Iman yang Bergerak: Dari Kesadaran Menuju Kemenangan

Rabu, 22 Apr 2026 09:11
Iman yang Bergerak: Dari Kesadaran Menuju Kemenangan
Dr Muh. Ikhsan AR M Ag (Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari)
Comment
Share
Oleh: Dr Muh. Ikhsan AR M Ag
(Dosen Sejarah Pemikiran Islam Pascasarjana IAIN Kendari)


QS. At-Taubah/9: 20 menghadirkan satu pesan yang tegas sekaligus mendalam: bahwa iman sejati bukan sekadar keyakinan batin, melainkan energi yang melahirkan gerak hijrah dan jihad yang berujung pada kemenangan (al-fā’izūn). Ayat ini bukan hanya berbicara tentang sejarah para sahabat, tetapi juga tentang arsitektur spiritual manusia sepanjang zaman: bagaimana iman harus bertransformasi menjadi tindakan.

Di tengah realitas modern yang sering memisahkan antara keyakinan dan praktik, ayat ini justru menegaskan integrasi keduanya. Iman tanpa gerak adalah ilusi, sementara gerak tanpa iman kehilangan arah. Maka, “iman yang bergerak” adalah iman yang menjelma menjadi kesadaran, perubahan, dan perjuangan sekaligus.

Dalam perspektif Nurcholish Madjid, QS. 9:20 dapat dibaca sebagai panggilan untuk membumikan tauhid dalam kehidupan sosial. Tauhid, menurutnya, bukan hanya pengakuan keesaan Tuhan, tetapi juga pembebasan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada-Nya. Karena itu, iman harus melahirkan keberanian moral untuk menata kehidupan yang adil, terbuka, dan berkeadaban.

Hijrah, dalam kerangka pemikiran Cak Nur, bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah ke Madinah, tetapi simbol transformasi peradaban. Ia adalah perpindahan dari pola hidup yang sempit menuju visi yang luas, dari eksklusivisme menuju inklusivisme. Dalam konteks ini, jihad menjadi kerja kreatif dan konstruktif: membangun masyarakat yang berlandaskan nilai-nilai Ilahi tanpa kehilangan sensitivitas kemanusiaan.

Dengan demikian, “kemenangan” dalam QS. 9:20 bukan hanya kemenangan individual, tetapi juga kemenangan peradaban terwujudnya masyarakat yang adil, beradab, dan berorientasi pada nilai-nilai transenden.

Sementara itu, dalam perspektif Muhammad Sabri AR, ayat ini mengandung dimensi yang lebih dalam: iman sebagai kesadaran kosmik. Iman tidak berhenti pada pengakuan rasional, tetapi menjadi kesadaran eksistensial bahwa hidup ini sepenuhnya berada dalam lingkaran Ilahi.

Dalam kerangka ini, hijrah dimaknai sebagai migrasi batin perpindahan dari kesadaran ego menuju kesadaran Ilahiah. Manusia modern, menurutnya, sering terjebak dalam “keramaian semu”: teknologi yang mendekatkan yang jauh tetapi menjauhkan yang dekat, termasuk jarak antara manusia dan dirinya sendiri. Maka hijrah adalah upaya menemukan kembali pusat diri yang sejati.

Adapun jihad, dalam perspektif Muhammad Sabri AR, adalah perjuangan melawan fragmentasi eksistensial. Ia bukan hanya tentang melawan musuh eksternal, tetapi juga melawan diri yang tercerai-berai oleh distraksi, ambisi, dan ilusi dunia digital. Jihad adalah upaya merawat keutuhan diri di tengah dunia yang memecah perhatian dan makna.

Dalam titik ini, kemenangan (al-fā’izūn) tidak lagi dimaknai sebagai keberhasilan material, tetapi sebagai keberhasilan eksistensial: ketika manusia mampu menyelaraskan iman, hijrah, dan jihad dalam satu kesatuan hidup yang utuh. Kemenangan adalah saat seseorang tidak kehilangan dirinya di tengah dunia, dan tidak kehilangan Tuhannya di tengah dirinya.

Jika kedua perspektif ini dipertemukan, kita menemukan satu benang merah: iman harus melahirkan transformasi—baik pada level sosial maupun eksistensial. Ia harus bergerak keluar membangun peradaban, sekaligus bergerak ke dalam menata jiwa. Tanpa gerak keluar, iman kehilangan dampak sosial. Tanpa gerak ke dalam, iman kehilangan kedalaman spiritual.

QS. 9:20, dengan demikian, bukan hanya ayat tentang keutamaan, tetapi juga peta jalan kehidupan. Ia mengajarkan bahwa:

Iman adalah kesadaran yang menghidupkan,Hijrah adalah keberanian untuk berubah,Jihad adalah kesungguhan untuk membuktikan.

Dan pada akhirnya, kemenangan bukanlah tentang apa yang kita miliki, tetapi tentang siapa kita di hadapan Tuhan: apakah kita hanya percaya, ataukah kita benar-benar telah bergerak.

Iman yang tidak bergerak akan menjadi wacana.Iman yang bergerak akan menjadi jalan menuju kemenangan

Wallāhu a‘lam bi al-shawāb.
(GUS)
Berita Terkait
Berita Terbaru