home ekbis

Gotong Royong Menggerakkan Ekonomi Desa Lewat Koperasi Merah Putih

Selasa, 21 Juli 2026 - 12:44 WIB
Pengurus Koperasi Merah Putih Jenetallasa menerima berbagai kunjungan dari berbagai pihak terkait progres dan tata kelola koperasi. Foto/Dok KDMP Jenetallasa
Dari luar, bangunan itu tidak berbeda dengan toko kelontong lain di pinggir jalan desa. Rak-raknya dipenuhi beras, minyak goreng, gula, hingga tabung LPG tiga kilogram. Namun, bagi warga Desa Jenetallasa, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, gerai itu menyimpan fungsi yang lebih besar daripada sekadar tempat berbelanja.

Di sanalahsebuah koperasi mencobamengembalikan makna lamayang nyaris terlupakan yakni gotongroyong sebagai jalanmembangun ketahanan ekonomidesa. Koperasi Desa Merah Putih Jenetallasa hadir menjawab persoalan paling mendasar masyarakat desa. Di antaranya yakni memastikan kebutuhan pangan tetap terjangkau, membuka peluang usaha, sekaligus menghadirkan jaring pengaman bagi warga yang sedang mengalami kesulitan ekonomi.

"Ketika masyarakat tidak punya uang sama sekali, datanglah ke koperasi. Bisa beli beras, ambil beras dulu dan bisa kami berikan (kebutuhan pokok) lainnya untuk dia bisa makan dan tidak lapar lagi," kata Ketua Koperasi Desa Merah Putih Jenetallasa, Yulianti.

Ucapan itu menggambarkan filosofi yang dipegang para pengurus koperasi. Bagi mereka, koperasi bukan semata mengejar keuntungan, melainkan wadah usaha bersama yang tumbuh dari semangat gotong royong. Prinsip tersebut juga sejalan dengan komitmen pemerintah untuk memperkuat ketahanan pangan sekaligus memastikan tidak ada warga yang mengalami kelaparan.

Yulianti menceritakan perjalanan koperasi ini dimulai pada awal Mei 2025. Pemerintah Desa Jenetallasa menggelar Musyawarah Desa Khusus (Musdesus) sebagai tindak lanjut pembentukan Koperasi Desa Merah Putih yang dicanangkan pemerintah.

"Setelah musdesus kami langsung bergerak. Kami merespons program pemerintah dan instruksi Presiden Prabowo Subianto. Langkah pertama adalah melakukan sosialisasi kepada seluruh lapisan masyarakat agar koperasi benar-benar menjadi milik bersama," tutur dia.

Sosialisasi dilakukan dari lingkungan ke lingkungan. Warga diajak memahami bahwa koperasi bukan hanya tempat membeli kebutuhan sehari-hari, tetapi lembaga ekonomi yang dimiliki, dikelola, dan hasilnya kembali kepada para anggotanya.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya