Dari Athena sampai Nusantara: Merawat Nalar di Tengah Kekuasaan yang Menggoda
Rabu, 11 Mar 2026 06:07
Samsir Salam, Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan.
Oleh Samsir Salam
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
(Refleksi Pasca Bedah Buku dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita)
TULISAN ini merupakan refleksi yang muncul setelah mengikuti bedah buku Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan karya Al Makin dalam Forum Guru Besar Insan Cita.
Namun sebagaimana lazimnya sebuah refleksi, ia tidak hanya berhenti pada kekaguman atas gagasan yang dipaparkan, melainkan juga memantik kegelisahan: apakah nalar yang selama ini diagungkan dalam sejarah filsafat masih benar-benar hidup di tengah praktik kekuasaan kita hari ini?
Sejarah pemikiran manusia memperlihatkan bahwa kekuasaan selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi ia diperlukan untuk mengatur kehidupan bersama, tetapi di sisi lain ia juga memiliki kecenderungan alami untuk melampaui batasnya sendiri. Karena itu, sejak awal peradaban, para filsuf selalu menempatkan nalar sebagai penjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi tirani.
Di Athena, tradisi itu dimulai oleh Socrates. Ia mengajarkan bahwa kebenaran harus diuji melalui pertanyaan, bahkan ketika pertanyaan itu terasa tidak nyaman bagi penguasa. Namun sejarah juga mencatat ironi yang tidak kecil: Socrates justru dihukum mati oleh sistem politik yang merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaannya. Sejak saat itu kita belajar satu hal penting—kekuasaan sering kali lebih menyukai pujian daripada nalar.
Muridnya, Plato, membayangkan negara dipimpin oleh para filsuf. Sebuah gagasan yang tampak mulia: kekuasaan berada di tangan mereka yang memiliki kebijaksanaan. Namun jika kita menoleh pada realitas politik modern, pertanyaannya menjadi agak satir: apakah kekuasaan hari ini benar-benar dipimpin oleh kebijaksanaan, atau justru oleh kepiawaian mengelola citra?
Sementara itu, Aristoteles menegaskan bahwa negara ada untuk mencapai kebaikan bersama. Akan tetapi dalam praktik politik kontemporer, istilah “kebaikan bersama” sering kali berubah menjadi konsep yang sangat lentur—cukup fleksibel untuk menyesuaikan kepentingan siapa pun yang sedang berada di puncak kekuasaan.
Dalam tradisi Timur, filsuf seperti Lao Tzu mengingatkan bahwa kekuasaan yang bijak justru tidak menonjolkan dirinya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak merasa perlu menunjukkan kekuasaannya setiap saat. Ironisnya, dalam dunia politik modern, kekuasaan sering kali justru diukur dari seberapa sering ia tampil, berbicara, dan mendominasi ruang publik.
Tradisi filsafat Islam juga memberikan pelajaran penting. Pemikir seperti Ibnu Rusyd (Averroes) berusaha mempertemukan wahyu dan akal. Bagi Ibnu Rusyd, agama tidak boleh menutup ruang rasionalitas. Namun dalam praktik sosial kita hari ini, agama kadang justru dipanggil bukan untuk menerangi nalar, melainkan untuk memberi legitimasi bagi kepentingan kekuasaan.
Memasuki era modern, gagasan tentang pembatasan kekuasaan semakin menguat. John Locke menegaskan bahwa kekuasaan negara berasal dari rakyat. Negara tidak boleh bertindak sewenang-wenang karena ia hanyalah mandat dari masyarakat. Namun dalam praktiknya, mandat rakyat sering kali dipahami secara sederhana—seolah-olah ia adalah tiket lima tahunan untuk melakukan apa saja atas nama kekuasaan.
Pemikir kontemporer seperti Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional. Demokrasi membutuhkan dialog terbuka yang bebas dari dominasi. Namun di era media sosial, ruang publik sering kali berubah menjadi arena pertarungan opini yang lebih bising daripada rasional.
Buku ini menjadi menarik karena tidak berhenti pada percakapan filsafat Barat. Ia membawa pembaca sampai pada pemikiran Nusantara. Tokoh seperti Tan Malaka, Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Wahid menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tradisi intelektual yang kaya dalam membicarakan kebebasan, pluralisme, dan etika kekuasaan
Namun di sinilah refleksi itu menjadi semakin tajam. Kita memiliki tradisi intelektual yang kaya, tetapi sering kali lebih gemar mengutip pemikiran daripada mempraktikkannya. Kita membicarakan demokrasi dengan sangat fasih, tetapi kadang lupa bahwa demokrasi juga membutuhkan keberanian untuk menjaga integritasnya.
Dalam konteks ini, merawat nalar menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai. Kekuasaan memang selalu menggoda. Ia dapat membuat manusia merasa berada di atas hukum, di atas kritik, bahkan di atas akal sehat. Ketika kekuasaan mulai merasa tidak lagi membutuhkan nalar, pada saat itulah demokrasi perlahan kehilangan rohnya.
Karena itu, dari Athena sampai Nusantara, perjalanan filsafat sebenarnya menyampaikan pesan yang sederhana namun mendasar: kekuasaan harus selalu diawasi oleh nalar. Tanpa nalar yang merdeka, kekuasaan akan mudah berubah menjadi panggung bagi ambisi. Tetapi dengan nalar yang terawat, kekuasaan masih memiliki peluang untuk tetap berada di jalan keadilan.
Dari Athena sampai Nusantara, sejarah filsafat mengingatkan kita bahwa kekuasaan boleh saja berganti tangan, tetapi nalar tidak boleh pernah berhenti mengawasinya.
Ketua Bawaslu Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan
(Refleksi Pasca Bedah Buku dalam Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita)
TULISAN ini merupakan refleksi yang muncul setelah mengikuti bedah buku Dari Athena sampai Nusantara: Pengantar Filsafat Dunia tentang Manusia, Nalar, Agama, dan Kekuasaan karya Al Makin dalam Forum Guru Besar Insan Cita.
Namun sebagaimana lazimnya sebuah refleksi, ia tidak hanya berhenti pada kekaguman atas gagasan yang dipaparkan, melainkan juga memantik kegelisahan: apakah nalar yang selama ini diagungkan dalam sejarah filsafat masih benar-benar hidup di tengah praktik kekuasaan kita hari ini?
Sejarah pemikiran manusia memperlihatkan bahwa kekuasaan selalu datang dengan dua wajah. Di satu sisi ia diperlukan untuk mengatur kehidupan bersama, tetapi di sisi lain ia juga memiliki kecenderungan alami untuk melampaui batasnya sendiri. Karena itu, sejak awal peradaban, para filsuf selalu menempatkan nalar sebagai penjaga agar kekuasaan tidak berubah menjadi tirani.
Di Athena, tradisi itu dimulai oleh Socrates. Ia mengajarkan bahwa kebenaran harus diuji melalui pertanyaan, bahkan ketika pertanyaan itu terasa tidak nyaman bagi penguasa. Namun sejarah juga mencatat ironi yang tidak kecil: Socrates justru dihukum mati oleh sistem politik yang merasa terganggu oleh pertanyaan-pertanyaannya. Sejak saat itu kita belajar satu hal penting—kekuasaan sering kali lebih menyukai pujian daripada nalar.
Muridnya, Plato, membayangkan negara dipimpin oleh para filsuf. Sebuah gagasan yang tampak mulia: kekuasaan berada di tangan mereka yang memiliki kebijaksanaan. Namun jika kita menoleh pada realitas politik modern, pertanyaannya menjadi agak satir: apakah kekuasaan hari ini benar-benar dipimpin oleh kebijaksanaan, atau justru oleh kepiawaian mengelola citra?
Sementara itu, Aristoteles menegaskan bahwa negara ada untuk mencapai kebaikan bersama. Akan tetapi dalam praktik politik kontemporer, istilah “kebaikan bersama” sering kali berubah menjadi konsep yang sangat lentur—cukup fleksibel untuk menyesuaikan kepentingan siapa pun yang sedang berada di puncak kekuasaan.
Dalam tradisi Timur, filsuf seperti Lao Tzu mengingatkan bahwa kekuasaan yang bijak justru tidak menonjolkan dirinya. Pemimpin yang baik adalah mereka yang tidak merasa perlu menunjukkan kekuasaannya setiap saat. Ironisnya, dalam dunia politik modern, kekuasaan sering kali justru diukur dari seberapa sering ia tampil, berbicara, dan mendominasi ruang publik.
Tradisi filsafat Islam juga memberikan pelajaran penting. Pemikir seperti Ibnu Rusyd (Averroes) berusaha mempertemukan wahyu dan akal. Bagi Ibnu Rusyd, agama tidak boleh menutup ruang rasionalitas. Namun dalam praktik sosial kita hari ini, agama kadang justru dipanggil bukan untuk menerangi nalar, melainkan untuk memberi legitimasi bagi kepentingan kekuasaan.
Memasuki era modern, gagasan tentang pembatasan kekuasaan semakin menguat. John Locke menegaskan bahwa kekuasaan negara berasal dari rakyat. Negara tidak boleh bertindak sewenang-wenang karena ia hanyalah mandat dari masyarakat. Namun dalam praktiknya, mandat rakyat sering kali dipahami secara sederhana—seolah-olah ia adalah tiket lima tahunan untuk melakukan apa saja atas nama kekuasaan.
Pemikir kontemporer seperti Jürgen Habermas menekankan pentingnya ruang publik yang rasional. Demokrasi membutuhkan dialog terbuka yang bebas dari dominasi. Namun di era media sosial, ruang publik sering kali berubah menjadi arena pertarungan opini yang lebih bising daripada rasional.
Buku ini menjadi menarik karena tidak berhenti pada percakapan filsafat Barat. Ia membawa pembaca sampai pada pemikiran Nusantara. Tokoh seperti Tan Malaka, Nurcholish Madjid, dan Abdurrahman Wahid menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tradisi intelektual yang kaya dalam membicarakan kebebasan, pluralisme, dan etika kekuasaan
Namun di sinilah refleksi itu menjadi semakin tajam. Kita memiliki tradisi intelektual yang kaya, tetapi sering kali lebih gemar mengutip pemikiran daripada mempraktikkannya. Kita membicarakan demokrasi dengan sangat fasih, tetapi kadang lupa bahwa demokrasi juga membutuhkan keberanian untuk menjaga integritasnya.
Dalam konteks ini, merawat nalar menjadi pekerjaan yang tidak pernah selesai. Kekuasaan memang selalu menggoda. Ia dapat membuat manusia merasa berada di atas hukum, di atas kritik, bahkan di atas akal sehat. Ketika kekuasaan mulai merasa tidak lagi membutuhkan nalar, pada saat itulah demokrasi perlahan kehilangan rohnya.
Karena itu, dari Athena sampai Nusantara, perjalanan filsafat sebenarnya menyampaikan pesan yang sederhana namun mendasar: kekuasaan harus selalu diawasi oleh nalar. Tanpa nalar yang merdeka, kekuasaan akan mudah berubah menjadi panggung bagi ambisi. Tetapi dengan nalar yang terawat, kekuasaan masih memiliki peluang untuk tetap berada di jalan keadilan.
Dari Athena sampai Nusantara, sejarah filsafat mengingatkan kita bahwa kekuasaan boleh saja berganti tangan, tetapi nalar tidak boleh pernah berhenti mengawasinya.
(GUS)
Berita Terkait
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
News
Buah-buah 'Penolong' di Momen Hari Raya Idul Adha
Setelah Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Kamis, 28 Mei 2026 16:37
News
Penerapan Plea Bargain dalam Sistem Peradilan Pidana
Konstruksi mekanisme pengakuan bersalah dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) terbaru perlu dipahami dalam perspektif sistem hukum pidana yang bertradisi civil law.
Senin, 25 Mei 2026 06:21
News
Di Balik Kemudahan AI, Ada Krisis Daya Kritis
Hari ini, semakin banyak pelajar dan mahasiswa mampu menyelesaikan tugas hanya dalam hitungan menit.
Minggu, 24 Mei 2026 05:36
News
Meratakan Lapangan Belajar Indonesia
Setiap tahun, ribuan siswa Indonesia duduk di bangku sekolah dengan harapan yang sama: mendapat pendidikan terbaik. Namun di balik harapan itu, tersimpan kesenjangan nyata.
Selasa, 19 Mei 2026 09:01
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hino Serahkan Truk & Hadirkan Kelas Industri di SMKN 5 Makassar
2
Jelajahi Sulsel Lebih Nyaman Bersama Hyundai New CRETA
3
Pertamina Apresiasi Patroli Polda Sulsel, Antrean Biosolar di Jalur Makassar-Maros Lebih Tertib
4
Andi Syahrum Pimpin Langsung Normalisasi Saluran Air Baku Abdesir-Manggala
5
LG Luncurkan Lini Produk 2026, Perkuat Ekosistem Rumah Pintar Berbasis AI
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Hino Serahkan Truk & Hadirkan Kelas Industri di SMKN 5 Makassar
2
Jelajahi Sulsel Lebih Nyaman Bersama Hyundai New CRETA
3
Pertamina Apresiasi Patroli Polda Sulsel, Antrean Biosolar di Jalur Makassar-Maros Lebih Tertib
4
Andi Syahrum Pimpin Langsung Normalisasi Saluran Air Baku Abdesir-Manggala
5
LG Luncurkan Lini Produk 2026, Perkuat Ekosistem Rumah Pintar Berbasis AI