Studi General 2026 FAI UMI Dorong Gen Z Perkuat Kesalehan Sosial

Selasa, 29 Sep 2026 17:42
Studi General 2026 FAI UMI Dorong Gen Z Perkuat Kesalehan Sosial
Studi General FAI UMI 2026 di Auditorium Al-Jibra UMI, Jalan Urip Sumohardjo, Makassar, Selasa (29/9/2026). Foto: Istimewa.
Comment
Share
MAKASSAR - Pembentukan kesalehan individu tidak lagi cukup berhenti pada ritual pribadi. Di era disrupsi digital, keberagamaan Generasi Z dituntut bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang nyata dan membawa dampak langsung bagi masyarakat.

Pesan kunci tersebut mengemuka dalam Studi General 2026 bertajuk 'Menjadi Gen Z yang Berdampak: Transformasi Pendidikan, Integrasi Keislaman, dan Membangun Karakter di Era Disrupsi Teknologi' dipandu oleh Wakil Dekan III FAI UMI, Dr. Surani, sebagai moderator, di Auditorium Al-Jibra Universitas Muslim Indonesia (UMI), Jalan Urip Sumohardjo, Kota Makassar, Selasa (29/9/2026).

Acara tersebut menghadirkan narasumber, Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), Prof. Aris Munandar. Ia menegaskan pentingnya pergeseran paradigma beragama di era digital.

Menurut mantan Rektor UNM dua periode ini, alur beragama harus dimulai dari pembentukan nilai, diwujudkan dalam perilaku, hingga membuahkan dampak sosial yang konkret.

"Beragama bukan hanya tentang apa yang dipercayai, tetapi juga tentang apa yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari," tegasnya di hadapan para peserta.

Untuk mewujudkan kesalehan sosial tersebut, Prof. Aris membedah tiga pilar utama yang melekat pada karakter Generasi Z dimulai dari Hyper-connected di mana segala sesuatu terhubung secara digital tanpa henti, di mana gawai telah menjadi perpanjangan dari identitas sosial.

"Kemudian ada Pragmatis dan Realistis, tumbuh di tengah dinamika ekonomi yang membentuk pandangan rasional terhadap karier dan finansial. Dan terakhir adalah Otentik, sangat menghargai kejujuran serta tegas menolak standar kesuksesan atau pencitraan palsu," jelasnya.

Menurutnya, nilai jujur dan bertanggung jawab mampu menjawab kebutuhan generasi Z atau Gen Z akan keotentikan guna membangun kepercayaan di tengah masyarakat.

"Nilai Tabayyun (verifikasi informasi) dapat berfungsi sebagai benteng bagi karakter generasi yang terhubung secara digital (hyper-connected) dalam membendung arus hoaks di dunia maya," sebutnya.

Lebih lanjut, Prof Aris menyampaikan bahwa kombinasi nilai Ihsan (kesempurnaan karya) dan Rahmah (kepedulian) berperan dalam mengarahkan sikap pragmatis Gen Z agar senantiasa menghasilkan karya berkualitas tinggi yang berlandaskan empati terhadap lingkungan.

Semetara, Wakil Rektor III, Prof. Kamal Hidjaz, menyoroti pentingnya penguatan karakter Gen Z dalam pengembangan ilmu pengetahuan, khususnya di tengah masifnya penerapan kecerdasan buatan (AI).

Senada dengan hal tersebut, Dekan FAI UMI Dr. Akhmad Syahid, menekankan bahwa tantangan utama era ini bukan lagi soal kemahiran teknis semata.

"Apa yang akan kita perbuat dari AI untuk masyarakat, bukan sekadar bisa menggunakannya," ujar Akhmad Syahid.

Forum tersebut mempertegas bahwa integrasi antara nilai keislaman dan keandalan teknologi adalah kunci utama agar Generasi Z tidak sekadar menjadi konsumen digital, melainkan aktor utama pembuat perubahan.
(MAN)
Berita Terkait
Berita Terbaru