home news

Kosabangsa Dorong Petani dan Pembudidaya Ikan Kampung Malaus Mandiri Pupuk dan Pakan

Minggu, 01 November 2026 - 09:48 WIB
Tim peneliti Kosabangsa 2026 bersama masyarakat. Mereka mendorong dua kelompok mitra di Kampung Malaus, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat untuk mandiri pupuk dan pakan. Foto: Istimewa
Program Kolaborasi Sosial Membangun Masyarakat (Kosabangsa) 2026 mendorong dua kelompok mitra di Kampung Malaus, Distrik Salawati, Kabupaten Sorong, Papua Barat Daya, yakni Kelompok Tani Sekar Indah dan Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Sidomuncul, untuk memproduksi pupuk dan pakan secara mandiri.

Program bertajuk Penerapan Inovasi Pupuk dan Pakan Mandiri Berbasis Agro-Aquasirkular pada Masyarakat 3T untuk Mewujudkan Ketahanan Pangan Lokal Kampung Malaus ini dijalankan tim Universitas Pendidikan Muhammadiyah (UNIMUDA) Sorong bersama tim pendamping Universitas Papua (UNIPA), dengan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM), Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Kelompok Tani Sekar Indah yang dipimpin Suparman menerima traktor tangan untuk mengolah lahan, pelatihan pembuatan pupuk organik padat dan cair berbasis Tanah Endapan Fosfat Krandalit (TEFK) Ayamaru, inovasi berpaten UNIPA, serta sistem irigasi sprinkler bertenaga pompa alkon. Di hilir, tomat diolah menjadi sambal berkemasan, disertai pendampingan legalitas usaha, pencatatan keuangan, rencana bisnis, dan pemasaran digital.

Adapun Pokdakan Sidomuncul yang dipimpin Daud Yusup menghadapi persoalan pakan. Kelompok beranggotakan 15 pembudidaya dengan kolam ikan nila dan ikan mas seluas 1,2 hektare ini bergantung pada pakan pabrikan seharga sekitar Rp20.000 per kilogram. Dari kebutuhan 20 ton per siklus, hanya sekitar 5 ton yang mampu dipenuhi, padahal pakan menyerap 60–70 persen biaya produksi.

Sepanjang September–Oktober 2026, anggota dilatih menyusun formula pakan ikan omnivora berprotein 25–30 persen dari bahan lokal seperti tepung ikan, bekatul, dan minyak ikan. Produksi didukung mesin penepung, mixer, extruder pencetak pelet apung, dan pengering tenaga surya. Pelatihan dipadukan dengan penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB) dan pemantauan kualitas air menggunakan pH meter dan DO meter.

Hasilnya, 10 dari 15 anggota kini mampu menyusun formula pakan secara mandiri, skor manajemen pakan naik dari 20 menjadi 75 persen, dan skor penerapan CBIB kelompok meningkat dari 17,9 menjadi 65 persen. Kelompok juga dilatih mengolah ikan menjadi abon dan sambal ikan yang dipasarkan secara digital.

Ketua Tim Pelaksana, Nurfitri Rahim, M Si menyebut pakan sebagai titik ungkit utama. "Selama pakan masih dibeli mahal dari luar daerah, pembudidaya akan sulit untung. Targetnya, minimal 80 persen kebutuhan pakan kelompok dipenuhi dari pakan mandiri, sehingga biaya pakan turun 20 sampai 30 persen dan produksi ikan naik 20 sampai 25 persen," ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya