home news

Opini

Slow Communication di Tengah Histeria Media Sosial

Selasa, 20 Januari 2026 - 23:18 WIB
Darwin Bahri Sitohang, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar. Foto: Istimewa
Oleh: Darwin Bahri Sitohang

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar

DI TENGAHhisteria media sosial yang ditandai oleh kecepatan, respons instan, dan obsesi pada visibilitas, praktik komunikasi manusia mengalami pergeseran mendasar. Komunikasi tidak lagi semata-mata soal pertukaran makna, tetapi juga soal tempo, performa, dan keterukuran.

Dalam lanskap digital yang didorong oleh algoritma, berbicara cepat sering kali lebih dihargai daripada berbicara bermakna. Dalam konteks inilah gagasan slow communication menjadi relevan sebagai pendekatan alternatif dalam memahami komunikasi kontemporer.

Dalam literatur komunikasi mutakhir, slow communication dipahami sebagai praktik komunikasi yang menekankan kualitas relasi, kedalaman makna, dan keberlanjutan interaksi, bukan sekadar kecepatan respons atau intensitas pesan (Yasin, 2024; Ballard, 2026).

Pendekatan ini muncul sebagai kritik terhadap budaya komunikasi cepat yang diproduksi oleh media digital, di mana manusia terus terhubung, tetapi kerap kehilangan kedalaman relasi. Media sosial mendorong individu untuk selalu hadir, tetapi tidak selalu memberi ruang untuk benar-benar berkomunikasi.

Di tengah kondisi tersebut, komunitas Vespa menghadirkan praktik komunikasi yang bergerak dengan tempo berbeda. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menggunakannya dengan kesadaran nilai. Di Makassar, Vespa MATS Community atau VMC MATSC menjadi contoh bagaimana komunitas berbasis hobi mempraktikkan slow communication di tengah dunia digital yang serba cepat. Komunitas ini telah berdiri selama 12 tahun dengan 47 anggota aktif, dan menjadikan persaudaraan sebagai fondasi utama relasi sosial mereka.
Baca Selanjutnya
Bagikan artikel ini:
Berita Lainnya
berita lainnya