PLN Hadirkan Listrik untuk Petani di Bone, Produktivitas Naik dan Biaya Operasional Turun sampai 74 Persen
Tim SINDOmakassar
Selasa, 28 April 2026 - 17:42 WIB
Sirajudin, petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone menjadi salah satu bukti nyata yang merasakan langsung manfaat program ini. Foto: Istimewa
Di tengah hamparan kebun bawang yang hijau, langkah PT PLN (Persero) melalui program Electrifying Agriculture (EA) menghadirkan perubahan nyata bagi petani. Bukan sekadar menghadirkan listrik, namun juga menghadirkan harapan baru bagi peningkatan produktivitas dan efisiensi biaya di sektor pertanian. Inovasi tersebut menjadi langkah nyata PLN dalam mendukung program pemerintah untuk mewujudkan swasembada pangan.
Berkat program EA yang dicanangkan, salah satunya di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, terbukti mampu meningkatkan produksi sampai dengan dua kali lipat dan menekan biaya operasional hingga lebih hemat 74 persen dengan menggunakan listrik PLN.
Sirajudin, petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone menjadi salah satu bukti nyata yang merasakan langsung manfaat program ini. Dulu, aktivitas pengairan kebunnya sangat bergantung pada pompa berbahan bakar minyak. Setiap hari, ia harus memastikan ketersediaan bahan bakar agar proses penyiraman tetap berjalan.
“Dulu pakai pompa diesel, setiap hari harus cari BBM dulu agar bisa melakukan penyiraman kebun bawang. Kalau tidak ada BBM, ya tidak bisa jalan,” kenangnya.
Dalam satu kali siklus panen, Sirajudin membutuhkan sekitar 300 liter bensin untuk penyiraman selama satu bulan. Dengan harga eceran mencapai Rp13.000 per liter, biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp3.900.000 pun cukup besar dan tidak stabil.
Kini, kondisi itu berubah sejak hadirnya listrik dari PLN. Dengan menggunakan suplai listrik melalui Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) daya 5.500 Volt Ampere, proses pengairan dilakukan dengan pompa listrik yang hanya memerlukan sekitar 500an kilowatt hour (kWh) atau Rp1.000.000 untuk satu siklus penyiraman selama satu bulan. Air dari sungai dipompa secara stabil hingga mengalir ke seluruh area kebun bawang miliknya.
Perubahan paling terasa adalah pada efisiensi dan kemudahan operasional. Tidak lagi bergantung pada bahan bakar, tidak lagi harus mencari BBM setiap hari. Yang tak kalah penting adalah sejak hadirnya listrik yang digunakan untuk penerangan yang dapat mengurangi hama, ada peningkatan produksi bawang sampai dua kali lipat. Tercatat sebelumnya saat menggunakan diesel produksi bawang hanya 500-700 kilogram per siklus panen. Sekarang, hadirnya listrik yang digunakan sebagai sumber energi untuk penerangan penangkal hama, produksi bawang bisa meningkat sampai dengan satu ton.
Berkat program EA yang dicanangkan, salah satunya di Kabupaten Bone, Provinsi Sulawesi Selatan, terbukti mampu meningkatkan produksi sampai dengan dua kali lipat dan menekan biaya operasional hingga lebih hemat 74 persen dengan menggunakan listrik PLN.
Sirajudin, petani bawang di Desa Telle, Kabupaten Bone menjadi salah satu bukti nyata yang merasakan langsung manfaat program ini. Dulu, aktivitas pengairan kebunnya sangat bergantung pada pompa berbahan bakar minyak. Setiap hari, ia harus memastikan ketersediaan bahan bakar agar proses penyiraman tetap berjalan.
“Dulu pakai pompa diesel, setiap hari harus cari BBM dulu agar bisa melakukan penyiraman kebun bawang. Kalau tidak ada BBM, ya tidak bisa jalan,” kenangnya.
Dalam satu kali siklus panen, Sirajudin membutuhkan sekitar 300 liter bensin untuk penyiraman selama satu bulan. Dengan harga eceran mencapai Rp13.000 per liter, biaya operasional yang dikeluarkan mencapai Rp3.900.000 pun cukup besar dan tidak stabil.
Kini, kondisi itu berubah sejak hadirnya listrik dari PLN. Dengan menggunakan suplai listrik melalui Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) daya 5.500 Volt Ampere, proses pengairan dilakukan dengan pompa listrik yang hanya memerlukan sekitar 500an kilowatt hour (kWh) atau Rp1.000.000 untuk satu siklus penyiraman selama satu bulan. Air dari sungai dipompa secara stabil hingga mengalir ke seluruh area kebun bawang miliknya.
Perubahan paling terasa adalah pada efisiensi dan kemudahan operasional. Tidak lagi bergantung pada bahan bakar, tidak lagi harus mencari BBM setiap hari. Yang tak kalah penting adalah sejak hadirnya listrik yang digunakan untuk penerangan yang dapat mengurangi hama, ada peningkatan produksi bawang sampai dua kali lipat. Tercatat sebelumnya saat menggunakan diesel produksi bawang hanya 500-700 kilogram per siklus panen. Sekarang, hadirnya listrik yang digunakan sebagai sumber energi untuk penerangan penangkal hama, produksi bawang bisa meningkat sampai dengan satu ton.