Soroti Kafe Berkonsep Diskotek, Karang Taruna Makassar Minta Pemkot Tegas

Rabu, 07 Okt 2026 10:32
Soroti Kafe Berkonsep Diskotek, Karang Taruna Makassar Minta Pemkot Tegas
Ketua Karang Taruna Kota Makassar, Muhammad Zulkifli, saat ditemui di salah satu rumah makan, Selasa (6/10/2026). Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiyats Yan G
Comment
Share
MAKASSAR - Ketua Karang Taruna Kota Makassar, Muhammad Zulkifli, angkat bicara terkait aksi unjuk rasa kelompok mahasiswa dan ormas yang memprotes kegiatan di salah satu tempat hiburan yang dinilai menampilkan dan mempromosikan perilaku yang mereka anggap bertentangan dengan norma sosial dan agama.

Zulkifli mengatakan, aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap kegiatan yang dilakukan sejumlah selebgram dan dinilai sebagai upaya menormalisasi perilaku LGBT di Makassar.

"Aksi protes mereka lakukan sebagai bentuk protes atas adanya kegiatan yang dilakukan oleh beberapa selebgram, yang mana kegiatan ini dianggap sebagai kegiatan yang bertujuan menormalisasi penyimpangan-penyimpangan kaum LGBT di Makassar," ujarnya, Selasa (6/10/2026).

Menurut dia, persoalan tersebut perlu disikapi secara serius dan komprehensif. Ia meminta perhatian tidak hanya diarahkan kepada tempat usaha yang menjadi lokasi kegiatan, tetapi juga pihak-pihak yang memberikan ruang dan dukungan terhadap acara tersebut.

"Melihat viral di medsos tentang kegiatan ulang tahun dari saudara W? Di situ ada fashion show dan tidak bisa kita pungkiri yang tampil itu sepertinya banyak orang-orang yang diduga merupakan kaum-kaum yang menyimpang!," sebutnya.

Zulkifli menilai penampilan dalam kegiatan tersebut bertentangan dengan nilai budaya dan agama yang dianut masyarakat.

"Kenapa kita harus marah? Karena cara penampilan mereka ini adalah sesuatu yang memang bertentangan dengan budaya kita, bertentangan dengan agama kita. Mirisnya, kegiatan-kegiatan itu dilakukan dengan sengaja untuk diperlihatkan kepada orang banyak, sehingga hal ini dianggap sesuatu yang bisa memberi edukasi buruk kepada masyarakat kita," sambungnya.

Ketua Brigade Muslim Indonesia (BMI) itu menegaskan, penolakan yang disuarakannya bukan bentuk diskriminasi terhadap kelompok LGBT.

"Kita bukan diskriminasi terhadap mereka, tetapi penampilannya tetap normal. Kita kasihan dan kita harus menganggap mereka adalah saudara kita, tetapi yang kita tidak bisa terima adalah cara penampilan mereka yang salah dan bertujuan untuk mengedukasi masyarakat kita kepada hal-hal yang jelek," tegasnya.

Ia juga meminta mahasiswa dan ormas yang melakukan aksi tidak hanya mempersoalkan tempat usaha yang menjadi lokasi kegiatan. Menurutnya, pihak yang menjadi sponsor acara juga perlu mendapat perhatian.

"Kemarin kan orang lagi fokus di persoalan tempat usahanya. Harusnya teman-teman mahasiswa dan ormas ini jangan fokus di situ saja. Coba lihat siapa menjadi sponsor dalam acara itu, karena patut diduga mereka adalah kelompok-kelompok yang justru memberi ruang kepada kelompok ini untuk memperlihatkan penyimpangan-penyimpangan itu," tandasnya.

Selain itu, Zulkifli menyoroti penggunaan figur dari kelompok tersebut sebagai pengarah merek atau endorser berbagai produk.

"Sekarang ini kan kaum-kaum itu selalu digunakan untuk mengendors sebuah produk, ya kan? Ini juga kita harus sampaikan, semuanya mau produk HP, skincare, baju, apa semua, mereka harus diingatkan dan diimbau untuk tidak memberi ruang kelompok-kelompok seperti ini," terangnya.

Zulkifli juga menyoroti perubahan fungsi sejumlah tempat usaha kuliner seperti kafe di Makassar. Ia menilai sebagian kafe mulai mengadopsi konsep tempat hiburan malam.

"Saya jujur, sangat menyayangkan itu, dan ini adalah sesuatu yang sangat berbahaya. Orang bilang THM (Tempat Hiburan Malam) sekarang bahaya. Jauh lebih berbahaya kafe. Kenapa sekarang kafe-kafe yang ada di Makassar rata-rata sudah mengarah ke diskotek. Jadi kafe sekarang sudah ada lampu kelap-kelipnya, sudah pakai DJ," ungkapnya kepada wartawan.

Karena itu, Zulkifli meminta Wali Kota Makassar menerbitkan imbauan kepada seluruh pelaku usaha agar setiap penyelenggara kegiatan membuat surat pernyataan terkait materi dan bentuk acara yang digelar.

"Tentunya kita berharap Wali Kota Makassar membuat himbauan kepada semua pelaku usaha, mau THM, kemudian resto, kafe, tempat karaoke, setiap mereka mau melakukan event, itu harus ada pernyataan dari mereka yang akan melaksanakan event itu untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan yang diduga untuk menormalisasi penyimpangan-penyimpangan kaum LGBT," imbaunya.

Ia berharap masyarakat, khususnya generasi muda, tidak terpengaruh oleh konten atau kegiatan yang menurutnya memberikan contoh buruk.

"Kembali saya bilang bahwa kita tidak mendiskriminasi mereka, tetapi kita juga harus menyelamatkan generasi kita. Jangan sampai mereka diedukasi dengan hal-hal yang buruk dengan cara seperti ini. Mereka ingin berusaha memberi kesan kepada masyarakat bahwa hal ini adalah hal yang biasa, hal ini adalah sesuatu yang bisa diterima masyarakat, dan ini bahaya kalau ini terjadi. Itu pesan saya," pungkasnya.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru