Bupati Bantaeng Jadi Dosen Praktisi di UMI, Bekali Mahasiswa Ilmu Komunikasi Strategi Menjaga Reputasi
Tim SINDOmakassar
Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:07 WIB
Bupati Bantaeng, Fathul Fauzi Nurdin, berbagi pengalaman dan strategi menjaga reputasi di tengah krisis kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan
Bupati Bantaeng, Fathul Fauzi Nurdin, berbagi pengalaman dan strategi menjaga reputasi di tengah krisis kepada mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Sastra, Ilmu Komunikasi, dan Pendidikan (FSIKP) Universitas Muslim Indonesia (UMI).
Kehadiran Bupati Bantaeng sebagai dosen praktisi pada pertemuan keenam mata kuliah Leadership Communication di Aula FSIKP UMI, Jumat (16/10/2026), menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana seorang pemimpin mengelola komunikasi, menghadapi krisis, dan mempertahankan kepercayaan publik.
Dalam pemaparannya, Bupati Bantaeng yang akrab disapa Pak Uji itu menegaskan bahwa reputasi merupakan aset penting bagi seorang pemimpin maupun organisasi yang keberadaannya sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi krisis.
Menurutnya, keberhasilan menangani krisis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan persoalan, tetapi juga oleh kecepatan merespons, ketepatan menyampaikan informasi, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Ia menjelaskan empat pilar utama dalam komunikasi krisis, yakni reputasi sebagai aset tidak berwujud, persepsi publik yang dapat terbentuk sebelum fakta terungkap sepenuhnya, kecepatan merespons, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Keempat aspek tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kredibilitas dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.
Selain itu, Pak Uji menguraikan tiga tahapan pengelolaan komunikasi krisis, meliputi pra-krisis, respons krisis, dan pascakrisis.
Kehadiran Bupati Bantaeng sebagai dosen praktisi pada pertemuan keenam mata kuliah Leadership Communication di Aula FSIKP UMI, Jumat (16/10/2026), menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana seorang pemimpin mengelola komunikasi, menghadapi krisis, dan mempertahankan kepercayaan publik.
Dalam pemaparannya, Bupati Bantaeng yang akrab disapa Pak Uji itu menegaskan bahwa reputasi merupakan aset penting bagi seorang pemimpin maupun organisasi yang keberadaannya sangat menentukan tingkat kepercayaan masyarakat, terutama ketika menghadapi situasi krisis.
Menurutnya, keberhasilan menangani krisis tidak hanya ditentukan oleh kemampuan menyelesaikan persoalan, tetapi juga oleh kecepatan merespons, ketepatan menyampaikan informasi, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Ia menjelaskan empat pilar utama dalam komunikasi krisis, yakni reputasi sebagai aset tidak berwujud, persepsi publik yang dapat terbentuk sebelum fakta terungkap sepenuhnya, kecepatan merespons, serta konsistensi antara perkataan dan tindakan.
Keempat aspek tersebut menjadi landasan penting dalam membangun kredibilitas dan mempertahankan kepercayaan publik terhadap kepemimpinan.
Selain itu, Pak Uji menguraikan tiga tahapan pengelolaan komunikasi krisis, meliputi pra-krisis, respons krisis, dan pascakrisis.