Tak Melaut karena Cuaca Buruk, Nelayan di Maros Andalkan Tabungan
Najmi S Limonu
Selasa, 13 Januari 2026 - 15:38 WIB
Kapal-kapal milik nelayan bersandar di dermaga dan muara sungai tanpa aktivitas. Foto: SINDO Makassar/Najmi S Limonu
Cuaca ekstrem melanda wilayah pesisir Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan, dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi ini membuat nelayan setempat memilih tidak melaut demi keselamatan.
Ombak tinggi dan angin kencang menyebabkan aktivitas melaut lumpuh. Sekitar 80 kapal nelayan tampak bersandar di dermaga dan muara sungai tanpa aktivitas. Suasana yang biasanya ramai dengan bongkar muat hasil tangkapan kini berubah sepi.
Sebagian nelayan terlihat memperbaiki perahu dan jaring, sementara lainnya memilih tinggal di rumah sambil menunggu cuaca membaik. Tidak sedikit nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut meski harus kehilangan penghasilan harian.
Salah seorang nelayan, Abdullah, mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Menurutnya, angin kencang disertai gelombang setinggi 3 hingga 4 meter sangat berisiko bagi keselamatan.
“Biasanya kita melaut sampai seminggu baru pulang. Tapi sekarang susah karena cuaca tidak menentu, jadi kita pilih tinggal,” ujar Abdullah.
Selama tidak melaut, Abdullah mengisi waktu dengan memperbaiki jaring dan perahunya yang bersandar di dermaga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan tabungan hasil melaut saat cuaca masih baik.
Sementara itu, Kepala Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Muhammad Arif, mengatakan sekitar 80 persen nelayan di wilayahnya menggunakan alat tangkap ikan torani yang sangat bergantung pada musim.
Ombak tinggi dan angin kencang menyebabkan aktivitas melaut lumpuh. Sekitar 80 kapal nelayan tampak bersandar di dermaga dan muara sungai tanpa aktivitas. Suasana yang biasanya ramai dengan bongkar muat hasil tangkapan kini berubah sepi.
Sebagian nelayan terlihat memperbaiki perahu dan jaring, sementara lainnya memilih tinggal di rumah sambil menunggu cuaca membaik. Tidak sedikit nelayan terpaksa menghentikan aktivitas melaut meski harus kehilangan penghasilan harian.
Salah seorang nelayan, Abdullah, mengaku sudah hampir sebulan tidak melaut akibat kondisi cuaca yang tidak bersahabat. Menurutnya, angin kencang disertai gelombang setinggi 3 hingga 4 meter sangat berisiko bagi keselamatan.
“Biasanya kita melaut sampai seminggu baru pulang. Tapi sekarang susah karena cuaca tidak menentu, jadi kita pilih tinggal,” ujar Abdullah.
Selama tidak melaut, Abdullah mengisi waktu dengan memperbaiki jaring dan perahunya yang bersandar di dermaga. Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, ia mengandalkan tabungan hasil melaut saat cuaca masih baik.
Sementara itu, Kepala Desa Tupabiring, Kecamatan Bontoa, Muhammad Arif, mengatakan sekitar 80 persen nelayan di wilayahnya menggunakan alat tangkap ikan torani yang sangat bergantung pada musim.