home news

Opini

Menjemput Takdir Sejarah di Tanah Bersejarah

Kamis, 29 Oktober 2026 - 13:53 WIB
Darmawangsyah Muin resmi dilantik sebagai Bupati Gowa. Foto: Istimewa
Oleh: Mustamin Raga

Penulis Buku Negara dalam Kemasan: Dari Brand Produk ke Politik Citra

Takdir kadang-kadang tidak datang dengan bunyi genderang. Ia berjalan pelan, menyelinap di antara kerja panjang, keputusan-keputusan yang tidak selalu dipahami orang, kesempatan yang sengaja dilewatkan, dan kesabaran menunggu pintu yang tepat untuk diketuk. Ketika waktunya tiba, seseorang yang selama bertahun-tahun berada di sekitar panggung akhirnya berdiri tepat di tengahnya. Bukan lagi sebagai penonton, bukan pula sebagai pemain pendukung, melainkan sebagai orang yang harus menentukan ke mana cerita akan dibawa.

Begitulah Darmawangsyah Muin, yang akrab disingkat DM, menjemput takdir politiknya di tanah bersejarah, Gowa. Pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman melantiknya sebagai Bupati Gowa ke-12. Tanggal itu seolah memberikan lapisan makna tersendiri bagi perjalanan seorang politikus yang kini harus membuktikan bahwa cita-cita pembaruan tidak berhenti sebagai bunyi slogan, tetapi menjelma menjadi kerja yang dapat disentuh oleh kehidupan masyarakat.

Empat belas hari sebelumnya, sejak 14 Oktober 2026, DM menjalankan tugas sebagai Pelaksana Tugas Bupati Gowa setelah Menteri Dalam Negeri memberhentikan Sitti Husniah Talenrang. Empat belas hari itu adalah jembatan pendek yang menghubungkan dua keadaan: dari seorang wakil bupati menjadi pemegang kendali pemerintahan, dari mendampingi keputusan menjadi orang yang harus berdiri paling depan ketika keputusan diambil. Tidak banyak waktu untuk menikmati perubahan posisi. Jabatan datang bersama pekerjaan rumah yang tidak mengenal seremoni.

Namun, kalau kita menarik benang perjalanan DM lebih jauh ke belakang, pelantikan itu bukanlah cerita yang muncul tiba-tiba dari ruang kosong. Ada jalan panjang yang telah dilaluinya, ada arena politik yang telah dijelajahi, dan ada sejumlah tikungan yang mengajarkan bahwa kekuasaan bukan hanya soal keberanian memasuki gelanggang, melainkan juga kecermatan membaca keadaan.

DM lahir pada 27 Desember 1975 di Dusun Lambengi, Desa Bontoala, Kecamatan Pallangga, Kabupaten Gowa, dari pasangan Abdul Muin Karaeng Muntu dan Siti Rukiyah. Ia bukan seseorang yang datang dari luar untuk kemudian mengenal Gowa melalui peta wilayah dan lembar statistik pemerintahan. Ia lahir dari tanah ini, tumbuh dalam lingkungan sosial dan kebudayaan yang memiliki akar panjang, lalu menapaki jalan politik yang akhirnya membawanya kembali ke tanah kelahirannya dengan tanggung jawab yang jauh lebih besar.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya