home ekbis

'Drifting Economy' Mengintai, IKAFE Unhas Bunyikan Alarm Bahaya

Senin, 11 Mei 2026 - 17:24 WIB
Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi (IKAFE) Universitas Hasanuddin berfoto bersama usai diskusi yang berlangsung di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Foto/IST
Perekonomian Indonesia dinilai sedang berada di persimpangan penting. Di satu sisi, berbagai indikator makro masih terlihat terjaga, mulai dari inflasi yang relatif terkendali hingga sistem keuangan yang tetap berjalan. Namun di balik kondisi tersebut, muncul kekhawatiran bahwa stabilitas yang selama ini dibanggakan belum mampu menjadi pendorong transformasi ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Pandangan itu mengemuka dalam diskusi Pengurus Pusat Ikatan Alumni Fakultas Ekonomi (IKAFE) Universitas Hasanuddin yang berlangsung di kawasan Bulungan, Blok M, Jakarta Selatan, Minggu (10/5/2026). Dalam forum tersebut, para peserta menilai Indonesia tengah menghadapi persoalan struktural yang semakin kompleks.

“Diagnosis ekonomi” Indonesia saat ini menunjukkan, perekonomian nasional sedang menghadapi persoalan struktural yang semakin kompleks. Jika dianalogikan sebagai seorang pasien, Indonesia masih memiliki organ-organ vital yang bekerja: inflasi relatif terkendali, sistem keuangan masih berjalan, dan aktivitas ekonomi belum sepenuhnya lumpuh. Namun di balik stabilitas permukaan tersebut, tersimpan “komplikasi kronis” yang tidak dapat diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek, stimulus sesaat, atau narasi optimisme semata.

Forum yang kemudian melahirkan “Seruan Bulungan” itu disebut sebagai bentuk kepedulian terhadap arah ekonomi nasional. Para alumni Fakultas Ekonomi Unhas dari berbagai latar belakang profesi—mulai akademisi, profesional, pengusaha, hingga tokoh masyarakat—menyuarakan perlunya kewaspadaan terhadap kondisi ekonomi saat ini.

"IKAFE Unhas ingin berkontribusi, mengingatkan kepada pemangku kepentingan, agar kita semua terhindar dari kondisi mengerikan. Semacam morning call, alarm bahaya sudah berbunyi," kata Hendra Noor Saleh, selaku Ketua Umum IKAFE Unhas bersama sejumlah penyusun Seruan Bulungan lainnya.

Dalam kajian tersebut, Indonesia dinilai mengalami “paradoks stabilitas”. Selama dua dekade terakhir, pemerintah dianggap berhasil menjaga fondasi makroekonomi melalui pengendalian inflasi, disiplin fiskal, stabilitas nilai tukar, dan penguatan sektor perbankan. Akan tetapi, stabilitas tersebut dianggap belum cukup untuk mendorong produktivitas, inovasi, industrialisasi, maupun daya saing nasional.

IKAFE Unhas menilai tantangan terbesar Indonesia saat ini bukan lagi sekadar mempertahankan stabilitas, melainkan bagaimana mengubah stabilitas itu menjadi mesin penggerak pertumbuhan yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan pembangunan yang inklusif.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya