Opini
Slow Communication di Tengah Histeria Media Sosial
Selasa, 20 Jan 2026 23:18
Darwin Bahri Sitohang, Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar. Foto: Istimewa
Oleh: Darwin Bahri Sitohang
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar
DI TENGAH histeria media sosial yang ditandai oleh kecepatan, respons instan, dan obsesi pada visibilitas, praktik komunikasi manusia mengalami pergeseran mendasar. Komunikasi tidak lagi semata-mata soal pertukaran makna, tetapi juga soal tempo, performa, dan keterukuran.
Dalam lanskap digital yang didorong oleh algoritma, berbicara cepat sering kali lebih dihargai daripada berbicara bermakna. Dalam konteks inilah gagasan slow communication menjadi relevan sebagai pendekatan alternatif dalam memahami komunikasi kontemporer.
Dalam literatur komunikasi mutakhir, slow communication dipahami sebagai praktik komunikasi yang menekankan kualitas relasi, kedalaman makna, dan keberlanjutan interaksi, bukan sekadar kecepatan respons atau intensitas pesan (Yasin, 2024; Ballard, 2026).
Pendekatan ini muncul sebagai kritik terhadap budaya komunikasi cepat yang diproduksi oleh media digital, di mana manusia terus terhubung, tetapi kerap kehilangan kedalaman relasi. Media sosial mendorong individu untuk selalu hadir, tetapi tidak selalu memberi ruang untuk benar-benar berkomunikasi.
Di tengah kondisi tersebut, komunitas Vespa menghadirkan praktik komunikasi yang bergerak dengan tempo berbeda. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menggunakannya dengan kesadaran nilai. Di Makassar, Vespa MATS Community atau VMC MATSC menjadi contoh bagaimana komunitas berbasis hobi mempraktikkan slow communication di tengah dunia digital yang serba cepat. Komunitas ini telah berdiri selama 12 tahun dengan 47 anggota aktif, dan menjadikan persaudaraan sebagai fondasi utama relasi sosial mereka.
Komunikasi Kontemporer dan Logika Kecepatan Laporan We Are Social dan Meltwater (2024) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari di media sosial. Media sosial menjadi ruang utama pertukaran informasi, ekspresi diri, dan pembentukan identitas. Namun, intensitas penggunaan ini juga membawa konsekuensi. Interaksi digital semakin dipercepat, dipadatkan, dan diukur melalui metrik kuantitatif seperti jumlah suka, komentar, dan jangkauan.
Hartmut Rosa (2013) menyebut kondisi ini sebagai akselerasi sosial, yakni situasi ketika teknologi mempercepat ritme hidup manusia, tetapi sekaligus menciptakan keterasingan. Dalam komunikasi, akselerasi ini membuat percakapan menjadi reaktif, singkat, dan mudah terputus.
Kecepatan menjadi nilai utama, sementara refleksi sering kali tersingkir. Dalam budaya komunikasi digital, pesan yang cepat sering dianggap lebih relevan daripada pesan yang dipikirkan matang. Akibatnya, komunikasi cenderung menjadi performatif. Individu berbicara bukan hanya untuk menyampaikan makna, tetapi untuk mempertahankan eksistensi di ruang digital. Inilah yang kemudian melahirkan apa yang kerap disebut sebagai histeria media sosial, kondisi ketika ruang komunikasi dipenuhi kebisingan, tetapi miskin kedalaman.
Vespa sebagai Medium Komunikasi Sosial
Berbeda dari logika tersebut, komunitas Vespa beroperasi dengan ritme komunikasi yang lebih lambat dan relasional. Vespa bukan sekadar kendaraan klasik, melainkan medium komunikasi sosial. Melalui aktivitas berkendara bersama, pertemuan rutin, dan interaksi informal, komunikasi berlangsung secara tatap muka dan berulang. Relasi dibangun melalui kehadiran, bukan sekadar representasi digital.
Dalam perspektif Giddens (1991), identitas modern dibentuk melalui refleksi berkelanjutan atas praktik sosial. Bagi komunitas Vespa, praktik berkendara bersama menjadi ruang refleksi kolektif yang menegaskan siapa mereka dan nilai apa yang mereka junjung. Vespa menjadi simbol kesetaraan, solidaritas, dan kebersamaan lintas latar belakang sosial.
VMC MATSC Makassar secara eksplisit mengartikulasikan nilai tersebut dalam misinya sebagai wadah pemersatu pecinta Vespa yang menjunjung tinggi persaudaraan, kekompakan, serta pelestarian budaya berkendara klasik dan modern. Slogan mereka, “Satu Vespa, Sejuta Saudara”, bukan sekadar ungkapan simbolik, tetapi prinsip komunikasi yang hidup dalam praktik keseharian komunitas.
Negosiasi dengan Media Sosial Menariknya, komunitas Vespa tidak sepenuhnya berada di luar ruang digital. VMC MATSC hadir di Instagram melalui akun @vmc.gang. Namun, cara mereka memanfaatkan media sosial berbeda dari pola umum yang berorientasi popularitas. Konten yang dibagikan lebih banyak
berfungsi sebagai dokumentasi perjalanan, pertemuan, dan kebersamaan, bukan sebagai ajang pencitraan individu.
Dalam konteks ini, media sosial digunakan sebagai perpanjangan dari relasi sosial yang telah lebih dulu terbentuk di dunia nyata. Media sosial tidak menggantikan komunikasi tatap muka, tetapi melengkapinya. Unggahan tidak diarahkan untuk mengejar viralitas, melainkan untuk menjaga memori kolektif dan identitas komunitas.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Van Dijck (2013) tentang budaya konektivitas, di mana platform digital sebenarnya menawarkan beragam kemungkinan penggunaan. Komunitas Vespa memilih untuk tidak sepenuhnya tunduk pada logika algoritma, tetapi menegosiasikannya dengan nilai komunitas. Identitas kolektif menjadi penentu utama cara mereka berkomunikasi di ruang digital.
Slow Communication dan Modal Sosial
Robert Putnam (2000) dalam Bowling Alone mengemukakan bahwa modernitas dan individualisasi telah mengikis modal sosial masyarakat. Namun, komunitas seperti VMC MATSC justru menunjukkan bahwa modal sosial masih dapat tumbuh di tengah perubahan teknologi.
Kepercayaan, solidaritas, dan jaringan sosial dibangun melalui aktivitas bersama yang konsisten dan bermakna. Dalam komunitas Vespa, komunikasi tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi membangun ikatan emosional. Berkendara bersama, berbagi pengalaman di jalan, dan saling membantu menciptakan rasa memiliki yang kuat. Inilah inti dari slow communication, komunikasi yang memberi ruang bagi relasi jangka panjang dan kedalaman makna.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi kolektivitas, komunitas Vespa dapat dibaca sebagai ruang sosial alternatif yang menjaga nilai gotong royong di tengah individualisasi digital. Mereka menunjukkan bahwa teknologi tidak harus menghapus kebersamaan, selama digunakan dengan orientasi nilai.
Komunitas, Identitas, dan Resistensi Kultural
Dari perspektif Castells (2010), identitas dapat menjadi sumber makna yang mengatur bagaimana individu dan kelompok berinteraksi dalam jaringan. Komunitas Vespa memperlihatkan bahwa identitas kolektif dapat menjadi penyeimbang dominasi logika platform. Media sosial tidak mendikte siapa mereka, tetapi justru digunakan untuk menegaskan nilai yang telah ada.
Slogan seperti “Ride with Pride, Respect the Ride” dan “Classic Heart, Modern Soul” merepresentasikan dialektika antara tradisi dan modernitas. Vespa klasik dirawat sebagai simbol sejarah dan identitas, sementara teknologi modern digunakan secara selektif untuk mendukung komunikasi komunitas.
Dalam konteks ini, komunitas Vespa tidak hanya berfungsi sebagai kelompok hobi, tetapi juga sebagai bentuk resistensi kultural yang halus. Mereka tidak melakukan perlawanan frontal terhadap media sosial, tetapi memilih cara berkomunikasi yang berbeda. Resistensi ini bersifat praksis, diwujudkan dalam pilihan tempo, medium, dan orientasi komunikasi.
Implikasi bagi Kajian Komunikasi Kontemporer
Fenomena komunitas Vespa memiliki implikasi penting bagi kajian komunikasi kontemporer. Pertama, ia menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak bersifat homogen. Cara komunitas memanfaatkan teknologi sangat dipengaruhi oleh nilai, identitas, dan konteks budaya.
Kedua, konsep slow communication menawarkan lensa analitis untuk memahami praktik komunikasi yang tidak sepenuhnya tunduk pada akselerasi digital. Ketiga, studi komunikasi perlu lebih memberi ruang pada pendekatan kualitatif berbasis komunitas untuk menangkap makna komunikasi yang tidak selalu terukur oleh metrik digital. Interaksi yang jarang muncul di linimasa justru bisa menjadi fondasi relasi sosial yang paling kuat.
Komunitas Vespa seperti VMC MATSC Makassar memperlihatkan bahwa komunikasi di era media sosial tidak harus selalu cepat, bising, dan dangkal. Dengan mempraktikkan slow communication, mereka menunjukkan bahwa kedalaman relasi dan makna sosial masih dapat dipertahankan di tengah histeria digital.
Komunikasi dijalankan bukan untuk mengejar perhatian sesaat, melainkan untuk menjaga ikatan yang tumbuh dari kehadiran, konsistensi, dan saling menghormti. Dalam konteks Sulawesi Selatan, praktik ini sejalan dengan nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge yang menempatkan manusia sebagai subjek yang saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai tersebut hidup dalam cara komunitas Vespa membangun relasi, baik di jalan maupun di ruang digital.
Media sosial tidak dijadikan arena dominasi, tetapi ruang silaturahmi yang dijaga etika dan martabatnya. Vespa, dengan demikian, bukan sekadar kendaraan klasik yang bertahan di tengah modernitas.
Ia menjelma sebagai medium komunikasi sosial yang merawat nilai kebersamaan khas Sulawesi Selatan, di mana persaudaraan lebih penting daripada kecepatan, dan kehormatan relasi lebih
utama daripada sorotan algoritma. Di tengah dunia yang terus berlari, komunitas Vespa memilih melaju dengan sadar, pelan namun pasti, sambil menjaga persaudaraan sebagai inti dari praktik komunikasi yang bermakna.
Referensi:
APJII. (2023). Laporan survei penetrasi dan perilaku internet Indonesia 2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Interne Indonesia.
Ballard, D. I. (2026). Time by design: How communicating slow allows us to go fast. MIT Press.
Castells, M. (2010). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford University Press.
Lim, M. (2017). Freedom to hate: Social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia.
Critical Asian Studies, 49(3), 411–427. (Catatan: penulis Indonesia, banyak dirujuk dalam kajian komunikasi digital nasional)
Nasrullah, R. (2018). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Rosa, H. (2013). Social acceleration: A new theory of modernity. Columbia University Press.
Setiadi, E. M., & Kolip, U. (2011). Pengantar sosiologi komunitas. Kencana.
Sugihartati, R. (2014). Perkembangan masyarakat informasi dan teori sosial kontemporer. Kencana.
Van Dijck, J. (2013). The culture of connectivity: A critical history of social media. Oxford University Press.
We Are Social, & Meltwater. (2024). Digital 2024: Global overview report.
Yasin, E. (2024). A case for slow communication. IABC Catalyst.
Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Pascasarjana Universitas Fajar
DI TENGAH histeria media sosial yang ditandai oleh kecepatan, respons instan, dan obsesi pada visibilitas, praktik komunikasi manusia mengalami pergeseran mendasar. Komunikasi tidak lagi semata-mata soal pertukaran makna, tetapi juga soal tempo, performa, dan keterukuran.
Dalam lanskap digital yang didorong oleh algoritma, berbicara cepat sering kali lebih dihargai daripada berbicara bermakna. Dalam konteks inilah gagasan slow communication menjadi relevan sebagai pendekatan alternatif dalam memahami komunikasi kontemporer.
Dalam literatur komunikasi mutakhir, slow communication dipahami sebagai praktik komunikasi yang menekankan kualitas relasi, kedalaman makna, dan keberlanjutan interaksi, bukan sekadar kecepatan respons atau intensitas pesan (Yasin, 2024; Ballard, 2026).
Pendekatan ini muncul sebagai kritik terhadap budaya komunikasi cepat yang diproduksi oleh media digital, di mana manusia terus terhubung, tetapi kerap kehilangan kedalaman relasi. Media sosial mendorong individu untuk selalu hadir, tetapi tidak selalu memberi ruang untuk benar-benar berkomunikasi.
Di tengah kondisi tersebut, komunitas Vespa menghadirkan praktik komunikasi yang bergerak dengan tempo berbeda. Mereka tidak menolak teknologi, tetapi menggunakannya dengan kesadaran nilai. Di Makassar, Vespa MATS Community atau VMC MATSC menjadi contoh bagaimana komunitas berbasis hobi mempraktikkan slow communication di tengah dunia digital yang serba cepat. Komunitas ini telah berdiri selama 12 tahun dengan 47 anggota aktif, dan menjadikan persaudaraan sebagai fondasi utama relasi sosial mereka.
Komunikasi Kontemporer dan Logika Kecepatan Laporan We Are Social dan Meltwater (2024) menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia menghabiskan rata-rata lebih dari tiga jam per hari di media sosial. Media sosial menjadi ruang utama pertukaran informasi, ekspresi diri, dan pembentukan identitas. Namun, intensitas penggunaan ini juga membawa konsekuensi. Interaksi digital semakin dipercepat, dipadatkan, dan diukur melalui metrik kuantitatif seperti jumlah suka, komentar, dan jangkauan.
Hartmut Rosa (2013) menyebut kondisi ini sebagai akselerasi sosial, yakni situasi ketika teknologi mempercepat ritme hidup manusia, tetapi sekaligus menciptakan keterasingan. Dalam komunikasi, akselerasi ini membuat percakapan menjadi reaktif, singkat, dan mudah terputus.
Kecepatan menjadi nilai utama, sementara refleksi sering kali tersingkir. Dalam budaya komunikasi digital, pesan yang cepat sering dianggap lebih relevan daripada pesan yang dipikirkan matang. Akibatnya, komunikasi cenderung menjadi performatif. Individu berbicara bukan hanya untuk menyampaikan makna, tetapi untuk mempertahankan eksistensi di ruang digital. Inilah yang kemudian melahirkan apa yang kerap disebut sebagai histeria media sosial, kondisi ketika ruang komunikasi dipenuhi kebisingan, tetapi miskin kedalaman.
Vespa sebagai Medium Komunikasi Sosial
Berbeda dari logika tersebut, komunitas Vespa beroperasi dengan ritme komunikasi yang lebih lambat dan relasional. Vespa bukan sekadar kendaraan klasik, melainkan medium komunikasi sosial. Melalui aktivitas berkendara bersama, pertemuan rutin, dan interaksi informal, komunikasi berlangsung secara tatap muka dan berulang. Relasi dibangun melalui kehadiran, bukan sekadar representasi digital.
Dalam perspektif Giddens (1991), identitas modern dibentuk melalui refleksi berkelanjutan atas praktik sosial. Bagi komunitas Vespa, praktik berkendara bersama menjadi ruang refleksi kolektif yang menegaskan siapa mereka dan nilai apa yang mereka junjung. Vespa menjadi simbol kesetaraan, solidaritas, dan kebersamaan lintas latar belakang sosial.
VMC MATSC Makassar secara eksplisit mengartikulasikan nilai tersebut dalam misinya sebagai wadah pemersatu pecinta Vespa yang menjunjung tinggi persaudaraan, kekompakan, serta pelestarian budaya berkendara klasik dan modern. Slogan mereka, “Satu Vespa, Sejuta Saudara”, bukan sekadar ungkapan simbolik, tetapi prinsip komunikasi yang hidup dalam praktik keseharian komunitas.
Negosiasi dengan Media Sosial Menariknya, komunitas Vespa tidak sepenuhnya berada di luar ruang digital. VMC MATSC hadir di Instagram melalui akun @vmc.gang. Namun, cara mereka memanfaatkan media sosial berbeda dari pola umum yang berorientasi popularitas. Konten yang dibagikan lebih banyak
berfungsi sebagai dokumentasi perjalanan, pertemuan, dan kebersamaan, bukan sebagai ajang pencitraan individu.
Dalam konteks ini, media sosial digunakan sebagai perpanjangan dari relasi sosial yang telah lebih dulu terbentuk di dunia nyata. Media sosial tidak menggantikan komunikasi tatap muka, tetapi melengkapinya. Unggahan tidak diarahkan untuk mengejar viralitas, melainkan untuk menjaga memori kolektif dan identitas komunitas.
Pendekatan ini sejalan dengan pandangan Van Dijck (2013) tentang budaya konektivitas, di mana platform digital sebenarnya menawarkan beragam kemungkinan penggunaan. Komunitas Vespa memilih untuk tidak sepenuhnya tunduk pada logika algoritma, tetapi menegosiasikannya dengan nilai komunitas. Identitas kolektif menjadi penentu utama cara mereka berkomunikasi di ruang digital.
Slow Communication dan Modal Sosial
Robert Putnam (2000) dalam Bowling Alone mengemukakan bahwa modernitas dan individualisasi telah mengikis modal sosial masyarakat. Namun, komunitas seperti VMC MATSC justru menunjukkan bahwa modal sosial masih dapat tumbuh di tengah perubahan teknologi.
Kepercayaan, solidaritas, dan jaringan sosial dibangun melalui aktivitas bersama yang konsisten dan bermakna. Dalam komunitas Vespa, komunikasi tidak hanya menyampaikan pesan, tetapi membangun ikatan emosional. Berkendara bersama, berbagi pengalaman di jalan, dan saling membantu menciptakan rasa memiliki yang kuat. Inilah inti dari slow communication, komunikasi yang memberi ruang bagi relasi jangka panjang dan kedalaman makna.
Dalam konteks masyarakat Indonesia yang memiliki tradisi kolektivitas, komunitas Vespa dapat dibaca sebagai ruang sosial alternatif yang menjaga nilai gotong royong di tengah individualisasi digital. Mereka menunjukkan bahwa teknologi tidak harus menghapus kebersamaan, selama digunakan dengan orientasi nilai.
Komunitas, Identitas, dan Resistensi Kultural
Dari perspektif Castells (2010), identitas dapat menjadi sumber makna yang mengatur bagaimana individu dan kelompok berinteraksi dalam jaringan. Komunitas Vespa memperlihatkan bahwa identitas kolektif dapat menjadi penyeimbang dominasi logika platform. Media sosial tidak mendikte siapa mereka, tetapi justru digunakan untuk menegaskan nilai yang telah ada.
Slogan seperti “Ride with Pride, Respect the Ride” dan “Classic Heart, Modern Soul” merepresentasikan dialektika antara tradisi dan modernitas. Vespa klasik dirawat sebagai simbol sejarah dan identitas, sementara teknologi modern digunakan secara selektif untuk mendukung komunikasi komunitas.
Dalam konteks ini, komunitas Vespa tidak hanya berfungsi sebagai kelompok hobi, tetapi juga sebagai bentuk resistensi kultural yang halus. Mereka tidak melakukan perlawanan frontal terhadap media sosial, tetapi memilih cara berkomunikasi yang berbeda. Resistensi ini bersifat praksis, diwujudkan dalam pilihan tempo, medium, dan orientasi komunikasi.
Implikasi bagi Kajian Komunikasi Kontemporer
Fenomena komunitas Vespa memiliki implikasi penting bagi kajian komunikasi kontemporer. Pertama, ia menunjukkan bahwa komunikasi digital tidak bersifat homogen. Cara komunitas memanfaatkan teknologi sangat dipengaruhi oleh nilai, identitas, dan konteks budaya.
Kedua, konsep slow communication menawarkan lensa analitis untuk memahami praktik komunikasi yang tidak sepenuhnya tunduk pada akselerasi digital. Ketiga, studi komunikasi perlu lebih memberi ruang pada pendekatan kualitatif berbasis komunitas untuk menangkap makna komunikasi yang tidak selalu terukur oleh metrik digital. Interaksi yang jarang muncul di linimasa justru bisa menjadi fondasi relasi sosial yang paling kuat.
Komunitas Vespa seperti VMC MATSC Makassar memperlihatkan bahwa komunikasi di era media sosial tidak harus selalu cepat, bising, dan dangkal. Dengan mempraktikkan slow communication, mereka menunjukkan bahwa kedalaman relasi dan makna sosial masih dapat dipertahankan di tengah histeria digital.
Komunikasi dijalankan bukan untuk mengejar perhatian sesaat, melainkan untuk menjaga ikatan yang tumbuh dari kehadiran, konsistensi, dan saling menghormti. Dalam konteks Sulawesi Selatan, praktik ini sejalan dengan nilai sipakatau, sipakalebbi, dan sipakainge yang menempatkan manusia sebagai subjek yang saling memanusiakan, saling menghargai, dan saling mengingatkan. Nilai-nilai tersebut hidup dalam cara komunitas Vespa membangun relasi, baik di jalan maupun di ruang digital.
Media sosial tidak dijadikan arena dominasi, tetapi ruang silaturahmi yang dijaga etika dan martabatnya. Vespa, dengan demikian, bukan sekadar kendaraan klasik yang bertahan di tengah modernitas.
Ia menjelma sebagai medium komunikasi sosial yang merawat nilai kebersamaan khas Sulawesi Selatan, di mana persaudaraan lebih penting daripada kecepatan, dan kehormatan relasi lebih
utama daripada sorotan algoritma. Di tengah dunia yang terus berlari, komunitas Vespa memilih melaju dengan sadar, pelan namun pasti, sambil menjaga persaudaraan sebagai inti dari praktik komunikasi yang bermakna.
Referensi:
APJII. (2023). Laporan survei penetrasi dan perilaku internet Indonesia 2023. Asosiasi Penyelenggara Jasa Interne Indonesia.
Ballard, D. I. (2026). Time by design: How communicating slow allows us to go fast. MIT Press.
Castells, M. (2010). The rise of the network society (2nd ed.). Wiley-Blackwell.
Giddens, A. (1991). Modernity and self-identity: Self and society in the late modern age. Stanford University Press.
Lim, M. (2017). Freedom to hate: Social media, algorithmic enclaves, and the rise of tribal nationalism in Indonesia.
Critical Asian Studies, 49(3), 411–427. (Catatan: penulis Indonesia, banyak dirujuk dalam kajian komunikasi digital nasional)
Nasrullah, R. (2018). Media sosial: Perspektif komunikasi, budaya, dan sosioteknologi. Simbiosa Rekatama Media.
Putnam, R. D. (2000). Bowling alone: The collapse and revival of American community. Simon & Schuster.
Rosa, H. (2013). Social acceleration: A new theory of modernity. Columbia University Press.
Setiadi, E. M., & Kolip, U. (2011). Pengantar sosiologi komunitas. Kencana.
Sugihartati, R. (2014). Perkembangan masyarakat informasi dan teori sosial kontemporer. Kencana.
Van Dijck, J. (2013). The culture of connectivity: A critical history of social media. Oxford University Press.
We Are Social, & Meltwater. (2024). Digital 2024: Global overview report.
Yasin, E. (2024). A case for slow communication. IABC Catalyst.
(GUS)
Berita Terkait
News
Andi Tenri Indah: Menjaga Keseimbangan Nurani dan Keberanian di Ruang Kekuasaan
Di tengah dunia politik yang kerap kali diwarnai kalkulasi dan kompromi, nama Andi Tenri Indah justru tumbuh sebagai pengecualian.
Selasa, 20 Jan 2026 21:44
News
Mengapa Media Sosial Pemerintah Rajin Posting, tetapi Minim Respon Publik?
MEDIA sosial kini menjadi kanal penting dalam komunikasi publik pemerintahan. Dari tingkat pusat hingga daerah, berbagai platform digital dimanfaatkan untuk menyampaikan informasi program, kebijakan, serta aktivitas kelembagaan kepada masyarakat.
Senin, 19 Jan 2026 20:46
News
Pilkada Dikembalikan ke DPRD: Jalan Konstitusional atau Kemunduran Demokrasi
Wacana pengembalian mekanisme pemilihan kepala daerah (pilkada) dari pemilihan langsung oleh rakyat kepada pemilihan melalui DPRD kembali mengemuka dalam diskursus publik nasional.
Senin, 05 Jan 2026 10:11
News
Tahun Baru, KUH(A)P Baru
Saat tirai dan “senarai” bersaksi atas mentari tahun baru 2026, permadani keadilan Republik Indonesia menyambut sukacita, lapang jiwa. KUHP Baru menandai berakhirnya WvS, hasil peninggalan kolonial Belanda.
Senin, 05 Jan 2026 08:00
News
Pilkada Via DPRD: Jangan Korbankan Kedaulatan Rakyat
Pengamat Kebijakan Publik & Politik, Ras MD ikut angkat biacara mengenai wacana kepala daerah kembali dipilih oleh DPRD. Dukungan dari sebagian elite politik, termasuk dari Partai Gerindra, membuat isu ini menjadi bahan perbincangan publik.
Senin, 29 Des 2025 22:21
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Telan Rp26 M, Proyek Jaringan Air Baku Karalloe Tahap II Tuai Kritik Publik
2
Di Antara Kabut dan Jurang: Cerita 30 Jam Tim SAR Evakuasi Korban ATR
3
Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Basarnas Terapkan Metode Estafet Paket
4
Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Ekosistem Kampus Islami
5
PDAM Jeneponto Tak Dilibatkan di Proyek Air Baku Karalloe Rp25 Miliar
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Telan Rp26 M, Proyek Jaringan Air Baku Karalloe Tahap II Tuai Kritik Publik
2
Di Antara Kabut dan Jurang: Cerita 30 Jam Tim SAR Evakuasi Korban ATR
3
Evakuasi Korban Pesawat ATR 42-500, Basarnas Terapkan Metode Estafet Paket
4
Tekankan Pentingnya Pendidikan Karakter dalam Membangun Ekosistem Kampus Islami
5
PDAM Jeneponto Tak Dilibatkan di Proyek Air Baku Karalloe Rp25 Miliar