Pelindo Jasa Maritim Kaji Kapal Tunda Listrik, Bidik Efisiensi Operasional

Jum'at, 16 Okt 2026 10:33
Pelindo Jasa Maritim Kaji Kapal Tunda Listrik, Bidik Efisiensi Operasional
Penggunaan kapal tunda listrik mulai dijajaki PJM bersama PT Asian Bulk Logistics untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan emisi karbon di sektor kepelabuhanan. Foto/Istimewa
Comment
Share
JAKARTA - Penggunaan kapal tunda listrik mulai dijajaki PT Pelindo Jasa Maritim (PJM) bersama PT Asian Bulk Logistics (ABL) untuk meningkatkan efisiensi operasional sekaligus menekan emisi karbon di sektor kepelabuhanan. Kajian ini juga membuka peluang pengembangan layanan maritim rendah emisi di pasar domestik maupun internasional.

Kedua perusahaan membahas rencana tersebut dalam lokakarya bersama di Hotel Morrissey, Jakarta, beberapa waktu lalu. Kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari kesepakatan kemitraan strategis PJM dan ABL, dengan fokus pada kesiapan teknologi, kebutuhan operasional, kelayakan investasi, serta potensi komersialisasi kapal tunda listrik atau electric tug (e-tug).

Direktur Komersial PT Pelindo Jasa Maritim, Suhendra Ratuprawiranegara, mengatakan pengembangan e-tug menjadi salah satu langkah strategis perusahaan untuk meningkatkan daya saing layanan maritim melalui pemanfaatan teknologi yang lebih efisien dan ramah lingkungan.

“Pengembangan e-tug tidak hanya berorientasi pada penggunaan teknologi ramah lingkungan, tetapi juga pada peningkatan efisiensi dan keandalan layanan penundaan kapal. Karena itu, diperlukan kajian teknis, operasional, dan komersial yang komprehensif agar implementasinya memberikan manfaat nyata bagi perusahaan maupun pengguna jasa,” ujar Suhendra.

Menurutnya, inisiatif tersebut sejalan dengan pengembangan konsep pelabuhan hijau (green port) dan pelayaran hijau (green shipping). Langkah ini juga mendukung arah kebijakan Organisasi Maritim Internasional (IMO) untuk mencapai emisi gas rumah kaca nol bersih dari pelayaran internasional sekitar 2050.

Tanjung Priok dan Tanjung Perak Jadi Kandidat Percontohan
Sebagai tahap awal, Pelabuhan Tanjung Priok di Jakarta dan Pelabuhan Tanjung Perak di Surabaya diproyeksikan menjadi lokasi percontohan penerapan e-tug.

Penentuan lokasi akan mempertimbangkan sejumlah aspek, mulai dari karakteristik pelayanan kapal dan intensitas kegiatan penundaan hingga kebutuhan daya listrik, ketersediaan infrastruktur pengisian baterai, serta kesiapan operasional.

Dari sisi ekonomi, penggunaan e-tug diperkirakan berpotensi menekan biaya operasional sekitar 20–40 persen dibandingkan kapal tunda konvensional. Teknologi ini juga memungkinkan penghapusan emisi langsung dari pengoperasian kapal. Namun, besaran pengurangan emisi secara keseluruhan tetap bergantung pada sumber energi listrik yang digunakan.

Potensi efisiensi dan penurunan emisi tersebut sejalan dengan arah transformasi Danantara dalam mendorong pengembangan industri hijau, termasuk melalui penerapan teknologi rendah emisi di sektor kepelabuhanan dan maritim.

Meski demikian, Suhendra menegaskan bahwa penerapan teknologi baru harus didukung perencanaan investasi yang matang serta kesiapan infrastruktur. Aspek keselamatan, keandalan, dan kelancaran pelayanan kapal tetap menjadi prioritas.

“Prinsip utama kami adalah memastikan inovasi teknologi mampu memberikan nilai tambah bagi operasional dan pelanggan. Efisiensi biaya, keandalan layanan, dan keberlanjutan lingkungan harus berjalan beriringan,” tegasnya.

Hasil kajian bersama tersebut akan menjadi dasar bagi PJM dan ABL untuk menentukan model bisnis, skema investasi, serta tahapan implementasi e-tug. Kajian ini juga mencakup peluang pengembangan layanan di wilayah operasional yang sudah ada maupun pasar baru di dalam dan luar negeri.

Melalui kolaborasi tersebut, PJM berupaya memperkuat daya saing layanan maritim sekaligus mendorong transformasi industri kepelabuhanan nasional menuju operasional yang lebih efisien dan berkelanjutan.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru