home sulsel

Polipangkep Dorong Hilirisasi Pewarna Alami Berbasis Limbah

Selasa, 15 September 2026 - 18:54 WIB
Tim Polipangkep dan Yayasan Kawan Lama saat berada di Kantor Direktorat Diseminasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi, Kemendiktisaintek. Foto: Istimewa
Limbah pertanian seperti sabut kelapa dikembangkan menjadi bahan baku pewarna alami untuk produk wastra. Inovasi tersebut dikembangkan Tim Riset Bestari Saintek Politeknik Pertanian Negeri Pangkajene Kepulauan (Polipangkep) melalui produk bernama Cocodye.

Cocodye merupakan zat pewarna alami berbasis limbah pertanian yang dikembangkan untuk meningkatkan pemanfaatan potensi lokal sekaligus membuka peluang nilai tambah ekonomi bagi perajin wastra.

Inovasi tersebut merupakan pengembangan lanjutan dari program Berdikari Emas 2024–2025. Saat ini, riset Cocodye dikembangkan melalui Program Bestari Saintek 2026 dalam Living Laboratorium The Green Gold Kelapa Selayar.

Riset tersebut berfokus pada pengembangan formulasi warna dan ketahanan warna agar dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk wastra. Hingga September 2026, sekitar dua ton sabut kelapa telah diolah menjadi pewarna alami yang digunakan pada 50 meter wastra tenun serta 220 meter wastra sutera dan batik.

Selain sabut kelapa, Polipangkep memanfaatkan limbah kulit alpukat, kulit rambutan, kulit manggis, dan kayu secang sebagai sumber pewarna alami.

Direktur Minat Saintek, Prof. Yudi Darma, mengatakan potensi lokal Indonesia dapat dikembangkan melalui pendekatan sains dan teknologi, selama inovasi yang dihasilkan mampu diterapkan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Potensi lokal Indonesia sangat besar dan dapat dikembangkan melalui pendekatan sains dan teknologi. Yang penting bukan hanya menghasilkan inovasi, tetapi bagaimana inovasi tersebut dapat diterapkan, memberikan nilai tambah bagi masyarakat, serta membuka peluang pengembangan ekonomi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya