Karantina Goes to Campus, Ajak Mahasiswa Unhas Lindungi Kekayaan Hayati Indonesia

Senin, 12 Okt 2026 08:27
Karantina Goes to Campus, Ajak Mahasiswa Unhas Lindungi Kekayaan Hayati Indonesia
Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan menggelar kegiatan bertajuk Karantina Goes to Campus di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar, belum lama ini. Foto/Istimewa
Comment
Share
MAKASSAR - Melindungi kekayaan hayati Indonesia tidak cukup hanya mengandalkan petugas karantina. Kesadaran dan keterlibatan generasi muda juga diperlukan untuk mencegah masuk dan tersebarnya hama serta penyakit yang dapat mengancam keberlanjutan sumber daya hayati nasional.

Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Karantina Goes to Campus yang diselenggarakan Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan di Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar. Kegiatan ini menjadi ruang edukasi dan dialog bagi mahasiswa untuk mengenal peran strategis karantina dalam melindungi sumber daya hayati, menjaga keamanan pangan, serta mendukung perdagangan nasional.

Mengusung tema Think Global, Protect Local: Peran Generasi Muda Menuju Indonesia Emas, kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian peringatan Hari Karantina ke-149 dan HUT ke-3 Badan Karantina Indonesia (Barantin). Mahasiswa diajak memahami bahwa meningkatnya mobilitas manusia dan perdagangan antarwilayah maupun antarnegara turut membuka peluang masuknya organisme pengganggu yang dapat mengancam kekayaan hayati Indonesia.

Kepala Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan, Sitti Chadidjah, mengatakan tugas karantina tidak terbatas pada pemeriksaan hewan, ikan, dan tumbuhan. Pelaksanaan fungsi tersebut juga membutuhkan dukungan berbagai disiplin ilmu, mulai dari hukum dan komunikasi hingga hubungan internasional.

“Peluang untuk berkontribusi di Badan Karantina Indonesia tidak hanya terbuka bagi lulusan Kedokteran Hewan atau Pertanian. Kami juga membutuhkan berbagai disiplin ilmu, mulai dari Hukum, Ilmu Komunikasi, hingga Hubungan Internasional. Artinya, banyak ruang bagi generasi muda untuk ikut mengambil peran dalam menjaga negeri,” ujar Chadidjah.

Menurut dia, perguruan tinggi memiliki peran penting dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia di bidang perkarantinaan. Kolaborasi antara akademisi dan praktisi diharapkan membuka ruang pertukaran pengetahuan, memperluas pengalaman lapangan, serta meningkatkan kompetensi mahasiswa.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Rektor IV Unhas, Suharman Hamzah. Ia mengapresiasi kepercayaan Barantin yang kembali melibatkan Unhas sebagai mitra kegiatan dan berharap kolaborasi kedua pihak semakin erat, terutama dalam pengembangan program pembelajaran dan magang mahasiswa.

“Kami berharap Karantina memiliki ruang yang lebih dekat dengan kampus, sehingga semakin banyak mahasiswa Unhas yang memperoleh kesempatan magang dan belajar langsung di lingkungan Karantina,” kata Suharman.

Hadir sebagai narasumber, Kepala Biro Hukum dan Humas Barantin Hudiansyah Is Nursal serta Dokter Hewan Ahli Muda Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan, drh. Selyta Mayang Pinang Puji Maharani. Keduanya memaparkan pentingnya perlindungan sumber daya hayati di tengah tingginya mobilitas manusia dan perdagangan global.

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang besar dan perlu dilindungi dari ancaman masuk serta tersebarnya Hama dan Penyakit Hewan Karantina (HPHK), Hama dan Penyakit Ikan Karantina (HPIK), serta Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK). Pengawasan karantina menjadi salah satu upaya untuk mencegah ancaman tersebut sekaligus menjaga sumber daya hayati yang menopang ketahanan dan keamanan pangan.

Selain pemaparan materi, kegiatan ini diisi diskusi interaktif yang memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk menggali tugas, tantangan, dan peluang berkarier di bidang perkarantinaan.

Melalui program ini, Balai Besar Karantina Sulawesi Selatan berharap semakin banyak generasi muda memahami bahwa perlindungan sumber daya hayati merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya petugas di pintu masuk dan keluar wilayah. Keterlibatan perguruan tinggi juga diharapkan melahirkan generasi yang berdaya saing global sekaligus memiliki kepedulian terhadap kekayaan hayati bangsa dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.
(TRI)
Berita Terkait
Berita Terbaru