Athirah Baruga Education Expo Tampilkan 99 Karya Siswa, 7 Guru Besar jadi Penguji
Dewan Ghiyats Yan Galistan
Sabtu, 17 Oktober 2026 - 13:38 WIB
Suasana pembukaan ABEE Volume 5 di Onyx Ballroom Myko Hotel, Sabtu (17/10/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
SMA Islam Athirah Bukit Baruga menggelar Athirah Baruga Education Expo (ABEE) Volume 5 di Onyx Ballroom, Myko Hotel, Kecamatan Panakkukang, Makassar, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan bertajuk Discover Your Strengths, Explore Your Career Direction ini, menampilkan 99 karya siswa dan melibatkan tujuh guru besar sebagai penguji eksternal.
Kepala SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Dr. Bakry Liwang mengatakan, ABEE telah diselenggarakan secara konsisten selama lima tahun. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa kelas XII untuk memamerkan sekaligus mempresentasikan proyek akhir mereka.
"Kegiatan ini menampilkan pameran serta presentasi proyek akhir siswa kelas 12. Proyek akhir ini terdiri dari proyek karya ilmiah, proyek literasi pembuatan buku, proyek digital, proyek magang, dan program pengabdian masyarakat. Persiapan kegiatan ini dilakukan kurang lebih selama dua bulan, mulai dari proses seleksi, pelaksanaan kegiatan, hingga pembuatan laporan," ujarnya kepada SINDO Makassar.
Menurut Bakry, proyek akhir tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan kesiapan dan keterampilan yang dibutuhkan saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Secara mendasar, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat 7 kompetensi utama pada siswa, yaitu Critical Thinking (Berpikir kritis), Creative Thinking (Berpikir kreatif), Collaborative (Kemampuan berkolaborasi), Communication Skill (Keterampilan komunikasi), Computational Thinking (Berpikir komputasional), Character (Karakter yang baik), dan Complex Problem Solving (Penyelesaian masalah yang kompleks)," sebutnya.
ABEE Volume 5 melibatkan penguji internal dan eksternal. Tujuh guru besar dari sejumlah perguruan tinggi di Makassar, termasuk Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Universitas Muslim Indonesia (UMI), turut menjadi penguji eksternal.
"Alasan kami menghadirkan para guru besar sejak awal adalah agar anak-anak kita dapat berinteraksi langsung dengan para pakar di bidangnya masing-masing, sehingga mereka mendapatkan masukan yang profesional. Misalnya, ketika siswa meneliti tentang kesehatan, kami menghadirkan profesor dan guru besar di bidang kesehatan. Begitu pula dengan bidang-bidang lainnya seperti digital dan sastra," paparnya.
Kepala SMA Islam Athirah Bukit Baruga, Dr. Bakry Liwang mengatakan, ABEE telah diselenggarakan secara konsisten selama lima tahun. Kegiatan ini menjadi wadah bagi siswa kelas XII untuk memamerkan sekaligus mempresentasikan proyek akhir mereka.
"Kegiatan ini menampilkan pameran serta presentasi proyek akhir siswa kelas 12. Proyek akhir ini terdiri dari proyek karya ilmiah, proyek literasi pembuatan buku, proyek digital, proyek magang, dan program pengabdian masyarakat. Persiapan kegiatan ini dilakukan kurang lebih selama dua bulan, mulai dari proses seleksi, pelaksanaan kegiatan, hingga pembuatan laporan," ujarnya kepada SINDO Makassar.
Menurut Bakry, proyek akhir tersebut dirancang untuk membekali siswa dengan kesiapan dan keterampilan yang dibutuhkan saat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi.
"Secara mendasar, kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat 7 kompetensi utama pada siswa, yaitu Critical Thinking (Berpikir kritis), Creative Thinking (Berpikir kreatif), Collaborative (Kemampuan berkolaborasi), Communication Skill (Keterampilan komunikasi), Computational Thinking (Berpikir komputasional), Character (Karakter yang baik), dan Complex Problem Solving (Penyelesaian masalah yang kompleks)," sebutnya.
ABEE Volume 5 melibatkan penguji internal dan eksternal. Tujuh guru besar dari sejumlah perguruan tinggi di Makassar, termasuk Universitas Hasanuddin (Unhas), Universitas Negeri Makassar (UNM), dan Universitas Muslim Indonesia (UMI), turut menjadi penguji eksternal.
"Alasan kami menghadirkan para guru besar sejak awal adalah agar anak-anak kita dapat berinteraksi langsung dengan para pakar di bidangnya masing-masing, sehingga mereka mendapatkan masukan yang profesional. Misalnya, ketika siswa meneliti tentang kesehatan, kami menghadirkan profesor dan guru besar di bidang kesehatan. Begitu pula dengan bidang-bidang lainnya seperti digital dan sastra," paparnya.