home news

Di Mesir, Menag RI Tegaskan Ekoteologi dan Etika sebagai Fondasi Peradaban AI

Selasa, 20 Januari 2026 - 15:41 WIB
Menteri Agama Nasaruddin Umar saat konferensi internasional di Mesir. Foto: Istimewa
Menteri Agama Nasaruddin Umar memaparkan konsep ekoteologi serta peran agama dan kesadaran kemanusiaan di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dalam sebuah konferensi internasional di Mesir. Konferensi tersebut diselenggarakan oleh Kementerian Wakaf Republik Arab Mesir.

Konferensi ini dihadiri Menteri Wakaf sekaligus Ketua Dewan Tertinggi Urusan Islam Mesir, Prof. Dr. Usamah Al-Sayyid Al-Azhari, serta para ulama, cendekiawan, intelektual, dan peneliti dari berbagai negara. Menteri Agama didampingi Direktur Penerangan Agama Islam Muchlis M. Hanafi dan Tenaga Ahli Menteri Agama Bunyamin Yafid.

Mengawali paparannya, Menteri Agama menyampaikan salam hangat dari Presiden Prabowo Subianto, sekaligus apresiasi dan terima kasih kepada Presiden Mesir Abdel Fattah El-Sisi atas dukungannya terhadap penyelenggaraan konferensi internasional tersebut.

Menteri Agama kemudian menguraikan makna tanggung jawab manusia dalam perspektif Islam. Menurutnya, tanggung jawab manusia tidak hanya berkaitan dengan upaya mencari penghidupan, tetapi juga mencakup dimensi moral, amanah sosial, serta kesadaran untuk memakmurkan bumi.

“Dalam kerangka inilah, kami menegaskan pentingnya apa yang kami sebut sebagai ekoteologi, yakni cara pandang yang memahami hubungan antara manusia dan lingkungan berdasarkan prinsip amanah dan tanggung jawab etis,” tegas Menag di Mesir, Senin (19/1/2026).

Dalam pandangan Islam, lanjut Menteri Agama, bumi bukanlah milik mutlak manusia, melainkan titipan Ilahi. Oleh karena itu, upaya memakmurkan bumi harus dibarengi dengan menjaga keseimbangannya. Setiap profesi yang merusak keseimbangan tersebut pada hakikatnya menyimpang dari tujuan ibadah dan esensi pembangunan peradaban.

Menteri Agama menyambut baik pandangan Menteri Wakaf Mesir yang menegaskan bahwa pembangunan peradaban merupakan kewajiban dalam Islam. Ia juga sependapat dengan pemikir asal Aljazair, Malik bin Nabi, yang menyatakan bahwa peradaban bukan sekadar akumulasi materi, melainkan bangunan kemanusiaan dan moral yang utuh. Menurutnya, peradaban yang dibangun atas relasi manusia, tanah, dan waktu tidak akan bermakna tanpa dorongan moral dan spiritual yang mengarahkan manusia, mengendalikan naluri, memberi makna pada waktu, serta mengubah tanah dari sekadar bahan mentah menjadi nilai peradaban.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya