulgaria, Yordania dan Republik Ceko. Sementara itu film SOLATA juga tayang secara khusus di Slowakia, Hungaria, Bahrain dan Tanzania dan dijadwalkan akan tayang dalam waktu dekat di Maroko, Finlandia dan Filipina.
Melihat kesuksesan film SOLATA tersebut membuat Ichwan tergerak untuk membawa film berlatar Sulawesi Selatan lainnya bertemu penonton-penonton baru di Eropa tahun depan.
“Sewaktu hadir saat pemutaran khusus film SOLATA di Slowakia dan Hungaria, kami melihat kegairahan dari publik internasional untuk menyaksikan lebih banyak lagi film dari Indonesia. Karena saya berasal dari Sulawesi Selatan maka terbit keinginan saya untuk memperkenalkan lokasi ini ke dunia internasional melalui film," ujar pria asal Makassar tersebut.
Melalui program yang dilabelinya South Sulawesi International Film Festival tersebut, Ichwan menetapkan Eropa sebagai target awal. “Kebetulan memang kami memulainya dari Eropa Timur dan sudah menjalin hubungan baik dengan sejumlah Kedutaan Besar/Konsulat Jenderal di beberapa negara. Mereka sudah percaya dan bekerjasama baik dengan kami sebelumnya. Jadinya kami ingin memulainya dari sini sembari membawa beberapa film kami diantaranya SILARIANG: Cinta [Yang] Tak Direstui [2018] dan sebuah proyek film dokumenter panjang tentang masyarakat adat di Sulawesi Selatan yang sedang kami lakukan risetnya, “ tambahnya.
Ichwan menegaskan tak mudah mencari film berlatar Sulawesi Selatan dengan kualitas mumpuni yang sekaligus bisa menyodorkan lansekap budaya/wisata dengan isu penting dan relevan.
“Film sejenis SOLATA memang sudah tak banyak diproduksi di Indonesia. Karenanya semoga melalui kegiatan ini semakin menggerakkan para sineas asal Sulawesi Selatan untuk mengeksplorasi cerita-cerita menarik dan berbeda dan tak takut menggarap cerita dengan isu-isu penting, “ jelasnya.