Perempuan, Gender, dan Kepemimpinan Pendidikan
Senin, 27 Apr 2026 11:22
Dosen Administrasi Pendidikan UNM, Andi Tenri Abeng. Foto: Dokumen Pribadi
Oleh: Andi Tenri Abeng
Dosen Administrasi Pendidikan UNM
Setiap tanggal 21 April, Indonesia bersukacita merayakan Hari Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik.
Namun, di balik perayaan tersebut, muncul pertanyaan reflektif: Sejauh mana perempuan telah memperoleh kesetaraan, khususnya dalam kepemimpinan pendidikan berbasis gender?.
Sebelum jauh melihat persoalan tersebut, mari kita dudukkan dulu perkara perempuan sebagai jenis kelamin dan perempuan sebagai sebuah gender. Sebab, sejarah perdebatan tentang kepemimpinan berbasis gender, selalu dikaitkan dengan perbedaan kepemimpinan laki-laki dan perempuan.
Gender berbeda dengan jenis kelamin (sex). Jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis yang melekat pada laki-laki dan perempuan sejak lahir, seperti perbedaan pada fungsi reproduksi dan ciri-ciri fisik tertentu.
Sementara itu, perempuan memiliki karakteristik biologis yang berkaitan dengan fungsi reproduksi, seperti kemampuan untuk mengalami menstruasi dan menyusui (Hermanto, 2017).
Sementara itu, gender merujuk pada perbedaan-perbedaan yang melibatkan peran, fungsi, hak, dan perilaku antara perempuan dan laki-laki yang terbentuk oleh norma-norma sosial dan budaya dalam masyarakat setempat (Latifah, dkk, 2024).
Gender merupakan aspek yang berkaitan dengan sosial budaya. Gender merupakan sesuatu yang dilekatkan, dikodifikasi dan dilembagakan secara sosial dan cultural kepada laki-laki dan perempuan, yang menyangkut fungsi, peran, hak dan kewajiban masuk dalam wilayah gender. Misalnya perempuan itu memiliki sifat lemah lembut, emosional, keibuan dan cantik. Sedangkan laki-laki memiliki sifat kuat, rasional, jantan, dan perkasa.
Jadi pada dasarnya gender adalah sifat yang dilekatkan, baik kepada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan cultural, yang menyangkut hal yang bersifat non biologis (Hermanto, 2017).
Sementara itu, jenis kelamin bersifat biologis dan universal atau kodrati sehingga tidak dapat dipertukarkan. Dalam konteks karakter kepemimpinan berbasis gender, maka perempuan dan laki-laki dianggap memiliki perbedaan karakter dalam mempimpin. Kajian gender secara umum membagi dalam dua jenis identitas karakter, yaitu feminin dan maskulin–meski beberapa ahli membedakan lebih dari dua.
Konsep feminin melekat pada perempuan, sedangkan maskulin melekat pada laki-laki. Dalam konteks yang lebih rinci, karakter maskulin antara lain digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegas, berani, semangat, harga diri dan kepercayaan diri. Laki-laki juga dianggap lebih berani mengambil risiko, agresif, bebas, objektif, tidak emosional, aktif, kompetitif, ambisius, rasional, rasa ingin tahu tentang berbagai peristiwa (Izzah & Hidayah, 2022).
Sedangkan karakteristik peran gender feminin antara lain adalah lebih memperhatikan perasaan, emosional, lebih sensitif, rapi, teliti, tabah, lembut, hangat, hemat, lebih berhati-hati, dan ramah (Izzah & Hidayah, 2022). Pada dimensi karakter yang lain, menurut Latifah, dkk., (2024) pemimpin laki-laki cenderung fokus pada aspek finansial, bersifat kompetitif, puas dengan pekerjaan, dan mencari status serta penghargaan.
Konsep perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan tersebut kemudian berkembang menjadi bias dan stereotip gender dalam masyarakat. Bias gender ini dapat menyebabkan terjadinya subordinasi terhadap perempuan, sehingga perempuan sering ditempatkan pada posisi yang lebih rendah atau inferior dibandingkan dengan laki-laki.
Kondisi ini tidak hanya membatasi ruang gerak perempuan, tetapi juga memengaruhi kesempatan mereka dalam memperoleh akses yang setara, termasuk dalam bidang kepemimpinan.
Menurut laporan World Economic Forum (WEF) terkait Global Gender Gap Report 2025, Indonesia mencatatkan skor Indeks Kesenjangan Gender sebesar 0,692. Skor ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-97 dari 148 negara yang disurvei. Dengan skor 0,692, tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih tergolong rendah di kawasan Asia Tenggara, menempati urutan ke-7 dari 10 negara yang disurvei.
Kembali kepada kepemimpinan perempuan, hal menarik terkait fenomena kepemimpinan perempuan di bidang pendidikan bahwa di tengah terpaan stereotip dan kesenjangan gender justru banyak kajian yang menunjukkan bahwa perempuan efektif dalam memimpin di bidang pendidikan.
Studi Kesetaraan Kesempatan Pendidikan yang lebih dikenal dengan studi Coleman menunjukkan bahwa kepala sekolah dan para manajer senior perempuan lainnya di Inggris dan Wales mengindikasikan mereka cenderung berperilaku model kepemimpinan transformatif dan partisipatif.
Selain itu, sebuah survei yang dilakukan oleh INOVASI di 16 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur, menunjukkan bahwa banyak kepala sekolah perempuan sukses memajukan sekolahnya. Survei terhadap 567 guru dan 199 kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan lebih handal membangun suasana belajar yang kondusif dan menerapkan manajemen sekolah yang baik (Affandi dkk, 2022).
Hal tersebut menandakan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, terutama pada bidang pendidikan. Meski demikian, sebuah anomali data menunjukkan bahwa di Indonesia, jumlah guru perempuan pada jenjang pendidikan dasar relatif lebih tinggi dibanding laki-laki. Namun, representasi perempuan dalam posisi kepala sekolah dan pengambil kebijakan masih belum seimbang.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural dalam kepemimpinan pendidikan. Maka dari itu, di era emansipasi seperti saat ini, sudah selayaknya perempuan tidak lagi dipandang sebagai gender kelas dua. Perempuan memiliki potensi besar dalam memimpin.
Bahkan dalam beberapa kajian terkait kepemimpinan pendidikan, perempuan jauh lebih mampu menerapkan kepemimpinan trasformatif. Maka dari itu, sudah waktunya perempuan maju dan bersaing dengan laki-laki dalam berbagai formasi kepemimpinan di bidang pendidikan.
Penulis saat ini berstatus sebagai CPNS Dosen di Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar. Fokus kajian penulis pada Kepemimpinan Pendidikan dan Kepemimpinan Berbasis Gender. Penulis dapat dihubungi di anditenriabeng@unm.ac.id
Dosen Administrasi Pendidikan UNM
Setiap tanggal 21 April, Indonesia bersukacita merayakan Hari Kartini sebagai simbol emansipasi perempuan. Berbagai kegiatan digelar di sekolah, kantor pemerintahan, hingga ruang publik.
Namun, di balik perayaan tersebut, muncul pertanyaan reflektif: Sejauh mana perempuan telah memperoleh kesetaraan, khususnya dalam kepemimpinan pendidikan berbasis gender?.
Sebelum jauh melihat persoalan tersebut, mari kita dudukkan dulu perkara perempuan sebagai jenis kelamin dan perempuan sebagai sebuah gender. Sebab, sejarah perdebatan tentang kepemimpinan berbasis gender, selalu dikaitkan dengan perbedaan kepemimpinan laki-laki dan perempuan.
Gender berbeda dengan jenis kelamin (sex). Jenis kelamin merujuk pada perbedaan biologis yang melekat pada laki-laki dan perempuan sejak lahir, seperti perbedaan pada fungsi reproduksi dan ciri-ciri fisik tertentu.
Sementara itu, perempuan memiliki karakteristik biologis yang berkaitan dengan fungsi reproduksi, seperti kemampuan untuk mengalami menstruasi dan menyusui (Hermanto, 2017).
Sementara itu, gender merujuk pada perbedaan-perbedaan yang melibatkan peran, fungsi, hak, dan perilaku antara perempuan dan laki-laki yang terbentuk oleh norma-norma sosial dan budaya dalam masyarakat setempat (Latifah, dkk, 2024).
Gender merupakan aspek yang berkaitan dengan sosial budaya. Gender merupakan sesuatu yang dilekatkan, dikodifikasi dan dilembagakan secara sosial dan cultural kepada laki-laki dan perempuan, yang menyangkut fungsi, peran, hak dan kewajiban masuk dalam wilayah gender. Misalnya perempuan itu memiliki sifat lemah lembut, emosional, keibuan dan cantik. Sedangkan laki-laki memiliki sifat kuat, rasional, jantan, dan perkasa.
Jadi pada dasarnya gender adalah sifat yang dilekatkan, baik kepada laki-laki maupun perempuan yang dikonstruksi secara sosial dan cultural, yang menyangkut hal yang bersifat non biologis (Hermanto, 2017).
Sementara itu, jenis kelamin bersifat biologis dan universal atau kodrati sehingga tidak dapat dipertukarkan. Dalam konteks karakter kepemimpinan berbasis gender, maka perempuan dan laki-laki dianggap memiliki perbedaan karakter dalam mempimpin. Kajian gender secara umum membagi dalam dua jenis identitas karakter, yaitu feminin dan maskulin–meski beberapa ahli membedakan lebih dari dua.
Konsep feminin melekat pada perempuan, sedangkan maskulin melekat pada laki-laki. Dalam konteks yang lebih rinci, karakter maskulin antara lain digambarkan sebagai sosok yang kuat, tegas, berani, semangat, harga diri dan kepercayaan diri. Laki-laki juga dianggap lebih berani mengambil risiko, agresif, bebas, objektif, tidak emosional, aktif, kompetitif, ambisius, rasional, rasa ingin tahu tentang berbagai peristiwa (Izzah & Hidayah, 2022).
Sedangkan karakteristik peran gender feminin antara lain adalah lebih memperhatikan perasaan, emosional, lebih sensitif, rapi, teliti, tabah, lembut, hangat, hemat, lebih berhati-hati, dan ramah (Izzah & Hidayah, 2022). Pada dimensi karakter yang lain, menurut Latifah, dkk., (2024) pemimpin laki-laki cenderung fokus pada aspek finansial, bersifat kompetitif, puas dengan pekerjaan, dan mencari status serta penghargaan.
Konsep perbedaan karakter antara laki-laki dan perempuan tersebut kemudian berkembang menjadi bias dan stereotip gender dalam masyarakat. Bias gender ini dapat menyebabkan terjadinya subordinasi terhadap perempuan, sehingga perempuan sering ditempatkan pada posisi yang lebih rendah atau inferior dibandingkan dengan laki-laki.
Kondisi ini tidak hanya membatasi ruang gerak perempuan, tetapi juga memengaruhi kesempatan mereka dalam memperoleh akses yang setara, termasuk dalam bidang kepemimpinan.
Menurut laporan World Economic Forum (WEF) terkait Global Gender Gap Report 2025, Indonesia mencatatkan skor Indeks Kesenjangan Gender sebesar 0,692. Skor ini menempatkan Indonesia pada peringkat ke-97 dari 148 negara yang disurvei. Dengan skor 0,692, tingkat kesetaraan gender di Indonesia masih tergolong rendah di kawasan Asia Tenggara, menempati urutan ke-7 dari 10 negara yang disurvei.
Kembali kepada kepemimpinan perempuan, hal menarik terkait fenomena kepemimpinan perempuan di bidang pendidikan bahwa di tengah terpaan stereotip dan kesenjangan gender justru banyak kajian yang menunjukkan bahwa perempuan efektif dalam memimpin di bidang pendidikan.
Studi Kesetaraan Kesempatan Pendidikan yang lebih dikenal dengan studi Coleman menunjukkan bahwa kepala sekolah dan para manajer senior perempuan lainnya di Inggris dan Wales mengindikasikan mereka cenderung berperilaku model kepemimpinan transformatif dan partisipatif.
Selain itu, sebuah survei yang dilakukan oleh INOVASI di 16 kabupaten dan satu kota di Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, dan Jawa Timur, menunjukkan bahwa banyak kepala sekolah perempuan sukses memajukan sekolahnya. Survei terhadap 567 guru dan 199 kepala sekolah menunjukkan bahwa kepala sekolah perempuan lebih handal membangun suasana belajar yang kondusif dan menerapkan manajemen sekolah yang baik (Affandi dkk, 2022).
Hal tersebut menandakan bahwa perempuan memiliki potensi besar untuk menjadi pemimpin, terutama pada bidang pendidikan. Meski demikian, sebuah anomali data menunjukkan bahwa di Indonesia, jumlah guru perempuan pada jenjang pendidikan dasar relatif lebih tinggi dibanding laki-laki. Namun, representasi perempuan dalam posisi kepala sekolah dan pengambil kebijakan masih belum seimbang.
Hal ini menunjukkan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural dalam kepemimpinan pendidikan. Maka dari itu, di era emansipasi seperti saat ini, sudah selayaknya perempuan tidak lagi dipandang sebagai gender kelas dua. Perempuan memiliki potensi besar dalam memimpin.
Bahkan dalam beberapa kajian terkait kepemimpinan pendidikan, perempuan jauh lebih mampu menerapkan kepemimpinan trasformatif. Maka dari itu, sudah waktunya perempuan maju dan bersaing dengan laki-laki dalam berbagai formasi kepemimpinan di bidang pendidikan.
Penulis saat ini berstatus sebagai CPNS Dosen di Jurusan Administrasi Pendidikan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Makassar. Fokus kajian penulis pada Kepemimpinan Pendidikan dan Kepemimpinan Berbasis Gender. Penulis dapat dihubungi di anditenriabeng@unm.ac.id
(MAN)
Berita Terkait
Makassar City
FEB UMI Gandeng Pegadaian Tingkatkan Literasi Investasi Digital Mahasiswa
Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Muslim Indonesia (UMI) bekerja sama dengan PT Pegadaian menggelar program Pegadaian Mengajar, Kamis (11/6/2026).
Kamis, 11 Jun 2026 20:19
News
International Talk UNM di PBAKL, Prof Hasmyati Paparkan Olahraga Tradisional di Era Digital
Universitas Negeri Makassar (UNM) kembali menunjukkan kiprahnya di tingkat internasional melalui kegiatan International Talk yang digelar di Pavilion MAPIM, Aras 2 Dewan Tun Dr Ismail, dalam rangkaian Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur (PBAKL) 2026.
Minggu, 07 Jun 2026 16:25
News
Prof Hasmyati Jadi Pembicara Simposium Antarbangsa di Malaysia
Guru Besar Universitas Negeri Makassar (UNM), diundang menjadi pembicara pada kegiatan Simposium Antarabangsa Kepustakaan, Terjemahan dan Kecerdasan Buatan (LiTr.AI) di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 3–4 Juni 2026.
Kamis, 04 Jun 2026 16:39
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
News
Buah-buah 'Penolong' di Momen Hari Raya Idul Adha
Setelah Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Kamis, 28 Mei 2026 16:37
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama
2
Dinilai Keliru, Kemendagri Diminta Evaluasi Hak Angket DPRD Gowa
3
Kinerja Positif Pelindo Regional 4 : Trafik Penumpang, Peti Kemas & Kapal Naik
4
PLN UIP Sulawesi Amankan Lahan GITET Andowia, Perkuat Kelistrikan Sultra
5
Haul ke-7 Raja Binamu ke-16 Digelar Agustus 2026, Panitia Genjot Persiapan
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
1 Muharram: Jangan Ganti Kalender Kalau Mentalitas Masih Sama
2
Dinilai Keliru, Kemendagri Diminta Evaluasi Hak Angket DPRD Gowa
3
Kinerja Positif Pelindo Regional 4 : Trafik Penumpang, Peti Kemas & Kapal Naik
4
PLN UIP Sulawesi Amankan Lahan GITET Andowia, Perkuat Kelistrikan Sultra
5
Haul ke-7 Raja Binamu ke-16 Digelar Agustus 2026, Panitia Genjot Persiapan