Buah-buah 'Penolong' di Momen Hari Raya Idul Adha
Kamis, 28 Mei 2026 16:37
Dr dr Rachmat Faisal Syamsu M Kes FISPH FISCM. Foto: Istimewa
Oleh: Dr dr Rachmat Faisal Syamsu M Kes FISPH FISCM
(Dosen Fakultas Kedokteran UMI Makassar / Kepakaran Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga)
SETELAH Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Namun ada satu hal yang sering tidak disadari masyarakat setelah “pesta daging” selesai, tubuh sebenarnya sedang bekerja keras di dalam diam.
Lemak masuk lebih banyak. Garam meningkat. Sistem pencernaan bekerja ekstra. Dan pembuluh darah mulai menerima beban yang lebih berat dari biasanya. Karena itu menarik sekali melihat bagaimana alam menyediakan “penyeimbang” yang sederhana: buah-buahan.
Mungkin selama ini kita menganggap buah hanya pelengkap meja makan. Padahal beberapa buah bekerja seperti “tim pembersih” alami dalam tubuh.
Berikut buah “penolong” di momen Hari Idul Adha:
Alpukat, Lemak yang Justru Menolong Jantung
Banyak orang takut makan alpukat karena dianggap berlemak. Padahal alpukat kaya lemak tak jenuh tunggal yang membantu meningkatkan kolesterol baik (HDL).
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menunjukkan bahwa konsumsi alpukat setiap hari dapat membantu menurunkan LDL pada orang dengan berat badan berlebih. Masalahnya sering bukan pada buahnya, tetapi pada gula dan susu berlebihan yang ditambahkan.
Apel: “Sapu Kolesterol” Alami
Apel mengandung pektin, yaitu serat larut yang membantu mengikat kolesterol di usus agar tidak terlalu banyak diserap tubuh. Sebuah penelitian dalam European Journal of Nutrition menemukan bahwa konsumsi apel secara rutin membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (“kolesterol jahat”) dan memperbaiki kesehatan pembuluh darah.
Dalam bahasa sederhana, apel membantu tubuh “menyapu” sebagian lemak sebelum menetap terlalu lama di pembuluh darah.Pepaya: Penolong Lambung Setelah “Pesta Daging”
Setelah makan sate, sop konro, atau gulai bersantan, lambung sering terasa penuh dan berat. Pepaya membantu sistem pencernaan bekerja lebih ringan karena mengandung enzim papain dan serat.
Penelitian di Neuro Endocrinology Letters menunjukkan pepaya membantu mengurangi keluhan pencernaan seperti kembung dan konstipasi. Karena itu pepaya sangat baik dikonsumsi setelah makan berat.
Semangka: “Pendingin Tubuh” Saat Hari Raya
Saat Idul Adha, banyak orang akan kita dapati kurang minum, terlalu banyak makan asin, dan minim aktivitas. Semangka membantu tubuh mendapatkan kembali cairan karena lebih dari 90% kandungannya adalah air.
Penelitian dari University of Alabama menunjukkan kandungan citrulline pada semangka membantu kesehatan pembuluh darah dan tekanan darah. Tubuh yang cukup cairan akan bekerja lebih ringan dalam mengolah makanan tinggi lemak.
Jeruk: Pelindung Pembuluh Darah
Jeruk kaya vitamin C dan antioksidan yang membantu melindungi pembuluh darah dari stres oksidatif akibat pola makan tinggi lemak. Penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan konsumsi buah sitrus berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Selain itu, jeruk membantu tubuh terasa lebih segar setelah konsumsi makanan berat.
Perspektif Islam
Di sinilah sebenarnya Islam mengajarkan keseimbangan yang luar biasa. Allah berfirman:“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini bukan hanya nasihat spiritual, tetapi juga sangat relevan secara kesehatan masyarakat. Banyak masalah metabolik muncul bukan karena makanan tertentu semata, tetapi karena pola konsumsi yang berlebihan dan tidak seimbang.
Tubuh manusia sebenarnya tidak marah pada daging kurban. Yang membuat tubuh “protes” adalah ketika manusia: makan terlalu banyak, terlalu sering, minim serat, kurang bergerak, dan lupa minum air.
Karena itu Idul Adha seharusnya bukan hanya momentum menikmati daging, tetapi juga momentum belajar mengatur diri. Prinsip sehatnya sederhana, daging jangan sendirian di piring. Tambahkan buah. Tambahkan sayur.
Banyak minum air putih. Dan setelah makan besar, jangan langsung rebahan. Kadang kesehatan tidak rusak karena makanan mahal, tetapi karena kita lupa berhenti sebelum tubuh kewalahan. Dan mungkin benar, nikmat terbesar bukanlah banyaknya makanan di meja makan. Tetapi tubuh yang masih mampu menikmati semuanya dalam keadaan sehat.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447, Salam Sehat & Sukses.
(Dosen Fakultas Kedokteran UMI Makassar / Kepakaran Ilmu Gizi Kesehatan Masyarakat dan Sumber Daya Keluarga)
SETELAH Pesta Daging, Tubuh Kita Diam-Diam Mencari “Penolong” Idul Adha selalu menghadirkan aroma yang sama: Ada Opor ayam, Sop Daging, Coto, Konro, Rendang, hingga sate yang dibakar sejak pagi, gulai mendidih di dapur, dan kulkas mendadak penuh daging.
Namun ada satu hal yang sering tidak disadari masyarakat setelah “pesta daging” selesai, tubuh sebenarnya sedang bekerja keras di dalam diam.
Lemak masuk lebih banyak. Garam meningkat. Sistem pencernaan bekerja ekstra. Dan pembuluh darah mulai menerima beban yang lebih berat dari biasanya. Karena itu menarik sekali melihat bagaimana alam menyediakan “penyeimbang” yang sederhana: buah-buahan.
Mungkin selama ini kita menganggap buah hanya pelengkap meja makan. Padahal beberapa buah bekerja seperti “tim pembersih” alami dalam tubuh.
Berikut buah “penolong” di momen Hari Idul Adha:
Alpukat, Lemak yang Justru Menolong Jantung
Banyak orang takut makan alpukat karena dianggap berlemak. Padahal alpukat kaya lemak tak jenuh tunggal yang membantu meningkatkan kolesterol baik (HDL).
Penelitian yang dipublikasikan dalam Journal of the American Heart Association menunjukkan bahwa konsumsi alpukat setiap hari dapat membantu menurunkan LDL pada orang dengan berat badan berlebih. Masalahnya sering bukan pada buahnya, tetapi pada gula dan susu berlebihan yang ditambahkan.
Apel: “Sapu Kolesterol” Alami
Apel mengandung pektin, yaitu serat larut yang membantu mengikat kolesterol di usus agar tidak terlalu banyak diserap tubuh. Sebuah penelitian dalam European Journal of Nutrition menemukan bahwa konsumsi apel secara rutin membantu menurunkan kadar kolesterol LDL (“kolesterol jahat”) dan memperbaiki kesehatan pembuluh darah.
Dalam bahasa sederhana, apel membantu tubuh “menyapu” sebagian lemak sebelum menetap terlalu lama di pembuluh darah.Pepaya: Penolong Lambung Setelah “Pesta Daging”
Setelah makan sate, sop konro, atau gulai bersantan, lambung sering terasa penuh dan berat. Pepaya membantu sistem pencernaan bekerja lebih ringan karena mengandung enzim papain dan serat.
Penelitian di Neuro Endocrinology Letters menunjukkan pepaya membantu mengurangi keluhan pencernaan seperti kembung dan konstipasi. Karena itu pepaya sangat baik dikonsumsi setelah makan berat.
Semangka: “Pendingin Tubuh” Saat Hari Raya
Saat Idul Adha, banyak orang akan kita dapati kurang minum, terlalu banyak makan asin, dan minim aktivitas. Semangka membantu tubuh mendapatkan kembali cairan karena lebih dari 90% kandungannya adalah air.
Penelitian dari University of Alabama menunjukkan kandungan citrulline pada semangka membantu kesehatan pembuluh darah dan tekanan darah. Tubuh yang cukup cairan akan bekerja lebih ringan dalam mengolah makanan tinggi lemak.
Jeruk: Pelindung Pembuluh Darah
Jeruk kaya vitamin C dan antioksidan yang membantu melindungi pembuluh darah dari stres oksidatif akibat pola makan tinggi lemak. Penelitian dalam American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan konsumsi buah sitrus berkaitan dengan penurunan risiko penyakit jantung. Selain itu, jeruk membantu tubuh terasa lebih segar setelah konsumsi makanan berat.
Perspektif Islam
Di sinilah sebenarnya Islam mengajarkan keseimbangan yang luar biasa. Allah berfirman:“Makan dan minumlah, tetapi jangan berlebihan.”
(QS. Al-A’raf: 31). Ayat ini bukan hanya nasihat spiritual, tetapi juga sangat relevan secara kesehatan masyarakat. Banyak masalah metabolik muncul bukan karena makanan tertentu semata, tetapi karena pola konsumsi yang berlebihan dan tidak seimbang.
Tubuh manusia sebenarnya tidak marah pada daging kurban. Yang membuat tubuh “protes” adalah ketika manusia: makan terlalu banyak, terlalu sering, minim serat, kurang bergerak, dan lupa minum air.
Karena itu Idul Adha seharusnya bukan hanya momentum menikmati daging, tetapi juga momentum belajar mengatur diri. Prinsip sehatnya sederhana, daging jangan sendirian di piring. Tambahkan buah. Tambahkan sayur.
Banyak minum air putih. Dan setelah makan besar, jangan langsung rebahan. Kadang kesehatan tidak rusak karena makanan mahal, tetapi karena kita lupa berhenti sebelum tubuh kewalahan. Dan mungkin benar, nikmat terbesar bukanlah banyaknya makanan di meja makan. Tetapi tubuh yang masih mampu menikmati semuanya dalam keadaan sehat.
Selamat Hari Raya Idul Adha 1447, Salam Sehat & Sukses.
(GUS)
Berita Terkait
News
TikTokisasi Pendidikan dan Menurunnya Budaya Membaca
Budaya membaca di kalangan mahasiswa tampaknya terus mengalami penurunan. Sebaliknya, mereka semakin akrab dengan berbagai platform media sosial yang menyajikan informasi secara cepat, singkat, dan instan.
Rabu, 15 Jul 2026 15:39
News
Dilema Dakwah Digital: Viral di TikTok Saja Tak Cukup Menjaga Iman Gen Z
Sebuah video berdurasi kurang dari satu menit tiba-tiba memenuhi linimasa jutaan pengguna TikTok Indonesia.
Kamis, 02 Jul 2026 16:39
News
Antara Langit Takdir dan Bumi Usaha: Tafsir Spiritual QS.11: 6
Di tengah dunia yang makin cepat, rezeki sering terasa seperti sesuatu yang harus dikejar tanpa henti. Orang bekerja siang malam, mengejar peluang, bersaing di pasar kerja, bahkan berlomba di ruang digital. Namun di balik semua itu, ada kegelisahan yang sama: Apakah rezeki saya cukup?
Selasa, 23 Jun 2026 05:40
News
Keistimewaan Muharram
Pekan ini di Masjid Al Ukhuwwah Makassar, dua kali kajian tentang keistimewaan Muharram. Disampaikan oleh Ust. Faizal dan Ust Marzuki Umar. Tulisan ini mencoba merangkum dengan judul Keistimewaan Muharram
Minggu, 21 Jun 2026 08:59
News
Dari Sila ke Sila, dari Jiwa ke Jiwa: Menyulam Indonesia dalam Cahaya Tauhid
TANGGAL 1 Juni bukan sekadar penanda lahirnya Pancasila. Ia adalah momentum untuk bertanya kepada diri sendiri: sejauh mana nilai-nilai Pancasila masih hidup dalam kesadaran kita sebagai bangsa?
Senin, 01 Jun 2026 06:10
Berita Terbaru
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Himatik FT-UNM Resmi Buka Ice Sport 2026, Diikuti 22 Kelas JTIK
2
Kecam Tindakan Bupati Husniah, DPRD Gowa Tidak akan Lakukan Pemanggilan Ulang
3
PB IPMIL Raya Gandeng DPRD Sulsel Kawal Pembangunan Luwu Raya
4
Pemkab Gowa Perkuat Kualitas Data Statistik Sektoral Lewat Evaluasi EPSS
5
DPRD Makassar Dukung Mitigasi Kekeringan, Dorong Maksimalisasi Air Bersih dan BTT
Artikel Terpopuler
Topik Terpopuler
1
Himatik FT-UNM Resmi Buka Ice Sport 2026, Diikuti 22 Kelas JTIK
2
Kecam Tindakan Bupati Husniah, DPRD Gowa Tidak akan Lakukan Pemanggilan Ulang
3
PB IPMIL Raya Gandeng DPRD Sulsel Kawal Pembangunan Luwu Raya
4
Pemkab Gowa Perkuat Kualitas Data Statistik Sektoral Lewat Evaluasi EPSS
5
DPRD Makassar Dukung Mitigasi Kekeringan, Dorong Maksimalisasi Air Bersih dan BTT