home news

FSIKP UMI Peringati Bulan Bahasa, Perkuat Literasi dan Kolaborasi Internasional di Era Digital

Minggu, 18 Oktober 2026 - 12:33 WIB
Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar peringatan Bulan Bahasa 2026 dengan menghadirkan sejumlah kegiatan akademik. Foto: Istimewa
Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI) menggelar peringatan Bulan Bahasa 2026 dengan menghadirkan sejumlah kegiatan akademik, kebahasaan, kesastraan, dan kebudayaan yang melibatkan akademisi, praktisi, mahasiswa, serta mitra nasional dan internasional.

Kegiatan yang dijadwalkan berlangsung pada Senin, 19 Oktober 2026, di Kampus UMI Makassar tersebut mengusung tema “Menggali Esensi Bahasa, Sastra, dan Budaya di Tengah Arus Percepatan Digital dan Krisis Refleksi.”

Peringatan Bulan Bahasa 2026 menjadi momentum strategis bagi FSIKP UMI untuk memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjaga eksistensi bahasa dan budaya, sekaligus membangun kesadaran kritis generasi muda terhadap perkembangan teknologi digital yang semakin pesat.

Kegiatan ini juga menjadi ruang kolaborasi antara UMI, Universiti Sains Islam Malaysia (USIM), Balai Bahasa Provinsi Sulawesi Selatan, Alekawa Language and Culture Center, serta mitra lainnya dalam pengembangan pendidikan, literasi, bahasa, dan kebudayaan.

Dekan FSIKP UMI, Dr Nurjannah Abna, menyampaikan bahwa peringatan Bulan Bahasa tidak sekadar menjadi agenda seremonial tahunan, melainkan harus dimaknai sebagai gerakan akademik dan kebudayaan untuk memperkuat kemampuan literasi, daya kritis, dan kesadaran berbahasa di tengah perkembangan teknologi.

Menurutnya, kemajuan teknologi digital telah memberikan kemudahan dalam mengakses dan menyebarluaskan informasi. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan terhadap kualitas komunikasi, penggunaan bahasa, serta kemampuan masyarakat dalam merefleksikan informasi secara mendalam.

“Peringatan Bulan Bahasa merupakan momentum penting untuk mengingatkan kita bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan juga sarana membangun peradaban, membentuk karakter, dan memperkuat identitas budaya. Di tengah percepatan digital, kita perlu memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis, kepekaan berbahasa, dan kesadaran terhadap nilai-nilai budaya,” ungkapnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya