Kabut Asap di Makassar Picu Kekhawatiran ISPA
Kamis, 15 Okt 2026 15:33
Suasana coffee morning Diskominfo Makassar membahas perkembangan pencemaran udara dan kabut asap di The Hills Signature, Jalan Serigala, Kecamatan Mamajang. Foto: SINDO Makassar/Dewan Ghiats Yan
MAKASSAR - Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kota Makassar menggelar coffee morning membahas perkembangan pencemaran udara dan kabut asap di Kota Makassar. Kegiatan tersebut berlangsung di The Hills Signature, Jalan Serigala, Kecamatan Mamajang, Kamis (15/10/2026).
Diskusi yang dipandu Rahmi Amin Makkatutu itu membahas kondisi kualitas udara, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, serta langkah penanganan bersama sejumlah instansi terkait.
Ketua Tim Kerja Klimatologi BMKG Makassar, Muflihah, mengatakan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Stasiun Klimatologi BMKG Makassar tercatat sebesar 76,5 berdasarkan pengamatan Kamis (15/10/2026) pukul 08.00 Wita.
Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan pengamatan sehari sebelumnya, ketika konsentrasi PM2.5 sempat melampaui 150 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
“Karena ini fluktuatif, kita tidak bisa mengatakan penurunannya berapa poin. Kondisinya bisa berubah dari jam ke jam,” jelasnya.
Menurut Muflihah, kualitas udara dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada sebaran asap yang terpantau melalui satelit. Karena itu, kondisi udara diperkirakan belum banyak berubah.
BMKG juga belum memandang perlu dilakukannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut umumnya diterapkan ketika kondisi kabut asap sudah sangat pekat, seperti yang pernah terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Terkait potensi hujan, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang mengguyur Makassar mulai November. Sementara itu, awal musim hujan diproyeksikan terjadi pada awal Desember.
Kasus ISPA 15 Ribu per Bulan
Di sisi kesehatan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Andi Mariani, mengungkapkan bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara konsisten masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak yang dilaporkan puskesmas.
Dalam tiga bulan terakhir, jumlah kasus ISPA di Makassar berada di kisaran 15.000 kasus lebih setiap bulan.
Berdasarkan data kumulatif hingga 14 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 7.940. Jika tren tersebut berlanjut tanpa peningkatan, jumlah kasus pada akhir bulan diperkirakan mencapai sekitar 15.000 kasus.
“Data ini kami gunakan untuk melihat sejauh mana ada peningkatan kasus atau tidak,” ujarnya.
Meski demikian, Andi menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa perubahan jumlah kasus ISPA disebabkan langsung oleh kabut asap. Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang dapat memicu penyakit tersebut.
Namun, kualitas udara yang tidak sehat berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat, termasuk memicu gangguan pada saluran pernapasan dan memperberat penyakit penyerta.
“Dengan adanya kualitas udara sekarang yang tidak sehat, bisa saja memicu penyakit-penyakit yang tadinya tidak ada atau ‘tidur’ menjadi muncul. Udara yang dihirup tidak sehat dapat memengaruhi tubuh, mulai dari saluran pernapasan hingga sistem kardiovaskular,” jelasnya.
Ia mengingatkan, paparan udara tidak sehat yang berlangsung selama 10–15 hari terakhir berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama jika terjadi secara terus-menerus.
Karena itu, masyarakat diminta melakukan langkah perlindungan diri. Andi menyebut masker N95 dapat menyaring partikel halus PM2.5. Namun, masyarakat juga dapat menggunakan masker medis sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
“Masker N95 bisa menghalau partikel kecil berukuran PM2.5 masuk ke dalam tubuh. Tetapi karena masker tersebut cukup mahal, untuk sementara ini kami masih menyarankan penggunaan masker medis. Meskipun tidak ideal, masker medis jauh lebih baik ketimbang sama sekali tidak memakai masker,” katanya.
Dinkes Makassar juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Masyarakat dengan penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal, juga diminta lebih waspada karena paparan polusi dapat memperburuk kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, mengatakan kabut asap dan pencemaran udara yang terjadi saat ini berkaitan dengan musim kemarau dan kekeringan berkepanjangan.
Meski terdapat sejumlah titik pembakaran lahan di wilayah Makassar, menurut dia, sebagian besar asap yang menyelimuti kota berasal dari daerah lain dan terbawa angin.
“Paling banyak itu adalah kiriman dari luar. Tanggal 30 kemarin ada kiriman dari kebakaran hutan di Pangkep dan Bone. Terus yang paling banyak itu karena angin timur, kebakaran dari Papua dan Maluku yang masuk ke Makassar,” jelasnya.
Fadli mengatakan BPBD Makassar telah menggelar rapat koordinasi lintas pemangku kepentingan yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Makassar. Rapat tersebut menindaklanjuti arahan Wali Kota Makassar untuk melakukan intervensi cepat terhadap kondisi pencemaran udara.
Dalam koordinasi tersebut, sejumlah instansi membagi tugas sesuai kewenangan masing-masing. BMKG, misalnya, terus memberikan informasi harian mengenai perkembangan kualitas udara sebagai dasar pengambilan langkah pencegahan.
Fadli menegaskan kualitas udara dapat berubah dalam waktu singkat. Pada 14 Oktober, kualitas udara Makassar tercatat berada pada angka 158 atau kategori sangat tidak sehat, sebelum turun menjadi 76,5 berdasarkan pengamatan BMKG pada pagi hari berikutnya.
Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi kualitas udara dan kondisi cuaca agar dapat mengantisipasi risiko paparan polusi.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Makassar bersama sejumlah pemangku kepentingan juga melakukan pembagian masker, terutama kepada kelompok rentan dan pengguna jalan yang beraktivitas di luar ruangan.
Diskusi yang dipandu Rahmi Amin Makkatutu itu membahas kondisi kualitas udara, dampaknya terhadap kesehatan masyarakat, serta langkah penanganan bersama sejumlah instansi terkait.
Ketua Tim Kerja Klimatologi BMKG Makassar, Muflihah, mengatakan konsentrasi partikel halus PM2.5 di Stasiun Klimatologi BMKG Makassar tercatat sebesar 76,5 berdasarkan pengamatan Kamis (15/10/2026) pukul 08.00 Wita.
Angka tersebut menunjukkan perbaikan dibandingkan pengamatan sehari sebelumnya, ketika konsentrasi PM2.5 sempat melampaui 150 dan masuk kategori sangat tidak sehat.
“Karena ini fluktuatif, kita tidak bisa mengatakan penurunannya berapa poin. Kondisinya bisa berubah dari jam ke jam,” jelasnya.
Menurut Muflihah, kualitas udara dalam beberapa hari ke depan masih bergantung pada sebaran asap yang terpantau melalui satelit. Karena itu, kondisi udara diperkirakan belum banyak berubah.
BMKG juga belum memandang perlu dilakukannya Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Langkah tersebut umumnya diterapkan ketika kondisi kabut asap sudah sangat pekat, seperti yang pernah terjadi di sejumlah wilayah Kalimantan dan Sumatra.
Terkait potensi hujan, BMKG memperkirakan hujan dengan intensitas ringan hingga sedang berpeluang mengguyur Makassar mulai November. Sementara itu, awal musim hujan diproyeksikan terjadi pada awal Desember.
Kasus ISPA 15 Ribu per Bulan
Di sisi kesehatan, Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Kota Makassar, dr. Andi Mariani, mengungkapkan bahwa infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) secara konsisten masuk dalam daftar 10 penyakit terbanyak yang dilaporkan puskesmas.
Dalam tiga bulan terakhir, jumlah kasus ISPA di Makassar berada di kisaran 15.000 kasus lebih setiap bulan.
Berdasarkan data kumulatif hingga 14 Oktober 2026, jumlah kasus ISPA tercatat sebanyak 7.940. Jika tren tersebut berlanjut tanpa peningkatan, jumlah kasus pada akhir bulan diperkirakan mencapai sekitar 15.000 kasus.
“Data ini kami gunakan untuk melihat sejauh mana ada peningkatan kasus atau tidak,” ujarnya.
Meski demikian, Andi menegaskan pihaknya belum dapat menyimpulkan bahwa perubahan jumlah kasus ISPA disebabkan langsung oleh kabut asap. Menurutnya, terdapat berbagai faktor yang dapat memicu penyakit tersebut.
Namun, kualitas udara yang tidak sehat berpotensi memperburuk kondisi kesehatan masyarakat, termasuk memicu gangguan pada saluran pernapasan dan memperberat penyakit penyerta.
“Dengan adanya kualitas udara sekarang yang tidak sehat, bisa saja memicu penyakit-penyakit yang tadinya tidak ada atau ‘tidur’ menjadi muncul. Udara yang dihirup tidak sehat dapat memengaruhi tubuh, mulai dari saluran pernapasan hingga sistem kardiovaskular,” jelasnya.
Ia mengingatkan, paparan udara tidak sehat yang berlangsung selama 10–15 hari terakhir berpotensi menimbulkan dampak kesehatan, terutama jika terjadi secara terus-menerus.
Karena itu, masyarakat diminta melakukan langkah perlindungan diri. Andi menyebut masker N95 dapat menyaring partikel halus PM2.5. Namun, masyarakat juga dapat menggunakan masker medis sebagai alternatif yang lebih terjangkau.
“Masker N95 bisa menghalau partikel kecil berukuran PM2.5 masuk ke dalam tubuh. Tetapi karena masker tersebut cukup mahal, untuk sementara ini kami masih menyarankan penggunaan masker medis. Meskipun tidak ideal, masker medis jauh lebih baik ketimbang sama sekali tidak memakai masker,” katanya.
Dinkes Makassar juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan, seperti anak-anak, ibu hamil, dan lansia. Masyarakat dengan penyakit penyerta, seperti hipertensi, diabetes, penyakit jantung, dan penyakit ginjal, juga diminta lebih waspada karena paparan polusi dapat memperburuk kondisi kesehatannya.
Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kota Makassar, Fadli Tahar, mengatakan kabut asap dan pencemaran udara yang terjadi saat ini berkaitan dengan musim kemarau dan kekeringan berkepanjangan.
Meski terdapat sejumlah titik pembakaran lahan di wilayah Makassar, menurut dia, sebagian besar asap yang menyelimuti kota berasal dari daerah lain dan terbawa angin.
“Paling banyak itu adalah kiriman dari luar. Tanggal 30 kemarin ada kiriman dari kebakaran hutan di Pangkep dan Bone. Terus yang paling banyak itu karena angin timur, kebakaran dari Papua dan Maluku yang masuk ke Makassar,” jelasnya.
Fadli mengatakan BPBD Makassar telah menggelar rapat koordinasi lintas pemangku kepentingan yang dipimpin Sekretaris Daerah Kota Makassar. Rapat tersebut menindaklanjuti arahan Wali Kota Makassar untuk melakukan intervensi cepat terhadap kondisi pencemaran udara.
Dalam koordinasi tersebut, sejumlah instansi membagi tugas sesuai kewenangan masing-masing. BMKG, misalnya, terus memberikan informasi harian mengenai perkembangan kualitas udara sebagai dasar pengambilan langkah pencegahan.
Fadli menegaskan kualitas udara dapat berubah dalam waktu singkat. Pada 14 Oktober, kualitas udara Makassar tercatat berada pada angka 158 atau kategori sangat tidak sehat, sebelum turun menjadi 76,5 berdasarkan pengamatan BMKG pada pagi hari berikutnya.
Karena itu, masyarakat diimbau terus memantau informasi kualitas udara dan kondisi cuaca agar dapat mengantisipasi risiko paparan polusi.
Sebagai langkah penanganan, BPBD Makassar bersama sejumlah pemangku kepentingan juga melakukan pembagian masker, terutama kepada kelompok rentan dan pengguna jalan yang beraktivitas di luar ruangan.
(MAN)
Berita Terkait
News
Polairud Luwu Timur Minta Pengguna Transportasi Air Waspada Kabut Asap
Kabut asap yang diduga berasal dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menyelimuti wilayah Luwu Timur dan dapat membatasi jarak pandang.
Kamis, 15 Okt 2026 12:16
Makassar City
92 Persen Pengaduan Warga Makassar Berhasil Diselesaikan
Sebanyak 27.104 dari 29.389 pengaduan masyarakat yang masuk ke Pemerintah Kota Makassar telah diselesaikan sepanjang Juli 2025 hingga Oktober 2026.
Kamis, 15 Okt 2026 07:46
Sulsel
Brimob Parepare Bagikan Masker kepada Warga Ditengah Kepungan Kabut Asap
Ditengah kepungan kabut asap yang semakin pekat melanda Kota Parepare, Personel Batalyon B Pelopor Satuan Brimob Polda Sulawesi Selatan membagikan masker kepada masyarakat di sejumlah titik, Rabu (14/10/2026).
Rabu, 14 Okt 2026 19:33
News
Pendaftar Nikah Gratis Pemkot Makassar Membeludak
Pendaftar program nikah massal gratis Pemerintah Kota Makassar pada 2026 telah melebihi kuota yang disiapkan, yakni 210 pasangan.
Rabu, 14 Okt 2026 18:51
Makassar City
Kualitas Udara Memburuk, Pemkot Makassar Bagikan Masker Gratis di Sekolah
Pemerintah Kota (Pemkot) Makassar membagi masker gratis di SMPN 6 Makassar. Hal itu dilakukan menyikapi penurunan kualitas udara akibat polusi yang melanda dalam beberapa hari terakhir.
Rabu, 14 Okt 2026 18:35
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Angka Kemiskinan di Sidrap Turun jadi 4,65 Persen pada 2026, Terendah Ketiga di Sulsel
2
Bursa Calon Ketua Demokrat Sulsel Resmi Dibuka, Kader Baru Bisa Langsung Maju
3
Diwakili Ketua Fraksi Demokrat Sulsel, Appi Resmi Ambil Formulir Pendaftaran Musda
4
Demokrat Parepare Sebut Sudah 13 DPC Kabupaten/kota Dukung Appi Maju Musda Sulsel
5
Pembekalan Tahfizh, Perkuat Karakter Qur’ani dan Budaya Kampus Islami
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Angka Kemiskinan di Sidrap Turun jadi 4,65 Persen pada 2026, Terendah Ketiga di Sulsel
2
Bursa Calon Ketua Demokrat Sulsel Resmi Dibuka, Kader Baru Bisa Langsung Maju
3
Diwakili Ketua Fraksi Demokrat Sulsel, Appi Resmi Ambil Formulir Pendaftaran Musda
4
Demokrat Parepare Sebut Sudah 13 DPC Kabupaten/kota Dukung Appi Maju Musda Sulsel
5
Pembekalan Tahfizh, Perkuat Karakter Qur’ani dan Budaya Kampus Islami